12/06/2026
Issues Politics & Society

Berjam-jam Bertahan dalam Gelap: Kisah Ibu dan Balita Hadapi Pemadaman Listrik

Pemadaman listrik berjam-jam di sejumlah wilayah Jawa mengacaukan jam tidur balita, menghambat aktivitas ibu, dan menambah beban kerja perawatan yang tak dibayar.

  • June 12, 2026
  • 5 min read
  • 32 Views
Berjam-jam Bertahan dalam Gelap: Kisah Ibu dan Balita Hadapi Pemadaman Listrik

Foto: Kasan Kurdi / Greenpeace

Aisyah, 30, tak mengira listrik di rumahnya akan padam selama berjam-jam. Hari itu, tak ada pemberitahuan apa pun yang ia terima. Sekitar pukul 16.00 WIB pada (11/6), lampu mendadak padam dan membuat ibu tiga anak ini hanya bisa menunggu tanpa kepastian kapan listrik akan kembali menyala.

“Kebetulan sekali kemarin selepas ashar sekitar jam 4 sore mati lampu. Enggak ada pemberitahuan terlebih dahulu baik di aplikasi PLN mobile atau di edaran yang biasa ke RT (Rukun Tetangga),” kata Aisyah kepada Magdalene (12/6).

Aisyah tinggal di Kecamatan Cipayung, Depok, Jawa Barat. Menurutnya, ini merupakan kali pertama listrik padam dalam waktu lama tanpa pemberitahuan. Setelah sekitar empat jam, aliran listrik akhirnya kembali menyala ketika langit mulai gelap.

Tak hanya terjadi di Depok, pemadaman listrik juga dialami “Ella”, 28, yang tinggal di Kecamatan Majalaya, Karawang, Jawa Barat. Sehari sebelum kejadian di rumah Aisyah, listrik di kawasan tempat tinggal Ella padam selama berjam-jam. Sama seperti Aisyah, ia tidak menerima informasi apa pun sebelum seluruh sumber daya listrik di rumahnya mati total.

Setelah sekitar empat jam, aktivitas di rumah Ella baru bisa kembali berjalan seperti biasa.

“Kejadiannya tuh dari jam 10 pagi sampe sore jam 4 sore. Dan ternyata enggak cuma di komplekku aja. Di bagian karawang barat juga sama bergilir kena pas malam hari. Sebelumnya enggak ada info sama sekali. Hanya ramai aja di Thread sampe PLN klarifikasi,” jelas Ella (12/6).

Dari laporan Bloomberg Technoz, pemadaman listrik bergilir di Pulau Jawa mulai tercatat sejak (10/6). Di Jawa Barat, pemadaman terjadi di Bandung, Cimahi, Karawang, Purwakarta, Bogor, Cikarang, Bekasi, Cirebon, hingga Indramayu. Di wilayah lain seperti Semarang, Tegal, dan Yogyakarta, pemadaman listrik juga dilaporkan terjadi secara bergilir. Sebelumnya, pemadaman listrik juga sempat terjadi di Pulau Sumatera pada (22/5).

Baca juga: Kendaraan Listrik Berpotensi Memperlebar Ketimpangan: Warga di Luar Kota Menanggung Beban Lebih Besar

Anak Tak Nyaman, Ibu Kelimpungan

Bagi Aisyah dan Ella, pemadaman listrik yang berlangsung lama tanpa pemberitahuan bukan sekadar gangguan teknis. Keduanya sama-sama memiliki anak balita yang aktivitas sehari-harinya sangat bergantung pada ketersediaan listrik, mulai dari kenyamanan beristirahat hingga kebutuhan dasar rumah tangga.

Aisyah memiliki tiga anak berusia 8 tahun, 6 tahun, dan 2 tahun. Tanpa pendingin ruangan, cuaca panas di Depok membuat anak-anaknya menjadi lebih rewel dan enggan berada di dalam rumah. Mereka akhirnya menghabiskan lebih banyak waktu di luar rumah untuk menghindari udara yang pengap.

Tak hanya itu, aktivitas sehari-hari seperti belajar dan mandi ikut terganggu akibat padamnya aliran listrik.

“Pastinya anak-anak menjadi lebih rewel dan enggak mau bermain di dalam rumah karena panas dan pengap. Aktivitas anak-anak seperti belajar dan mandi juga jadi terbatas,” kata Aisyah.

Situasi serupa dialami Ella. Anaknya yang masih berusia delapan bulan kesulitan tidur siang karena suhu rumah yang panas. Kondisi tersebut membuat ritme tidur sang bayi berubah dan berimbas pada aktivitas Ella sebagai ibu sekaligus pekerja.

“Aku bener-bener enggak bisa ngapa-ngapain. Kasihan juga ke bayi-ku, dia jadi enggak bisa tidur siang karena terlalu panas. Jam tidurnya jadi berantakan. Belum lagi aku juga kerja WFH (work from home). HP sama laptop sampai low (baterai),” cerita Ella.

Ketika listrik tak kunjung menyala, Ella memutuskan mengungsi ke rumah kerabat. Selain mengganggu pekerjaan, pemadaman juga membuat pasokan air di rumahnya terhenti karena pompa tidak dapat beroperasi. Kondisi itu membuat pekerjaan domestik dan kerja perawatan yang ia lakukan menjadi semakin berat.

“Akhirnya menghubungi teman-teman yg listriknya nyala dan ngungsi deh. Aku ada kerjaan dan bayi-ku belum tidur-tidur juga kasian. Ini mengganggu banget,” ungkapnya.

Catatan Oxfam Pilipinas menyebut terganggunya layanan energi, termasuk listrik, dapat menambah beban kerja perawatan perempuan. Ketika pasokan energi terganggu, rumah tangga harus mengompensasinya dengan lebih banyak pekerjaan domestik dan perawatan yang tidak dibayar.

Dalam banyak situasi, tambahan pekerjaan tersebut lebih banyak dibebankan kepada perempuan. Karena itu, krisis energi berpotensi memperbesar beban kerja perawatan yang sudah ada sebelumnya.

Baca juga: Transisi Energi Tersandera Elit, Janji Hijau cuma ‘Omon-omon’?

Pengelolaan Listrik dan Batu Bara Dipertanyakan

Direktur Eksekutif Center of Economics and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, menilai pemadaman listrik dapat berkaitan dengan persoalan pasokan batu bara yang menipis. Menurutnya, kondisi ini berhubungan dengan penurunan rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB), kuota produksi batu bara, serta persoalan kontrak pengiriman batu bara ke pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

“Pemadaman listrik terjadi karena masalah stok batubara yang menipis baik untuk pembangkit PLN maupun IPP (pembangkit swasta). Setelah penurunan RKAB batu bara dan kuota produksi yang dipangkas, kontrak pengiriman batubara ke pembangkit PLTU bermasalah,” ungkap Bhima kepada Magdalene (12/6).

Bhima menilai peristiwa ini menunjukkan tingginya ketergantungan sistem kelistrikan nasional terhadap energi fosil. Akibatnya, risiko terjadinya blackout atau pemadaman total masih membayangi sejumlah wilayah ketika pasokan energi primer mengalami gangguan.

Ia juga mengaitkan persoalan tersebut dengan lambatnya transisi energi yang dijalankan pemerintah.

“Ini membuktikan kalau hidup matinya listrik bergantung dari batu bara, sehingga rentan black-out. Pemerintah dan PLN terbilang lambat melakukan transisi energi. Jumlah PLTU yang akan direncanakan masih besar, 6,3 GW dalam 2025-2034. Sementara kebutuhan batu bara juga tersedot untuk ekspansi pembangkit baru di kawasan industri,” imbuhnya.

Baca juga: Adopsi Energi Terbarukan: Perempuan Bergerak, Perempuan Berdaya

Sebagai jalan keluar, Bhima menilai pemerintah perlu segera menyelesaikan persoalan krisis energi. Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya perlu dipercepat, sementara pemberdayaan komunitas sebagai pengelola energi terbarukan juga dapat terus didorong.

“Untuk atasi risiko blackout karena krisis energi seharusnya dorong segera instalasi pembangkit 100 GW panel surya, setidaknya 17 GW yang ada di pipeline ESDM. Sebagian pembangkit energi terbarukan bisa dikelola oleh komunitas, menggunakan jaringan transmisi PLN,” tutup Bhima.

Sampai artikel ini ditulis, pihak PLN belum memberikan jawaban ataupun klarifikasi kepada Magdalene. Meski begitu, laporan Kompas.com menyebut PT Jawa Satu Power (JSP), pengelola PLTGU Jawa Satu, telah mengklarifikasi kabar mengenai gangguan di Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) yang disebut sebagai penyebab padamnya listrik di sejumlah wilayah Pulau Jawa.

About Author

Syifa Maulida

Syifa adalah lulusan Psikologi dan Kajian Gender UI yang punya ketertarikan pada isu gender dan kesehatan mental. Suka ngopi terutama iced coffee latte (tanpa gula).