‘Ghost in the Cell’: Antara Maskulinitas Beracun dan Sistem Lapas yang Opresif
Foto: IMDB
Brutal, mencekam, dan menegangkan, begitu terasa ketika Dimas (Endy Arfian) tiba di Lapas Labuan Angsana. Seluruh narapidana yang berada di halaman belakang penjara, seketika menghentikan aktivitas untuk mengamati Dimas. Sebagian dari mereka kemudian mendekat, menyandarkan tubuh ke jaring pagar untuk mengintimidasi “anak baru”.
Adegan tersebut menggambarkan, situasi lapas dalam Ghost in the Cell (2026) sangat maskulin dan lekat dengan hierarki kekuasaan. Penulis dan sutradara Joko Anwar, juga menampilkannya dengan komplotan narapidana yang punya wilayah masing-masing. Bahkan memiliki satu anggota yang disegani.
Misalnya geng Bimo (Morgan Oey), dikepalai oleh bos mafia bernama Rendra (Ho Yuhang). Atau Anggoro (Abimana Aryasatya), yang adalah pentolan dari kelompok bersama empat teman baiknya. Keberadaan mereka menunjukkan, siapa yang paling kuat dan berkuasa di lapas.
Kekuatan dan kekuasaan itu, mencerminkan ekosistem penjara yang merayakan sikap agresif sebagai simbol maskulinitas. Bahkan menjadi satu-satunya cara menunjukkan otoritas. Apalagi, seluruh karakter dalam film ini adalah laki-laki, membuat perilaku yang menunjukkan empati dan kerentanan dianggap lemah. Contohnya Anggoro, yang berulang kali dicap “pahlawan”, karena membantu sesama narapidana.
Baca Juga: Napi Teroris Perempuan: Perannya Disepelekan, Nasibnya Terpinggirkan di Penjara
Enggan Menunjukkan Kerentanan
Secara garis besar, Ghost in the Cell bercerita tentang entitas gaib yang meneror dan membunuh penghuni lapas. Melihat satu per satu rekannya mati, sisi pemberani, tangguh, dan penuh kemarahan yang awalnya menempel pada citra narapidana, perlahan luntur. Mereka mulai panik dan ketakutan, berusaha menghentikan teror, tapi dengan kekerasan.
Tindakan tersebut merefleksikan maskulinitas beracun, karena para tahanan enggan menampilkan emosi, demi mempertahankan ekspektasi sosial bahwa laki-laki harus kuat. Dan relasi antara laki-laki adalah soal kekuasaan, seperti disebutkan penulis Michael Kaufman dalam The Construction of Masculinity and the Triad of Men’s Violence (1987).
Dalam studinya, Kaufman menjelaskan, mengapa relasi laki-laki lekat dengan kekuasaan. Menurutnya, mayoritas laki-laki mengalami kekerasan dalam hidupnya. Contohnya dari hubungan dengan ayah. Ada ayah yang bersikap dominan dan kasar, ada juga yang absen dalam pengasuhan dan tak memberikan afeksi. Atau dari lingkungan bermain semasa kecil, di mana anak laki-laki berkelahi dan diganggu oleh teman-teman.
Pengalaman kekerasan itu membentuk kecemasan dan ketakutan, yang tak bisa diungkapkan laki-laki akibat sistem patriarki. Dampaknya, laki-laki melihat satu sama lain sebagai musuh atau pesaing, sehingga muncul keinginan untuk berkuasa.
Dalam Ghost in the Cell, kita bisa melihatnya dari latar belakang karakter. Bimo tumbuh di lingkungan yang dekat dengan kekerasan. Ayahnya seorang mafia, membuat Bimo dan ibunya didatangi musuh si ayah. Bimo pun belajar berkelahi dari preman di sekitar tempat tinggalnya, kemudian bekerja sebagai penagih utang.
Berbeda dari Bimo, Six (Yoga Pratama) adalah contoh yang ayahnya tidak hadir. Sejak orang tuanya bercerai, ayah Six hanya menelepon sesekali, mengingatkan talenta yang akan Six miliki. Sedangkan ayah tirinya—yang sempat Six teladani—ditangkap karena terlibat korupsi.
Kedua karakter tersebut menggambarkan, bagaimana maskulinitas beracun membuat laki-laki bisa menyembunyikan emosinya di balik kekerasan. Mungkin Bimo dan Six tak pernah punya ruang untuk meregulasi emosi, mengekspresikan perasaannya. Akibatnya, emosi tersebut diluapkan lewat kemarahan dan kekerasan, yang juga terlihat dari warna aura. Bahkan menyebabkan kematian, seperti terjadi pada beberapa narapidana.
Setelah kejadian itu, para narapidana baru belajar meregulasi emosi dengan menari dan berdoa.
Baca Juga: ‘Pengepungan di Bukit Duri’: Ada Kritik Atas Heteronormativitas dan Peran Ayah yang Gagal
Relasi Kuasa, Opresi, dan Hubungan Transaksional dalam Institusi
Selain lewat kekerasan, kekuasaan juga muncul dalam relasi antara kepala lapas, sipir, dan narapidana. Misalnya saat Sapto (Kiki Narendra) memerintahkan Jefry (Bront Palarae), untuk mengamankan informasi tragedi pembunuhan dari tahanan koruptor.
Adegan itu menunjukkan institusi yang tunduk pada kekuatan finansial. Sebagai tahanan eksklusif, koruptor menggelontorkan uang demi hidup nyaman di lapas. Karenanya, lapas harus menjaga informasi dari koruptor supaya institusi mereka tidak kehilangan “pemberi modal”.
Di sini, uang jadi alat negosiasi bagi laki-laki yang punya otoritas, untuk melanggengkan dominasinya. Hukum pun berubah fungsi sebagai pelindung koruptor.
Situasi itu merefleksikan bentuk lain dari maskulinitas di dalam penjara. Jika di sel umum para tahanan harus menggunakan kekerasan fisik agar disegani, di sel eksklusif ini, uang menjadi alatnya. Dengan uang, koruptor bisa memainkan hukum, mengatur kebijakan lapas, serta “membeli” loyalitas sipir demi mengamankan privilese.
Baca Juga: ‘Close’ Hegemoni Maskulinitas yang Membunuh Persahabatan Laki-Laki
Konflik di lapas sebenarnya juga menunjukkan relasi kuasa berlapis. Di depan narapidana, Jefry memperlihatkan kekuasaan dengan mengandalkan kekerasan. Misalnya tak memberikan makan siang dan mematikan listrik seluruh lapas, karena tak ada yang mengaku membunuh dua narapidana. Para tahanan pun tak punya pilihan, selain tunduk pada Jefry.
Relasi kuasa ini menghasilkan kerusakan institusi. Lapas yang seharusnya menjadi ruang bagi narapidana untuk berefleksi, justru menjadi ruang opresif karena kekerasan dipelihara oleh sistem.
Pada akhirnya, Ghost in the Cell bukan sekadar menunjukkan horor dan teror dari entitas gaib. Melainkan maskulinitas beracun yang mendominasi kehidupan para tahanan. Film ini membuat kita bertanya tentang “musuh” yang sebenarnya. Apakah entitas tersebut, atau sistem patriarki yang menghantui kehidupan di lapas?





















