Tips dari Kami, Perempuan yang Langganan Listrik Mati di Sumatera
Beberapa hari usai pemadaman listrik besar-besaran di Sumatera Utara, kakak perempuan saya singgah ke rumah. Kami tinggal di wilayah berbeda, tetapi topik pertama yang kami bahas sama: Pemadaman listrik tanpa aba-aba. Hingga hari ini, sejumlah wilayah masih menghadapi pemadaman bergilir.
Meski mengalami peristiwa yang sama, kami menghadapi situasi yang berbeda.
Kakak saya membuka warung kecil di rumah. Sebelum listrik padam, ia sudah menyiapkan air bersih, mengisi ember hingga penuh, mengosongkan kulkas, dan menyediakan lilin. “Stok lilin terjual habis,” katanya enteng.
Di rumah saya, situasinya berbeda. Listrik tiba-tiba padam setelah Magrib. Anak saya berteriak dari kamar mandi karena takut. Saya bergegas mencari lilin dan hanya mendapatkan dua batang karena warga lain juga sedang mencarinya. Informasi resmi pun tak segera datang.
Satu hingga dua jam kemudian, kami baru mengetahui pemadaman tersebut bukan mati lampu biasa, melainkan blackoutbesar. Informasi itu datang dari keluarga dan percakapan warga, bukan dari saluran resmi yang mudah diakses. Banyak orang masih saling bertanya, “Kalau blackout, matinya lama?”
Belakangan saya mengetahui kakak bisa bersiap lebih dulu karena anaknya yang bekerja di lingkungan PLN sempat mengingatkan agar berjaga-jaga. Kemungkinan akan ada pemadaman dalam satu atau dua hari, begitu kira-kira.
Pengalaman menghadapi pemadaman listrik memang bukan hal baru bagi sebagian warga Sumatera seperti kami. Pada Mei 2026, blackout massal sempat melumpuhkan pasokan listrik di sejumlah wilayah Sumatera dan memengaruhi kehidupan sehari-hari warga selama beberapa hari. Karena itu, ketika kabar pemadaman mulai beredar, banyak keluarga sudah memiliki cara masing-masing untuk bersiap menghadapi kemungkinan terburuk.
Namun semakin sering saya menghadapi pemadaman listrik, semakin muncul satu pertanyaan: Mengapa warga terus dituntut untuk siap menghadapi krisis, sementara informasi dan perlindungan dari negara kerap datang terlambat?
Baca juga: Berjam-jam Bertahan dalam Gelap: Kisah Ibu dan Balita Hadapi Pemadaman Listrik
Bertahan Saat Listrik Padam Tak Seharusnya Jadi Keahlian Warga
Salah satu hal pertama yang saya pikirkan ketika listrik padam adalah air. Di banyak rumah, pompa air bergantung pada listrik. Ketika aliran listrik berhenti selama berjam-jam, pasokan air juga bisa ikut terhenti.
Karena itu, mengisi ember, bak mandi, atau wadah penyimpanan air menjadi kebiasaan yang dilakukan banyak keluarga ketika mendengar kabar akan ada pemadaman. Persediaan air membantu kebutuhan mandi, memasak, mencuci tangan, hingga membersihkan toilet.
Masalahnya, kemampuan bersiap seperti ini tidak dimiliki semua orang. Tidak semua keluarga memiliki ruang penyimpanan yang cukup, cadangan air yang memadai, atau informasi yang datang lebih awal. Ketika layanan publik terganggu, kelompok rentan biasanya menjadi pihak yang paling terdampak.
Hal serupa berlaku untuk sumber penerangan dan baterai cadangan. Banyak warga kini mengandalkan power bank, lampu darurat isi ulang, atau lilin sebagai perlengkapan wajib ketika listrik padam. Benda-benda tersebut memang membantu, tetapi warga seharusnya tidak dipaksa terus-menerus mengeluarkan biaya tambahan hanya untuk mengantisipasi layanan dasar yang sewaktu-waktu berhenti berfungsi.
Yang juga sering menjadi persoalan adalah minimnya informasi. Saat pemadaman besar terjadi, warga kerap tidak mengetahui penyebab gangguan, wilayah terdampak, maupun perkiraan waktu pemulihan. Dalam situasi seperti itu, grup warga, keluarga, atau percakapan dari mulut ke mulut justru menjadi sumber informasi utama.
Padahal informasi darurat seharusnya menjadi bagian dari layanan publik. Warga berhak mengetahui apa yang sedang terjadi dan bagaimana mereka perlu bersiap. Informasi tidak boleh menjadi privilese yang hanya dimiliki segelintir orang yang kebetulan memiliki akses lebih dekat ke sumbernya.
Baca juga: Cerita Perempuan Relawan Bencana Aceh: Melihat Derita yang Tak Masuk Layar
Rumah Tangga Menanggung Beban Terbesar
Pemadaman listrik mungkin terlihat sebagai persoalan teknis. Namun dampaknya menjalar hingga ke ruang-ruang paling pribadi dalam kehidupan sehari-hari.
Ketika listrik padam, orang tua harus memikirkan kenyamanan anak-anak. Lansia dan anggota keluarga yang sakit membutuhkan perhatian lebih. Persediaan makanan perlu diperiksa. Air harus dihemat. Ponsel harus dijaga agar tetap menyala. Semua keputusan kecil itu harus diambil dalam waktu singkat dan sering kali dengan informasi yang terbatas.
Di banyak rumah tangga, pekerjaan tersebut paling sering jatuh kepada perempuan. Mereka memastikan rumah tetap berjalan, anak-anak tetap tenang, dan kebutuhan keluarga tetap terpenuhi meski situasi sedang tidak normal.
Karena itu, pemadaman listrik bukan hanya soal jaringan yang terputus. Ia juga berbicara tentang kerja perawatan yang bertambah, kecemasan yang meningkat, dan waktu yang terkuras untuk mengelola krisis yang seharusnya tidak ditanggung sendirian oleh warga.
Saya belajar banyak hal dari pengalaman menghadapi mati listrik. Saya belajar menyimpan air, menyiapkan lilin, mengisi daya ponsel lebih awal, dan mencari informasi dari berbagai sumber. Namun semakin sering pengalaman itu berulang, semakin terasa pula ada yang keliru.
Kemampuan bertahan memang penting. Namun warga tidak seharusnya menjadikan kemampuan menghadapi pemadaman listrik sebagai keahlian hidup yang terus diasah dari waktu ke waktu. Yang lebih penting adalah memastikan negara hadir dengan informasi yang jelas, perlindungan yang memadai, dan layanan publik yang dapat diandalkan ketika krisis terjadi.
Sebab pada akhirnya, yang dibutuhkan warga bukan sekadar tips bertahan dalam gelap. Yang dibutuhkan adalah kepastian agar gelap tidak terus-menerus menjadi bagian dari keseharian.
Penafian: Penulis menggunakan alat bantu Akal Imitasi (AI), seperti ChatGPT, secara terbatas untuk penyuntingan bahasa dan perapian struktur tulisan. Seluruh isi, analisis, dan argumen merupakan hasil riset, observasi, dan pemikiran penulis.





















