07/07/2026
Issues Opini Politics & Society Safe Space

Surat Terakhir untuk Mama: Kemiskinan Struktural yang Sandera Perempuan dan Anak

Tragedi bunuh diri anak di NTT membuka kembali persoalan lebih besar, dari kemiskinan struktural, beban ibu tunggal, dan respons negara yang kerap datang terlambat.

  • February 12, 2026
  • 3 min read
  • 2076 Views
Surat Terakhir untuk Mama: Kemiskinan Struktural yang Sandera Perempuan dan Anak

*Peringatan pemicu: Artikel ini tidak bertujuan mendorong tindakan bunuh diri. Jika kamu mengalami krisis emosional atau memiliki pikiran untuk melukai diri, carilah dukungan dan bantuan profesional. Khusus bagi warga Jakarta, layanan kesehatan mental gratis tersedia melalui JakCare (telekonsultasi 24/7 via aplikasi JAKI atau telepon 0800-1500-119), Puskesmas kecamatan, dan RSUD setempat. 

Ketika membaca berita dugaan bunuh diri anak Sekolah Dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), pikiran saya tertuju pada satu sosok: Ibu yang ditinggalkan. 

Bagaimana rasanya membaca surat dari anak sendiri, surat yang mungkin ditulis dengan sisa keberanian terakhir? 

“Mama galo zee. Mama molo ja’o. Galo mata mae rita ee mama. (Artinya: Mama saya pergi dulu. Mama relakan saya pergi. Jangan menangis ya Mama),” tertulis dalam surat yang diduga ditulis YBS, 10, sebelum ia meninggal dunia (29/1). 

Kepada ibunya, korban sempat meminta uang untuk membeli buku dan pena seharga kurang dari Rp10.000. Jawaban yang ia terima sederhana sekaligus menyakitkan: Tidak ada uang. 

Diketahui, MGT adalah ibu tunggal yang bekerja sebagai petani dan buruh serabutan. Ia menafkahi lima anak. Ayah YBS meninggal sebelum anak tersebut lahir, dilansir dari laporan Kompas.id, (3/2). 

Kasus ini bukan sekadar tragedi individual. Ia memperlihatkan bagaimana kemiskinan dan kerentanan sosial bekerja secara sistemik, terutama terhadap perempuan. 

Baca juga: Ada ‘Darah’ YBS di Tangan Negara: Apa Hak Perlindungan Anak di Masa Depan

Kemiskinan yang Tidak Pernah Netral 

Perempuan, khususnya ibu tunggal, merupakan kelompok paling rentan secara ekonomi. Kerja perawatan yang mereka lakukan tidak diakui sebagai kerja produktif, sementara akses ke pekerjaan layak dan perlindungan sosial tetap terbatas. 

Data BPS September 2025 mencatat angka kemiskinan nasional sebesar 8,25 persen atau 23,36 juta orang. NTT termasuk provinsi dengan persentase penduduk miskin tertinggi, yakni 17,50 persen (BPS NTT, 2025). 

Penelitian Nisak and Sugiharti (2020) menunjukkan keterbatasan akses sumber daya akibat ketidaksetaraan gender menempatkan perempuan pada risiko kemiskinan yang lebih besar. 

Dengan kata lain, kerentanan ibu korban tidak hanya dipengaruhi kemiskinan, tetapi juga gendernya. 

Baca juga: Lebih dari Pena dan Buku: Yang Tak Terlihat dari Kematian Anak di NTT

Bantuan yang Terlambat hingga Kebijakan Performatif? 

Pemerintah melalui Kementerian Sosial menyalurkan bantuan sosial senilai Rp9 juta kepada keluarga korban (Antara NTT, 4/2/2026). 

Namun bantuan ini tidak serta-merta menyelesaikan persoalan mendasar. Diketahui, sebelum tragedi terjadi, keluarga korban tidak menerima bansos akibat masalah administrasi kependudukan. 

Ironisnya, pembenahan data baru dilakukan setelah anak meninggal, lapor Kompas.com, (4/2). 

Keterlambatan ini menunjukkan persoalan besar, yakni respons negara terhadap kebutuhan dasar kelompok rentan yang super lambat. 

Kasus ini juga menyoroti jarak antara kebijakan dan realitas hidup keluarga miskin. Kebutuhan dasar seperti buku, pena, atau ongkos sekolah sering kali luput dari perhitungan kebijakan makro. 

Di sisi lain, berbagai laporan menunjukkan tekanan pada alokasi belanja pendidikan dan perlindungan perempuan. Pemangkasan anggaran berisiko mempersempit ruang pemenuhan hak dasar kelompok rentan. 

Padahal, berbagai penelitian menegaskan kesejahteraan ibu memiliki dampak langsung pada tumbuh kembang anak. Ketika ibu tidak memiliki pendapatan stabil dan jaminan sosial, anak-anak menanggung konsekuensinya. 

Baca juga: Poligami dan Janji Palsu Kesetaraan di Mata Hukum

Kasus bunuh diri anak di NTT mengingatkan kita, anak tidak tumbuh dalam ruang hampa. Mereka tumbuh dalam keluarga, dan pada banyak keluarga, ibu adalah penyangga utama kehidupan. 

Karena itu, jika ingin melindungi anak-anak, perhatian pertama perlu diarahkan pada ibu—terutama ibu tunggal dalam keluarga miskin. 

Penguatan jaminan sosial, perlindungan ekonomi, serta pengakuan terhadap kerja perawatan menjadi bagian penting dari upaya tersebut. 

Denty Piawai Nastitie, M.A., adalah jurnalis dan peneliti independen dengan pengalaman lebih dari 12 tahun menulis isu politik, gender, dan hak asasi manusia. Ia merupakan lulusan S2 Religion in Global Politics dari SOAS, University of London. 

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Denty Piawai Nastitie