Rumah Ketua Serikat Dilempari Telur dan Cairan Seperti Darah, Diduga Teror Setelah Tuntut THR Buat Ojol
Ketua Serikat Pekerja Angkutan Indonesia (SPAI) Lily Pujiati melaporkan dugaan teror yang dialaminya ke Polda Metro Jaya Senin, 9 Februari lalu. Teror tersebut terjadi pada siang hari, 4 Januari. Rumahnya dilempar telur busuk dan cairan menyerupai darah. Lili sendiri menduga pelaku menggunakan kendaraan mobil.
“Hari ini sudah saya laporkan ke pihak berwajib terkait teror yang saya alami,” ujarnya kepada Magdalene saat dihubungi lewat pesan singkat.
Baca Juga: Ketika Demokrasi Digadaikan: Orkestrasi Kekuasaan Lewat Media dan ‘Influencer’
Lily cerita, tanda-tanda intimidasi sebenarnya sudah ia rasakan sejak pagi hari sebelum kejadian. Foto-foto pribadinya beredar luas di sejumlah grup ojek online dan media sosial, disertai pesan-pesan provokatif yang menyerang reputasi dan integritas dirinya secara serentak.

Salah satu pamflet bernada provokatif yang diterima Lily menyebutkan ajakan untuk memboikot dirinya. Dalam pamflet tersebut tertulis, “Boikot Lily!! Lily SPAI bukan ojol. Dia penjual nasi uduk di Jakarta. Lagi cari panggung lewat ojol.”

“Saya di-diskreditkan dengan pesan-pesan propaganda sebagai pribadi yang tidak baik. Saya pikir ini sudah kelewatan,” katanya. Ia meyakini serangan tersebut bertujuan melemahkan perjuangan SPAI dalam menuntut pemenuhan hak Tunjangan Hari Raya (THR) bagi para pengemudi online.
Teror itu terjadi di tengah upaya Lily dan SPAI memperjuangkan hak THR bagi 2.000 anggotanya. Anggota SPAI mayoritas merupakan pekerja transportasi berbasi aplikasi, taksi online, kurir, ojek online, hingga pekerja pengantaran barang, yang bekerja di berbagai perusahaan platform Gojek, Grab, Maxim, Shopee, Lalamove, Delivree, Borzo dan perusahaan sejenis lainnya.
Baca Juga: Perempuan Lintas Generasi di Garda Demokrasi: Dari Dapur ke Jalanan
Selama bertahun-tahun, Lily dikenal aktif mengadvokasi nasib pekerja transportasi online. Ia menyebut, teror yang dialaminya kali ini merupakan yang pertama sepanjang dirinya terlibat dalam gerakan advokasi pekerja.
“Teror ini tidak akan buat saya mundur. Justru lebih semangat dan lebih keras dalam berjuang menuntut hak-hak para pekerja kepada setiap perusahaan pengemudi,” ujarnya,
Lily juga menekankan perusahan platform digital itu memiliki kewajiban untuk memenuhi hak-hak pengemudi. Hal ini karena jelasnya unsur-unsur hubungan kerja antara perusahaan dan pengemudi yang jelas tertanam di sistem aplikasi yang digunakan.
“Semua unsur hubungan kerja sudah ada dan tertanam di aplikasi pengemudi,” ujarnya.
Ia berharap, perusahaan-perusahaan platform segera memenuhi kewajibannya terhadap para pengemudi, khususnya terkait THR. Selain itu, Lily juga meminta aparat penegak hukum menindaklanjuti laporan teror yang dialaminya secara serius.
Baca Juga: Antara Kritik dan Makar: Saat Negara Gagal Bedakan Pendapat dan Ancaman
Kasus serupa juga dialami aktivis dan figur publik yang memang kerap terjadi. Beberapa di antaranya berupa pengiriman bangkai babi, ayam, telur busuk, hingga serangan molotov. Sejumlah korban, seperti Fransisca Rosana, jurnalis Tempo, influencer Sherly, aktivis Muhammad Iqbal dari Greenpeace, influencer Oposipit, serta DJ Dony yang rumahnya sempat dibom molotov, telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak berwajib.





















