Di Balik Tren Dadfluencer di Media Sosial
Dear Gen Z dan Millenials, pernah gak sih kalian lihat konten bapak-bapak yang main bareng anaknya atau ngajarin soal parenting? Biasanya, komentar yang sering muncul lumayan kontras: “Jadi kangen ayah” atau “Kok dulu ayahku gak gitu ya?”
Buat Amanda, 26, pekerja media di Jakarta, konten-konten seperti ini mirip dengan kebiasaan orang tuanya dulu yang gemar merekam momen masa kecilnya. Setelah dewasa, ia sadar konten ini banyak dijadikan referensi para ayah modern buat menghabiskan waktu dengan anaknya. “Referensi laki-laki jadi beragam, gak lagi referensi orang tua lawas kalau bapak tuh keras dan dingin ke anak,” kata Amanda.
Apa Itu Dadfluencer?
Di mesin pencarian, kata “dadfluencer” lebih sering muncul dalam artikel-artikel berbau marketing. Dadfluencer atau dad influencer adalah kreator konten laki-laki yang menjadikan pengalaman menjadi ayah sebagai identitas utama kontennya di media sosial.
Konten mereka biasanya tentang keseharian mengasuh anak, membangun relasi dengan pasangan, mengurus rumah, hingga berbicara soal emosi dan tantangan menjadi orang tua.
Janet Manley, kontributor The Cut, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari pergeseran budaya dari sosok ayah tradisional yang cenderung jauh dan “hands-off” menjadi figur ayah yang hadir, terlibat, dan aspiratif. Sosok ayah di media sosial kini tak lagi hanya diposisikan sebagai pencari nafkah, tetapi juga partner setara dalam pengasuhan dan pekerjaan domestik.
Eva Diniz, peneliti di Ispa-Instituto Universitário, Lisbon dalam studinya mencatat adanya pergeseran pandangan tentang peran gender dan tanggung jawab orang tua mulai menghadirkan ekspektasi baru terhadap sosok ayah.
Diniz menyebut, dulu ayah lebih banyak dipandang terlibat dalam aktivitas sosial dan hiburan bersama anak, sementara pengasuhan langsung dan tanggung jawab domestik umumnya tetap dilakukan ibu.
Namun, kini sejumlah negara mulai memperpanjang cuti ayah dan mendorong bentuk pengasuhan anak yang lebih aktif melibatkan ayah.
Apa yang membuat orang terpikat konten dadfluencer?
Buat Tazkia, 25, yang tumbuh tanpa banyak merasakan kehadiran ayah, daya tariknya bukan pada kelucuan anak, tapi pada gambaran kedekatan ayah dan anak. “Yang gue lihat bukan sekadar konten lucu, tapi juga pentingnya kehadiran orang tua dalam momen-momen kecil yang sering dianggap biasa,” katanya.
Anggi, 23, juga menilai konten dadfluencer bisa dijadikan role model bagi ayah lain. Namun, menurutnya, ketika kelucuan anak dijadikan sumber utama views dan kerja sama brand, peran pengasuhan berisiko berubah menjadi komoditas. Di tengah maraknya industri mom and baby yang memanfaatkan popularitas anak-anak di media sosial untuk marketing, sulit bagi Anggi untuk tidak melihat konten dadfluencer sebagai sesuatu yang performatif.
“Menurut gue, content creator bapak-bapak ini bisa aja sesuatu yang gue support, tapi bisa lebih highlight peran dan effort mereka instead of anak mereka,” ujarnya pada Magdalene.
Melawan Toxic Masculinity
Media sosial ikut memainkan peran besar dalam menyebarkan gagasan baru soal fatherhood. Dadfluencer “Tidy Dad” alias Tyler Moore bercerita pada The Cut kalau ia ingin melawan gambaran toxic masculinity yang masih sangat melekat di masyarakat.
“Saya ingin menunjukkan sosok ayah yang mencintai anak-anak dan istrinya, yang bukan sekadar hadir di rumah, tapi benar-benar terlibat dalam kehidupan keluarga sehari-hari sambil tetap menyeimbangkan karier,” jelas Moore.
Membuat pengalaman menjadi ayah dibicarakan lebih terbuka di ruang publik.
Terbukanya percakapan soal fatherhood di media sosial juga melahirkan beragam cara ayah membagikan pengalamannya, salah satunya Dhian yang mengangkat keseharian mengasuh anak lewat hobinya berlari.
Lewat akun Instagram @pelaristroller, ayah dua anak ini aktif membagikan kegiatan berlari sambil mendorong anaknya di stroller sejak 2023. Ia mendokumentasikan caranya tetap berolahraga sekaligus menghabiskan waktu bersama anaknya.
Menurutnya, anak juga membutuhkan perhatian dan keterlibatan ayah dalam keseharian. “Taking care of the children is not helping the mom, but just you being a dad,” ujar Dhian. Karena itu, ia dan pasangannya terbiasa berbagi peran pengasuhan tanpa bantuan PRT, mulai dari bermain, outdoor activities, hingga mendampingi anak belajar.
Pengasuhan ayah yang lebih aktif juga tak jauh dari proses learn and unlearn nilai-nilai toxic masculinity. Menurut Rahan Galileo, dadfluencer dengan tiga anak, maskulinitas sehat bisa dipraktikkan lewat hal-hal sederhana.
Seperti memahami emosi pasangan, mendengarkan tanpa menyela, dan melihat pekerjaan domestik sebagai tanggung jawab bersama.
Senada dengan Dhian, Rahan tidak pernah menyebut pekerjaan rumah sebagai “membantu istri”, tapi bagian dari tanggung jawab sebagai orang tua. “Aku selalu bilang ke anak-anak kalau kerja domestik itu life skill, bukan tugas perempuan,” ujarnya pada Magdalene.
Di Indonesia, dadfluencer @babeheji aktif membagikan keseharian bersama anak laki-lakinya, mulai dari membantu regulasi emosi anak, mengungkapkan kasih sayang secara terbuka, hingga mengajarkan cara memperlakukan perempuan.
Sebuah studi tentang akun @babeheji oleh Qur’ani dan Putra menunjukkan bagaimana audiens berinteraksi dengan pesan tersebut. Komentar-komentar di konten @babeheji tak hanya merespons video, tapi juga merefleksikan pengalaman pribadi audiens terhadap sosok ayah. Ada yang merasa terwakili dan menerima nilai-nilai fatherhood yang disampaikan, ada pula yang menolaknya.
Hal ini menunjukkan media sosial jadi ruang pertukaran makna yang turut memengaruhi cara masyarakat memandang peran ayah dan pengasuhan. Bagi sebagian laki-laki, ruang ini juga dapat menjadi sumber referensi tentang fatherhood yang selama ini tidak banyak mereka dapatkan.

Psikolog klinis sekaligus ayah baru, Zac Seidler menuliskan kebingungannya karena sebagai ayah baru cuma dapat nasihat abstrak. Beda saat istrinya mengumumkan kehamilan, yang langsung dibanjiri panduan praktis A-Z tentang parenting dan pengasuhan.
Dari situ, Seidler sadar kalau ibu modern selama berdekade-dekade sudah didorong untuk belajar menyeimbangkan peran sebagai pekerja sekaligus orang tua. Laki-laki justru masih minim ruang belajar dan dukungan untuk menjadi pengasuh yang aktif dan setara.
“Gue cukup mendukung kalau konten kayak gini makin banyak. Selama nggak mengeksploitasi anak dan masih dalam batas yang sehat, menurut gue ini bisa jadi contoh positif bahwa pengasuhan bukan cuma urusan ibu,” kata Tazkia.
“Sebenarnya emang apa yang dilakuin bapak-bapak itu masih bare minimum sih. Cuma karena banyak bapak yang belum kayak gitu (alias masih di bawah bare minimum) jadi mereka kelihatan “Wow, keren”,” kata Amanda.
“Terlepas masih bare minimum, menurutku gapapa deh dadfluencer hadir di media sosial. Soalnya, laki-laki bisa punya acuan jadi bapak tuh kayak gimana, nunjukin kasih sayang ke anak tuh gimana, atau bahkan ide buat ngehabisin waktu bareng anak bisa dengan ngapain aja,” tambahnya.
Selain dukungan, sejumlah studi juga menekankan pentingnya membuka ruang bagi pengalaman fatherhood yang lebih beragam dan realistis.
Di media sosial, representasi fatherhood belum sepenuhnya merepresentasikan pengalaman ayah dari latar belakang kelas, ras, budaya, maupun kondisi sosial yang beragam.
Perubahan ini tak bisa dibebankan pada kesadaran individu semata. Harus ada dukungan kebijakan: cuti ayah yang lebih panjang, jam kerja yang lebih fleksibel, serta aturan ketenagakerjaan yang memberi ruang bagi laki-laki untuk hadir dalam pengasuhan sehari-hari.




















