January 17, 2020
Kumpul Kebo sampai TTM: Dilema Relasi Tanpa Nama

Nilai dan norma sosial di Indonesia membatasi jenis-jenis relasi di luar pernikahan.

by Nicky Stephani
Issues // Relationship
Share:

Ketika nongkrong dengan teman-teman kuliah akhir pekan lalu, obrolan kami tiba-tiba bergulir ke relasi di luar pernikahan. Salah seorang teman nyeletuk bahwa ia dan kekasihnya ingin tinggal seatap sebelum memutuskan untuk menikah. Komentar tersebut sontak memicu keriuhan di geng kami. Salah satu teman lantas bertanya dengan nada menggoda “Oh, jadi lo mau kumpul kebo, nih, ceritanya?”.

Ternyata, celetukan teman saya itu berhasil memancing yang lain untuk menceritakan relasi impian mereka. Ada yang ingin memiliki anak tetapi tidak mau menikah. Ada yang ingin menjalin relasi tanpa embel-embel pacar, tunangan, atau suami-istri.

“Seperti teman baik yang ke mana-mana dan ngapa-ngapain bareng tapi enggak nuntut ini itu,” katanya.

Salah seorang teman perempuan yang mengidentifikasi dirinya heteroseksual berujar ingin berbagi kehidupan dengan laki-laki homoseksual. Menurutnya, laki-laki gay lebih enak diajak curhat, lebih bisa memahami perasaan perempuan, dan lebih aman karena tidak ada ketertarikan seksual pada lawan jenis.

Perbincangan pun terpaksa kembali ke realitas. Kesimpulan masing-masing kurang lebih sama: bisa tapi susah kalau di Indonesia. Bisa, karena setiap orang berhak menentukan dengan siapa dirinya menjalin relasi dan tipe relasi seperti apa yang mau dijalani. Susah, karena ini Indonesia, bukan negara Barat yang liberal dan individualistis dalam menyikapi relasi antar individu.

Komentar yang kemudian muncul pun penuh kegelisahan (kalau tidak mau dibilang putus asa). “Apa kata keluarga gue kalau gue ketahuan tinggal bareng sama laki tapi enggak married? Bisa-bisa gue dirajam” atau “Nanti digerebek tetangga, dibilang zina, terus diarak keliling kampung.”

Apa yang dikhawatirkan oleh teman-teman saya mungkin saja terjadi dan mungkin juga tidak. Menurut mereka, tipe relasi yang bagi sebagian besar orang tidak umum itu pada akhirnya akan berhadapan dengan nilai dan norma sosial. Tapi apakah kita harus selalu mengembalikan semua urusan kepada moralitas? Persoalan relasi antarindividu mencakup berbagai dimensi, lebih dari sekadar privasi dan moralitas. Kita harus beranjak dari problematika moral tentang relasi dan beralih ke dimensi yang lain, yaitu nama dan makna.

Baca juga: Istri Lempar Kode di Status Media Sosial: Ciri Hubungan Tak Setara

Pentingnya sebuah nama

Manusia memiliki kemampuan untuk menamai objek sejak masa penciptaan. Pemaknaan terhadap suatu objek memunculkan sistem penamaan sebagai simbol yang merepresentasikan objek tersebut. Sebagai simbol, nama tidak dapat diberikan begitu saja. Ia perlu disepakati dan diakui oleh orang-orang yang menggunakannya.

Tipe-tipe relasi yang kita kenal selama ini memiliki nama. Individu yang kita suka dan kenal dengan baik tetapi bukan termasuk anggota keluarga, kita sebut sebagai sahabat. Individu yang dengannya kita mempunyai hubungan romantis yang didasarkan pada cinta kasih, kita namakan sebagai pacar atau kekasih. Sedangkan individu yang kita nikahi, kita panggil dengan sebutan suami atau istri. Persahabatan, pacaran, dan pernikahan adalah beberapa contoh relasi yang memiliki nama dan karenanya dapat kita sikapi. Lalu, bagaimana dengan tipe-tipe relasi yang diperbincangkan teman-teman saya? Tipe relasi tersebut belum memiliki nama yang disepakati sehingga kita kebingungan memaknai dan menyikapinya.

Kemudian muncullah istilah seperti kumpul kebo, yaitu relasi antara dua orang yang hidup bersama tetapi tidak berada dalam ikatan perkawinan. Kumpul kebo berasal dari kata koempoel gebouw yang sudah digunakan sejak zaman penjajahan Belanda. Koempoel adalah Bahasa Melayu ejaan lama dari kumpul, sedangkan gebouw adalah Bahasa Belanda dari atap. Penggabungan kedua kata tersebut melahirkan arti kumpul di bawah satu atap. Pengalaman sebagai petani dan peternak membuat lidah orang Indonesia kemudian lebih fasih menyebut kata kebo, dari kerbau, daripada gebouw.

Mendengar istilah kumpul kebo menimbulkan perasaan yang berbeda dibanding saat mendengar istilah persahabatan, pacaran, atau pernikahan. Sebagian orang mungkin akan mengernyitkan dahi dan sebagian lagi mungkin akan bersikap tak acuh. Pertanyaannya, mengapa nama yang sama, kumpul kebo, dapat menimbulkan respons yang berbeda?

Manusia saja sekurang-kurangnya memiliki dua nama, yaitu nama asli yang sesuai dengan KTP atau akta lahir dan nama panggilan atau alias yang biasanya menyesuaikan dengan lingkup pergaulan. Mengapa relasi tidak?

Nama, sebagai bagian dari bahasa, adalah persoalan kuasa. Pierre Bourdieu dalam bukunya Language and Symbolic Power (1991) menjelaskan bahwa mereka yang memiliki kekuasaanlah yang berwenang memberikan nama. Nama seorang anak adalah pemberian orang tuanya. Itu artinya orang tua adalah pihak yang berkuasa atas anak tersebut sehingga mereka lah yang berhak memberikan nama. Dalam konteks relasi, pihak yang berkuasa adalah mereka yang menganut norma umum. Sejauh ini, relasi yang dijadikan norma bersifat heteronormatif dan didasarkan pada ada tidaknya hubungan seksual di dalamnya. Bentuk relasi yang umum adalah melibatkan dua orang dengan jenis kelamin yang berbeda. Jika ada relasi yang tidak mengikuti aturan tersebut, maka akan dimaknai menyimpang.

Seksualitas sering kali dijadikan pembeda dalam relasi manusia. Selain jenis kelamin, hubungan seksual juga seolah menjadi batasan kategori relasi. Relasi persahabatan biasanya tidak melibatkan hubungan seksual. Kalau sudah pacaran, bisa jadi mereka berhubungan seksual. Sedangkan kalau sudah menikah, mereka pasti sudah melakukan hubungan seksual. Dari pengelompokan tersebut terlihat jelas bahwa seksualitas menjadi sah dan normal dilakukan di dalam relasi pernikahan, tetapi tidak untuk relasi persahabatan dan pacaran. Lalu, bagaimana jika ada pasangan yang hidup bersama tanpa adanya ikatan pernikahan?

Hingga saat ini, kumpul kebo dimaknai menyimpang karena yang menamai relasi tersebut berasal dari kelompok heteronormatif yang dominan di masyarakat. Kalau kondisinya dibalik, misal yang memberi nama adalah kelompok yang tidak menjadikan ikatan pernikahan sebagai norma, mungkin istilah kumpul kebo tidak akan pernah ada dan wacana tentang relasi di luar pernikahan tidak akan sampai membuat orang memicingkan mata. Sayangnya, sekarang belum gilirannya.

Tak bernama tapi tetap bermakna

Ada lagi pola relasi abu-abu, yang merujuk pada kondisi relasi tanpa batasan yang jelas atau tidak bisa dikategorikan ke dalam satu tipe relasi yang sudah memiliki nama. Contohnya Teman Tapi Mesra alias TTM, yang mengacu pada relasi yang kedekatannya melebihi persahabatan tetapi belum sampai pada tahap pacaran atau tanpa embel-embel pacar. Pasangan TTM biasanya tidak mau disebut sebagai pacar meskipun dari kacamata umum keduanya mesra layaknya sepasang kekasih. Kalau sudah begini, kita tidak bisa mengelompokkan mereka ke tipe relasi persahabatan maupun pacaran. Tapi relasi tersebut nyatanya ada dan masyarakat tidak bisa mengabaikannya, sehingga “dianugerahkanlah” nama TTM kepadanya.

Baca juga: Menikah Itu Tidak Indah

Di luar sana, masih ada tipe-tipe relasi yang belum memiliki nama atau anonim. Dalam hal ini, bahasa menjadi kendaraan sekaligus kendala bagi sistem penamaan. Sejauh ini, kita belum mampu membahasakan dan menyimbolkan relasi-relasi tanpa nama tersebut. Konsekuensi dari keterbatasan ini adalah sulitnya memosisikan relasi-relasi tanpa nama itu dalam interaksi sosial. Sedangkan kecenderungan kita memaksakan mereka menggunakan nama yang sudah ada justru menimbulkan salah kaprah dan ketidaknyamanan.

Mengapa kita kerap memandang bahwa nama itu tunggal? Seolah nama hanya bisa dan layak diberikan oleh pihak yang dominan dan memiliki kuasa, tetapi tidak dari mereka yang menjalani relasi itu sendiri. Tidak bisakah satu relasi memiliki banyak nama yang pemakaiannya menyimbolkan kekhasan? Misal, orang umum boleh menamai relasi ini kumpul kebo, tapi kami juga boleh menyebut ini partnering.

Nama tidak melulu universal. Universalitas untuk kemudahan identifikasi dan generalisasi mungkin dibutuhkan. Tetapi untuk alasan kesesuaian dan kenyamanan, mungkin justru yang dibutuhkan adalah keunikan atau kekhasan. Manusia saja sekurang-kurangnya memiliki dua nama, yaitu nama asli yang sesuai dengan KTP atau akta lahir dan nama panggilan atau alias yang biasanya menyesuaikan dengan lingkup pergaulan. Mengapa relasi tidak?

Mengapa kita kerap menganggap makna itu statis? Makna bersifat intersubjektif karena ia merupakan internalisasi dari faktor-faktor eksternal manusia. Itu artinya jika ada kondisi sosial yang berubah, maka konstruksi makna pun dapat berubah. Jika nantinya ikatan formal dan seksualitas tidak lagi menjadi dasar pengategorian relasi, relasi-relasi alternatif yang sebelumnya senyap karena anonimitasnya bisa menjadi arus utama. Pemaknaan kita terhadap relasi-relasi anonim itu pun lambat laun akan bergeser. Bukankah perubahan adalah hal yang tak terelakkan dalam relasi manusia?

Nicky Stephani adalah dosen Ilmu Komunikasi di Universitas Pembangunan Jaya, Tangerang. Suka mencermati, mengkaji, dan menulis tema gender dan seksualitas di waktu luangnya.