Menolak Jadi Perempuan Seperti Ibu adalah Satu-satunya Caraku Mencintainya
Bunyi ulekan batu yang melumat cabai dan bawang merah adalah jam weker paling konsisten dalam hidup saya. Pukul empat pagi, saat langit masih gelap dan azan Subuh belum berkumandang, Ibu sudah di dapur. Ia memasak, mencuci piring, dan memastikan seragam Bapak licin.
Selama bertahun-tahun, saya mengamati punggung Ibu yang selalu melengkung. Di meja makan, ia mengambil porsi terakhir. Kepala ikan penuh duri atau sayur dingin menjadi pilihannya.
“Ibu tidak suka dagingnya, kalian saja yang makan.”
Dulu, saya mengira itulah cinta. Memberi sampai habis. Mengalah tanpa sisa.
Namun seiring waktu, rasa kagum itu berubah menjadi ketakutan. Saya takut mewarisi punggung yang melengkung itu. Takut hidup sebagai “porsi terakhir”.
Tanpa pernah mengenal istilah seperti Ibuisme Negara, Ibu menjalaninya dengan patuh. Ia tidak punya hobi, tidak punya ruang personal. Gajinya habis untuk kami dan kebutuhan rumah.
“Bapak sedang capek.”
Kalimat yang selalu hadir untuk meredam segalanya.
Detik itu, cara pandang saya runtuh. Kemewahan saya untuk bisa memilih hidup ternyata lahir dari pengorbanannya. Ibu mengecilkan dirinya agar ruang bagi saya menjadi luas.
Baca juga: ‘Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah’: Menonton Pernikahan Sebagai Tokoh Antagonis
Ketika Cinta Tak Lagi Berarti Peniruan
Ketakutan itu kemudian menjelma jarak. Saya menolak belajar memasak. Saya tumbuh menjadi anak perempuan yang kasar, vokal, dan “tidak patuh”.
Setiap kali Ibu menyarankan saya untuk lebih lembut agar “mudah dapat jodoh”, saya membalas dengan argumen tentang patriarki. Saya melihat matanya meredup. Saat itu, saya gagal memahami satu hal penting: Ketidakberdayaan Ibu bukan pilihan, melainkan cara bertahan hidup.
Titik balik datang ketika saya pulang membawa kabar promosi kerja sekaligus keputusan menunda pernikahan.
“Nanti kamu tua sendirian.”
Saya menjawab defensif, hingga Ibu berkata pelan,
“Ibu tahu kamu pintar tapi Ibu takut kamu lelah.”
Detik itu, cara pandang saya runtuh. Kemewahan saya untuk bisa memilih hidup ternyata lahir dari pengorbanannya. Ibu mengecilkan dirinya agar ruang bagi saya menjadi luas.
Kesadaran itu menghadirkan dilema: Bagaimana membalas cinta tersebut? Jawabannya, dengan berat hati, bukan dengan meniru hidupnya.
Jika saya menjalani hidup yang sama, pengorbanannya justru kehilangan makna. Siklus kelelahan hanya akan berulang. Saya memahami satu hal yang terasa bertentangan: Cara terbaik mencintai Ibu adalah dengan menolak menjadi dirinya.
Bu, hidupku yang bebas ini adalah monumen sederhana untukmu.
Baca juga: ‘When Life Gives You Tangerines’: Ketika Romeo-Juliet Cabang Jeju Coba Runtuhkan Patriarki
Menolak bukan berarti membenci. Ini adalah upaya memutus rantai. Saya menuntut pembagian kerja domestik yang adil. Saya memastikan kerja perawatan tidak lagi bergantung pada pengorbanan gratis perempuan. Saya memilih hidup yang dulu tak sempat ia miliki.
Pilihan ini tidak membuat hidup saya sempurna. Ada lelah, ada rindu, ada malam-malam penuh air mata. Namun kini, saya tak lagi membalas kegelisahan Ibu dengan amarah.
Saya hanya tersenyum, menggenggam tangannya, dan berkata dalam hati:
Bu, hidupku yang bebas ini adalah monumen sederhana untukmu.
Saya menjalani hidup yang tak sempat ia miliki. Dengan menjadi perempuan yang utuh, berdaya, dan tidak terus-menerus mengalah, saya sedang melunasi utang cinta itu.
Saya tidak akan mewarisi punggung melengkung Ibu. Saya akan berusaha berdiri tegak—agar kelak, ketika ia lelah, ia tahu ada satu punggung utuh tempatnya bersandar.
Ilustrasi oleh Karina Tungari




















