Yang Terasing dalam Mata Kamera: 5 Film Pilihan Cate Blanchett di TIFF JP 2026
Pengungsi sering kali hadir dalam pemberitaan sebagai angka, krisis kemanusiaan, atau gelombang manusia yang melintasi perbatasan. Namun, bagaimana jika kita melihatnya melalui kehidupan sehari-hari orang-orang yang mengalaminya—melalui tubuh yang menyimpan trauma, persahabatan, ruang aman, hingga kesulitan menemukan kembali bahasa untuk menulis?
Pertanyaan itu terasa relevan dalam pemutaran lima film pendek yang didukung Displacement Film Fund (DFF) di Festival Film Internasional Tokyo (TIFF) ke-39, Jumat, 30 Oktober 2026. Bertempat di Hulic Hall Tokyo, program ini menghadirkan Japan premiere dari lima film yang sebelumnya melakukan world premiere di International Film Festival Rotterdam (IFFR) pada Januari 2026.
DFF merupakan inisiatif yang diprakarsai aktor dan produser Cate Blanchett bersama Hubert Bals Fund dari IFFR. Dana ini mendukung sineas yang mengalami pengungsian maupun pembuat film dengan rekam jejak dalam mengangkat pengalaman orang-orang yang terusir dari tempat tinggalnya. UNIQLO jadi salah satu mitra pendiri, bersama sejumlah organisasi dan yayasan lainnya.
Melalui skema percontohan, lima sutradara masing-masing menerima hibah produksi sebesar 100.000 euro. Hasilnya adalah kumpulan film dengan bentuk dan pendekatan yang beragam: dari dokumenter tentang dua sahabat asal Suriah hingga komedi sosial tentang perempuan-perempuan Afghanistan yang berolahraga di sebuah gym.
Bukan Sekadar Film tentang Pengungsi
Kelima film tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman pengungsi (refugee) tidak selalu harus diceritakan melalui adegan perang, perjalanan melintasi perbatasan, atau penderitaan di kamp pengungsian.
Rotation – Maryna Er Gorbach
Dalam Rotation (12 menit), sutradara Ukraina Maryna Er Gorbach mengikuti seorang perempuan muda yang beralih dari kehidupan sipil ke dinas militer. Melalui ritual hipnosis terapeutik, film ini menggambarkan upayanya menyesuaikan diri dengan realitas hidup yang berubah setelah pengalaman tersebut. Alih-alih mengandalkan gambaran peperangan, Gorbach mengarahkan perhatian pada trauma dan kebutuhan seseorang untuk memulihkan dirinya.
Super Afghan Gym – Shahrbanoo Sadat
Nada yang berbeda muncul dalam Super Afghan Gym (14 menit) karya Shahrbanoo Sadat. Berlatar sebuah pusat kebugaran di Kabul, film ini mengikuti sekelompok ibu rumah tangga yang berkumpul pada satu-satunya jam latihan yang diperuntukkan bagi perempuan. Di balik aktivitas olahraga, mereka berbagi cerita tentang kehidupan sehari-hari dan standar tubuh yang membebani perempuan. Dengan pendekatan komedi sosial, Sadat menghadirkan ruang kecil tempat perempuan dapat bercakap-cakap, tertawa, dan membangun solidaritas.
Allies in Exile – Hasan Kattan dan Fadi Al-Halabi
Allies in Exile (40 menit) karya Hasan Kattan dan Fadi Al-Halabi membawa penonton ke pengalaman dua jurnalis Suriah yang telah bersahabat selama 14 tahun. Setelah pernah merekam perang bersama, keduanya kini menghadapi babak berbeda: menunggu kepastian status suaka di Inggris. Di tengah birokrasi dan sentimen anti-pengungsi, kamera menjadi cara mereka merekam ketidakpastian sekaligus mempertahankan persahabatan.
Whispers of a Burning Scent – Mo Harawe
Dalam Whispers of a Burning Scent (28 menit), Mo Harawe menyoroti seorang musisi pernikahan yang kehidupan pribadinya mendadak menjadi bahan penghakiman publik. Ketika ia menghadapi sidang pengadilan, hubungan perkawinannya, penilaian keluarga, dan rasa bersalah saling bertaut. Film ini memperlihatkan bagaimana persoalan yang sangat personal dapat berubah menjadi urusan publik ketika seseorang harus mempertanggungjawabkan hidupnya di hadapan orang lain.
Sense of Water – Mohammad Rasoulof
Film terakhir, Sense of Water (39 menit), karya Mohammad Rasoulof, mengangkat keterasingan melalui bahasa. Seorang penulis Iran yang hidup di pengasingan harus belajar kembali merasakan cinta, kemarahan, kebahagiaan, dan kesedihan dalam bahasa asing. Bagi seorang penulis, persoalan ini bukan sekadar kesulitan berkomunikasi. Bahasa juga menyimpan nuansa dan ingatan yang tidak selalu bisa dipindahkan utuh melalui terjemahan. Rasoulof, sutradara The Seed of the Sacred Fig (2024), mengaku proyek ini membebaskannya dari ketakutan berkarya di luar Iran.
Dari Korban Menjadi Manusia Seutuhnya
Setelah pemutaran, Blanchett hadir bersama Rasoulof dan Sadat dalam sesi percakapan dengan penonton. Ia bercerita bahwa gagasan DFF menguat setelah pertemuannya dengan para sineas berbakat yang terpaksa meninggalkan negara asal mereka. Ia ingin mereka tetap memiliki kesempatan untuk bekerja dan berkarya. Format film pendek dipilih karena memberi ruang eksperimentasi dengan batasan produksi yang relatif lebih sederhana.
Rasoulof melihat migrasi sebagai pengalaman yang dapat membuka kesempatan untuk mengenal budaya lain. Namun, ketika seseorang harus pergi bukan atas kehendaknya sendiri, pengalaman itu juga dapat menjadi pahit. Melalui Sense of Water, ia mencoba memahami dari mana rasa keterasingan tersebut berasal.
Sadat, yang memiliki pengalaman panjang sebagai pengungsi, menyampaikan gagasan yang lebih personal: rumah, baginya, adalah tubuhnya sendiri. Ia juga berbicara tentang bagaimana seksisme dan patriarki dapat membuat perempuan sulit menerima tubuhnya. Pengalaman itulah yang menjadi salah satu pijakan Super Afghan Gym.
Aktor Koji Yakusho, yang hadir sebagai tamu spesial, turut mengapresiasi film-film tersebut. Ia menyebut Sense of Water sebagai karya yang tenang dan indah. Namun, ia juga menyoroti kehangatan Super Afghan Gym: melihat perempuan-perempuan di Kabul berolahraga dan menjalani kehidupan sehari-hari terasa kontras dengan gambaran kota yang selama ini kerap hadir dalam pemberitaan perang.
Di Tokyo Midtown Hibiya Hall, Blanchett dan Managing Director IFFR Clare Stewart kembali membicarakan tujuan lebih luas dari inisiatif ini. Blanchett menekankan pentingnya menghadirkan karakter-karakter yang tidak semata-mata didefinisikan sebagai pengungsi. Mereka adalah ibu, istri, pekerja, seniman, dan individu dengan kehidupan yang jauh lebih kompleks daripada label yang dilekatkan kepada mereka.
Pentingnya gagasan itu terasa ketika Sadat menanggapi pertanyaan mengenai perubahan aturan Academy Awards yang memungkinkan sineas berstatus pengungsi atau pencari suaka memenuhi ketentuan tertentu dalam kategori International Feature Film. Ia mengaku memiliki perasaan campur aduk. Di satu sisi, pengakuan industri film tentu penting. Namun, ia juga khawatir identitas “displaced” justru menjadi label yang membatasi cara orang membaca karyanya.
DFF kini memasuki siklus kedua dengan lima penerima hibah baru, termasuk sutradara Palestina Annemarie Jacir dan sineas Kamboja Rithy Panh. Dukungan semacam ini tentu tidak dapat menyelesaikan persoalan pengungsian atau menggantikan kebutuhan akan perlindungan dan hak-hak para pengungsi. Namun, ia membuka satu ruang penting: kesempatan bagi mereka untuk tetap bercerita, dengan bahasa dan cara bertutur yang mereka pilih sendiri.



















