Lifestyle

Yang Tak Dibicarakan dari ‘Rodent Men’, Tipe Cowok yang Banyak Disukai Gen Z

‘Rodent men’ adalah istilah untuk aktor lelaki yang fisiknya berbeda dari “standar Hollywood”. Meski tampak inklusif, 'rodent men' menyisakan dua catatan penting.

Avatar
  • July 4, 2024
  • 7 min read
  • 458 Views
Yang Tak Dibicarakan dari ‘Rodent Men’, Tipe Cowok yang Banyak Disukai Gen Z

Belakangan ini, ada istilah baru di internet: Rodent men. Label itu mendeskripsikan aktor laki-laki kulit putih dengan fitur wajah lancip di area tertentu, bertubuh kurus dibandingkan berotot, dan telinga yang menonjol atau caplang. Dengan kata lain, wajah mereka berbeda dari “standar” rupawan figur publik pada umumnya—bahkan disebut mirip dengan hewan tertentu. 

Sebut saja Glen Powell yang dinilai mirip capybara. Lalu Josh O’Connor, Matty Healy, dan Jeremy Allen White yang dibilang seperti tikus. Ada juga Barry Keoghan yang memiliki beady eyes. Fitur wajah mereka berbeda, dibandingkan Chris Hemsworth atau Henry Cavill yang berwajah tirus, berdagu lancip, dan bertulang pipi khas. 

 

 

Sebenarnya, rodent men disebut-sebut mengapresiasi daya tarik fisik laki-laki di luar “standar Hollywood”, yang biasanya identik dengan representasi Greek God karena tubuhnya menarik. Rodent men bukan label pertama di budaya populer. 

Pertengahan 2010-an, sebutan “dad bod” sempat populer. Istilah itu mendefinisikan laki-laki berperut buncit karena enggak mempertahankan bentuk fisiknya—seperti laki-laki yang sudah menikah dan punya anak. Di era ini, dad bod merupakan kritik terhadap seleb. Beberapa di antaranya adalah Leonardo DiCaprio, Chris Pratt, dan Seth Rogen karena bentuk tubuh mereka “enggak menarik dan ideal”.  

Namun, sejumlah riset yang dirangkum oleh Psychology Today menjelaskan, perempuan lebih tertarik pada laki-laki dengan dad bod. Alasannya adalah kemungkinan selingkuh yang lebih kecil, enggak begitu agresif, serta punya karakteristik yang membuat mereka menjadi pasangan dan ayah yang baik. 

Selain dad bod, ada juga zaddy, sebutan untuk laki-laki lebih tua yang fashionable dan menarik secara seksual. Misalnya, Pedro Pascal dan George Clooney. 

Berbagai istilah di atas mencerminkan tolok ukur masyarakat, terhadap daya tarik fisik laki-laki yang semakin luas. Sayangnya, situasi ini bertolak belakang dengan aktor perempuan yang masih menghadapi standar ganda. 

Baca Juga: Alasan Kenapa ‘Wife Guy’ Disukai dan Diglorifikasi Netizen? 

Standar Ganda bagi Aktor Perempuan 

Sebenarnya, label rodent men, dad bod, dan zaddy bisa disebut privilese bagi laki-laki. Soalnya, sejauh ini enggak ada penggunaan kata tertentu untuk memaknai kecantikan perempuan di luar standar eurosentris yang diamini masyarakat patriarki: Tubuh langsing, kulit putih, dan rambut lurus. Yang terjadi justru alienasi dan cibiran, jika perempuan enggak sesuai standar kecantikan itu. 

Contohnya aktor perempuan bertubuh plus size. Kalau kamu lihat di serial televisi maupun layar lebar, berapa banyak perempuan yang berperan sebagai karakter utama sekaligus love interest? Biasanya, mereka dipotret sebagai lelucon, menampilkan gaya hidup enggak sehat, bersikap menyebalkan dan enggak pandai bersosialisasi, atau ingin tubuhnya langsing. 

Dalam tulisannya di Letterboxd pada 2022, penulis Kate Hagen mengungkapkan, hanya 30 film selama 50 tahun terakhir, yang menampilkan perempuan plus size sebagai karakter utama dan merepresentasikan kehidupan Hagen. 

Baru-baru ini, Nicola Coughlan memainkan Penelope Featherington, karakter utama sekaligus love interest di Bridgerton musim ketiga. Saat menghadiri premier di Dublin pada Juni lalu, Coughlan mengamini, perempuan plus size dengan payudara berukuran besar jarang tampil di depan layar. Hal itu membuat Coughlan bangga dengan bentuk tubuhnya, mengingat ada adegan Penelope telanjang di depan kamera. 

“(Adegan) itu ide dan pilihan saya. Rasanya memberdayakan sekali, bisa membungkam komentar orang seputar badanku,” ujar Coughlan dikutip dari Vanity Fair. 

Belum lagi perkara penuaan. Jika aktor laki-laki diagungkan dengan panggilan zaddy atau disebut aging like fine wine, aktor perempuan dianggap enggak menarik dan penampilannya enggak prima lagi. Bahkan ada perbedaan dalam karakter yang diperankan. 

Hal tersebut dijelaskan oleh kritikus film dan akademisi Martha M. Lauzen dan David Dozier. Dalam temuannya pada 2005, Lauzen dan Dozier menjelaskan, karakter laki-laki berusia 40-50 tahun cenderung memerankan pemimpin atau sosok yang berkuasa di pekerjaan dan memiliki tujuan—ketimbang karakter perempuan pada usia yang sama. 

Di samping itu, budaya populer malah terobsesi menampilkan perempuan lanjut usia (lansia) sebagai sosok menyeramkan dan membahayakan—atau hagsploitation yang masuk dalam subgenre horor. Istilah ini menggambarkan lansia perempuan yang enggak menarik lagi karena tubuhnya tak ideal, dan lebih dekat dengan kematian. Contohnya karakter Pearl dalam X (2022) dan The Mother di Barbarian (2022). 

Yang enggak dilihat dari standar ganda pada aktor perempuan terkait penampilan, adalah dampak seperti gangguan dismorfik tubuh. Masalah kesehatan mental ini disebabkan oleh kecemasan berlebihan dan rendah diri yang ekstrem terhadap penampilan fisik. 

Umumnya, penderita gangguan dismorfik tubuh fokus pada hidung, mata, kulit, gigi, otot, dan berat badan. Penyebabnya adalah faktor biologis, psikologis, dan lingkungan—salah satunya standar kecantikan yang berlaku. 

Misalnya saat melihat masyarakat cenderung menerima aktor perempuan bertubuh kurus, putih, dan berambut lurus. Ada kemungkinan mereka yang enggak memiliki ciri fisik tersebut, ingin mengubah penampilan demi memenuhi ekspektasi masyarakat. Kondisi ini pernah dialami sejumlah figur publik perempuan: Billie Eilish, Megan Fox, dan Jameela Jamil. 

Permasalahan itu menggambarkan daya tarik fisik aktor perempuan masih sebatas standar kecantikan eurosentris. Sedangkan aktor laki-laki yang fisiknya enggak memenuhi “sesuai standar”, dirayakan dari generasi ke generasi—seperti Willem Dafoe, Steve Buscemi, dan Sean Penn di kalangan baby boomers dan generasi X. 

Pertanyaannya, apakah berbagai label yang disematkan untuk aktor laki-laki sudah inklusif? 

Baca Juga: ‘Namanya Juga Cewek’: Soal Seksisme yang Menjamur di Media Kita

Masih Sebatas Aktor Kulit Putih 

Meski tolok ukur masyarakat terhadap daya tarik fisik aktor laki-laki meluas, rodent men, dad bod, dan zaddy masih didominasi kulit putih. Kita bisa melihatnya dari jajaran aktor yang masuk daftar tersebut, dan dikategorikan sebagai internet boyfriends di media sosial: Glen Powell, Jeremy Allen White, dan Barry Keoghan. 

Realitas ini dipengaruhi oleh diskursus penggemar di media sosial. Dengan mengeklaim aktor tertentu dengan berbagai cap yang ada, penggemar punya kuasa untuk mendongkrak popularitas aktor yang bersangkutan. Contohnya lewat editan video atau momen viral yang jadi perbincangan. 

Itu menjelaskan bagaimana Powell baru mendapat sorotan belakangan ini. Namanya enggak pernah masuk deretan aktor yang diobsesikan di internet, walaupun sudah memainkan peran besar di industri Hollywood selama 10 tahun. 

Menurut kritikus film Murtada Elfadl saat diwawancara Vox, ada pihak yang memanfaatkan popularitas Powell di internet, sehingga namanya lebih besar. Peran Powell dalam beberapa film terbaru pun jadi sorotan, seperti Anyone but You (2023), Hit Man (2024), dan Twisters (2024). 

Namun, hal yang sama belum tentu terjadi pada orang kulit berwarna. Enggak dimungkiri, industri Hollywood yang belum inklusif juga berperan dalam hal ini. Aktor kulit berwarna enggak punya kesempatan yang sama dalam mendapatkan proyek besar, sebagaimana orang kulit putih—meskipun pernah membintangi proyek besar. Misalnya Henry Golding yang belakangan berperan di The Ministry of Ungentlemanly Warfare. Atau Dev Patel selaku aktor dan sutradara Monkey Men. 

Melihat perbedaan ini, Elfadl mengatakan, penyebabnya adalah minimnya ruang dan dukungan yang diberikan oleh industri, maupun perbincangan seputar aktor kulit berwarna di media sosial. Sebab, antusiasme publik dan eksposur terhadap mereka enggak sebesar orang kulit putih. 

Padahal, aktor kulit berwarna punya kemampuan untuk membintangi peran penting di depan layar, dibandingkan aktor kulit putih yang mendapatkan peran karena perhatian publik di media sosial—seperti mereka yang disorot karena termasuk dalam kategori rodent men, dad bod, atau zaddy. 

Baca Juga: Dulu Kurus, Sekarang Gemuk: Pelajaran Berharga dari ‘Body Shaming’ 

Mungkin industri Hollywood bisa membuka kesempatan lebar bagi aktor kulit berwarna untuk tampil di depan kamera, supaya representasi makin beragam sehingga kelompok minoritas mendapat dukungan dan merasa menjadi bagian dari masyarakat. 

Harapannya, publik enggak cuma menilai aktor laki-laki kulit putih yang punya daya tarik fisik dan mampu berakting. Kita bisa melihat lebih banyak serial televisi maupun film, seperti How to Get Away with Murder dan Bad Boys, yang dibintangi aktor kulit berwarna perempuan maupun laki-laki, sebagai karakter utama. 


Avatar
About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *