07/07/2026
Issues

5 Artikel Pilihan: Cerita dari Namblong Papua, Jalan Berlubang di Karawang, hingga Menolak Jadi Perempuan seperti Ibu

Redaksi Magdalene merangkum lima berita pilihan untuk pekan ini, mulai dari cerita dari mama-mama di Namblong Papua, hingga jalan berlubang di Karawang.

  • February 13, 2026
  • 3 min read
  • 1088 Views
5 Artikel Pilihan: Cerita dari Namblong Papua, Jalan Berlubang di Karawang, hingga Menolak Jadi Perempuan seperti Ibu

1.  Cara Berbeda Lawan Sawit, Cerita Mama-mama dari Namblong Papua 

Rosita, 45, memerhatikan perubahan di lingkungan tempat tinggalnya di Kampung Namblong, Kabupaten Jayapura. Ia menyebut keberadaan satwa seperti cendrawasih, kasuari, dan kuskus semakin jarang terlihat sejak perusahaan perkebunan sawit, termasuk PT Permata Nusa Mandiri (PNM) dan PT Rimba Matoa Lestari, masuk ke wilayah tersebut. Aktivitas perusahaan dinilai berdampak pada hutan dan tanah adat yang selama ini menjadi ruang hidup masyarakat sekaligus habitat satwa.  

Baca artikel selengkapnya di sini

2.  Mewariskan ‘Surga’ di Meja Makan: Revolusi Hijau Perempuan Lintas Iman

Saya berkunjung ke Pesantren Ekologi Ath-Thaariq, Tarogong Kidul, Kabupaten Garut, akhir Desember 2025. Ini kali pertama saya ke sana setelah sebelumnya cuma membaca berita tentang pesantren yang ditahbiskan sebagai representatif family farming decade oleh Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) periode 2018-2028 tersebut.

Pukul 14.00 WIB, kendaraan saya parkir di tepi jalan utama karena akses menuju pesantren hanya bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki. Kurang lebih 600 meter, saya menyusuri jalur bekas rel kereta yang dipenuhi rumput liar di kiri dan kanan. Di ujung jalan setapak itu berdiri satu-satunya kompleks bangunan tanpa papan penanda mencolok.

Baca artikel selengkapnya di sini.  

3.Begini Rasanya Hidup di Kota dengan Jalan yang Selalu Rusak: POV Ibu di Karawang

Sebagai warga Karawang, saya merasakan kegelisahan yang mungkin akrab bagi banyak orang. Jalan berlubang bukan hanya soal aspal rusak, tetapi menyangkut rasa aman pelan-pelan hilang. 

Sebagai ibu, kegelisahan itu terasa lebih kompleks. Melintasi jalanan berlubang selain enggak nyaman juga bikin saya takut. Terlebih ketika harus membawa bayi saya yang baru berusia empat bulan. Lubang-lubang kami temui di berbagai ruas jalan. Pada malam hari, sebagian jalan nasional dan provinsi bahkan nyaris tak terlihat karena lampu jalan enggak berfungsi, atau lebih parah, enggak ada sama sekali. 

Simak artikelnya di sini

4.Dear ‘Pawrents’, Biarkan Kucing Menjadi Dirinya Sendiri 

Setiap kali melihat kucing diberi identitas oleh pemiliknya, entah berupa kalung, pakaian, topi, atau aksesori lain, saya enggak merasa itu lucu tapi justru sedih. Imaji tentang kucing sebagai makhluk lincah, mandiri, dan penuh insting perlahan bergeser menjadi keprihatinan. 

Praktik yang kerap dibungkus sebagai bentuk kasih sayang itu, di mata saya, lebih menyerupai penjinakan berlebihan, bahkan perbudakan dalam bentuk halus. Sebab, kucing tidak lagi hadir sebagai dirinya, melainkan ditata agar selaras dengan selera dan imajinasi manusia. 

Baca artikel lengkapnya di sini

5. Menolak Jadi Perempuan Seperti Ibu adalah Satu-satunya Caraku Mencintainya

Bunyi ulekan batu yang melumat cabai dan bawang merah adalah jam weker paling konsisten dalam hidup saya. Pukul empat pagi, saat langit masih gelap dan azan Subuh belum berkumandang, Ibu sudah di dapur. Ia memasak, mencuci piring, dan memastikan seragam Bapak licin. 

Selama bertahun-tahun, saya mengamati punggung Ibu yang selalu melengkung. Di meja makan, ia mengambil porsi terakhir. Kepala ikan penuh duri atau sayur dingin menjadi pilihannya. 

Baca artikel selengkapnya di sini

About Author

Magdalene