Mufliha Fahmi, Psikolog Klinis, menceritakan bagaimana ruang konselingnya kini diisi oleh orang-orang yang frustasi karena negara. Dari unggahan media sosialnya pada Desember 2025, ia menyebut bahwa sepanjang karirnya, baru kali ini ia menerima klien yang mengalami persoalan kesehatan mental akibat masalah negara. Menyadur BBC Indonesia, Mufliha bilang beberapa klien terpicu berbagai masalah, termasuk peristiwa banjir bandang Sumatera.
“Tapi yang membedakan setahun ini dengan tahun-tahun sebelumnya, betapa yang terjadi sepanjang setahun ini beruntun. Jadi ada pemicu, agak landai, ada pemicu lagi. Seperti itu terus enggak berhenti,” katanya.
Tak hanya dalam ruang konseling Mufliha, Biro Psikologi Her Space, juga mendapat klien serupa. Terutama saat demonstrasi memuncak pada Agustus 2025 lalu, ruang konseling mereka dipenuhi oleh masyarakat yang mengaku terpicu rangkaian peristiwa demonstrasi tersebut. Setidaknya, ada ratusan orang yang konseling pada saat itu. Mulai dari ketidakbecusan pemerintah dalam membuat kebijakan, sampai dampak kerusuhan yang memuncak, beberapa hal tersebut jadi pemicu yang paling sering ditemukan.
Sebuah laporan World Health Organization (WHO) bertajuk “World Mental Health Report: Transforming Mental Health for All” (2022), menyebut bahwa kondisi sosial dan lingkungan hidup memang jadi salah satu faktor yang memengaruhi kesehatan mental seseorang. Mengambil contoh penanganan COVID-19 di beberapa negara, kebijakan yang dibuat pemerintah nyatanya punya pengaruh besar pada kondisi kesehatan mental masyarakat. Kebijakan ini pun mencakup aturan soal ketenagakerjaan, ekonomi, keamanan sosial, sampai stabilitas komunitas. Bagaimana pemerintah menyikapi sebuah isu dalam negara berdampak langsung pada prevalensi gangguan mental masyarakat.
Baca juga: ‘Self Care’ Boleh, Manjakan Diri Berlebihan Jangan
Self-Care sebagai Strategi Bertahan
Di tengah tekanan sosial dan politik tersebut, konseling psikologis menjadi salah satu strategi yang ditempuh masyarakat untuk merawat diri atau self-care. Psikolog Her Space, Luh Ayu Candra Utami, mengatakan kepada Magdalene (24/2), konseling merupakan bentuk perawatan yang masih berada dalam kendali individu.
“Konseling itu self-care ya hitungannya. Suatu perawatan yang bisa diupayakan untuk diri sendiri karena balik lagi, kita enggak bisa merubah sistemnya. Merawat ini kan sesuatu yang bisa kita kontrol ya. Nah ini mungkin bisa jadi salah satu jalan keluar untuk meredakan stres,” kata Luh Ayu.
Senada dengan itu, Adela Witami, Psikolog Klinis Her Space, menyebut konseling berfungsi sebagai strategi bertahan meski efeknya cenderung jangka pendek. Dengan berkonsultasi kepada profesional, individu dapat mengelola stres dan kecemasan agar tidak berkembang menjadi gangguan yang lebih serius.
“Dalam situasi seperti ini, konseling itu hitungannya berguna sementara. Karena balik lagi, akar masalahnya (ketidakstabilan negara) kan masih tetap ada. Tapi setidaknya ini masih jauh lebih baik daripada tidak merawat sama sekali. Karena kalau dibiarkan, stres yang tidak tertangani bisa jadi lebih parah,” imbuh Adela.
Tidak terbatas pada konseling, Psychology Today mendefinisikan self-care sebagai berbagai aktivitas untuk menjaga kesejahteraan fisik, mental, dan emosional. Praktiknya dapat berupa kegiatan sederhana seperti tidur cukup, berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, hingga refleksi diri.
Baca juga: Dari ‘Insecurity’ ke Kapitalisasi: Bagaimana Pilates hingga ‘Gym’ Agresif Sasar Perempuan
Perawatan Diri dan Dimensi Politiknya
Meski berangkat dari kebutuhan personal, self-care juga memiliki dimensi yang lebih luas. Markus Holdo, Profesor Ilmu Politik di Lund University, dalam riset Self-Care as Resistance: Lorde, Foucault, and Playfulness (2025), menggabungkan pemikiran Audre Lorde dan Michel Foucault untuk menunjukkan perawatan diri dapat dipahami sebagai tindakan politik.
Melalui gagasan Audre Lorde, Holdo menjelaskan self-care sebagai upaya mempertahankan hidup di tengah sistem yang membuat tubuh rentan terhadap kelelahan dan rasa sakit. Dalam konteks tersebut, merawat diri menjadi cara menjaga keberlanjutan perjuangan. Bertahan hidup memungkinkan individu tetap memiliki kapasitas untuk bersuara dan terlibat secara sosial.
Pandangan ini juga dibahas dalam Self-Care: An Act of Political Warfare or a Neoliberal Trap? (2017). Riset tersebut menilai perawatan diri dapat menjadi strategi bertahan dalam situasi ketidakadilan struktural, selama tidak dipahami sebagai solusi individual semata. Perawatan diri tidak hanya dimaknai sebagai jeda, tetapi juga sebagai proses memahami sumber tekanan secara kolektif.
Namun, para psikolog menekankan langkah ini tidak menggantikan tanggung jawab struktural. Konseling dan praktik self-care bersifat suportif, bukan solusi permanen terhadap ketidakstabilan sosial dan politik. Selama kebijakan publik belum responsif, ketidakpastian ekonomi masih tinggi, dan krisis sosial terus berulang, tekanan psikologis masyarakat akan tetap muncul.
Baca juga: Merdeka dari ‘Insecurity’ lewat ‘Self-Love’, Mungkinkah?
Laporan WHO turut menegaskan pendekatan kesehatan mental harus bersifat lintas sektor. Artinya, selain intervensi individual, perbaikan sistemik melalui kebijakan yang berpihak pada kesejahteraan sosial menjadi faktor kunci. Stabilitas ekonomi, jaminan sosial, keamanan komunitas, serta tata kelola pemerintahan yang efektif memiliki dampak langsung terhadap kesehatan mental warga.
Dalam situasi negara yang carut marut, self-care dapat menjadi salah satu cara bertahan hidup. Namun pemulihan yang lebih menyeluruh tetap bergantung pada perbaikan kinerja pemerintah dan pembenahan struktural yang menyentuh akar persoalan.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















