07/07/2026
Culture Opini Screen Raves

‘Ladies First’: Dunia Jungkir Balik yang Diam-diam Diimpikan Perempuan

Lewat komedi satire tentang dunia yang dipimpin perempuan, ‘Ladies First’ menghadirkan kritik tajam soal patriarki, relasi kuasa, dan ketidakadilan gender yang selama ini dianggap normal.

  • May 28, 2026
  • 6 min read
  • 1160 Views
‘Ladies First’: Dunia Jungkir Balik yang Diam-diam Diimpikan Perempuan

*Peringatan spoiler.

Seorang lelaki sukses, kaya raya, dan terbiasa hidup dalam privilese tiba-tiba terbangun di dunia yang sepenuhnya dipimpin perempuan. Itulah premis utama Ladies First, film komedi satire karya Thea Sharrock yang baru tayang di platform streaming Netflix.

Film ini tampil cukup berani dalam membalik struktur sosial yang selama ini dianggap normal. Damien Sachs (Sacha Baron Cohen) digambarkan sebagai bos eksekutif perusahaan yang patriarkis, arogan, dan kerap berperilaku seenaknya. Konflik mulai muncul ketika ia bersitegang dengan bawahannya, Alex Fox (Rosamund Pike), yang dilibatkan sebagai representasi perempuan untuk proyek terbaru perusahaan.

Namun, keterlibatan Alex sejak awal sebenarnya hanya formalitas. Damien sengaja memasukkan pekerja perempuan demi memperbesar peluangnya menjadi CEO berikutnya. Konyolnya, Alex dipilih bukan karena kompetensinya, melainkan hanya karena namanya disebut pertama kali berdasarkan urutan abjad oleh sekretaris Damien.

Meski Alex memiliki kapasitas kerja yang jelas, Damien tetap lebih mengandalkan bawahan lelakinya. Pendapat Alex nyaris tidak dianggap. Ketegangan keduanya memuncak ketika Alex memilih resign dari perusahaan. Damien yang tidak terima kemudian mengejar Alex, tetapi justru terpeleset di pinggir jalan hingga kepalanya terbentur.

Setelah sadar dari pingsan, hidup Damien berubah total. Ia terbangun di dunia paralel yang dipimpin perempuan. Di titik inilah film mulai memainkan premis gender-swap secara penuh sekaligus mengundang banyak pertanyaan tidak nyaman tentang relasi kuasa dan kesetaraan gender.

Alex Fox kini duduk di kursi pimpinan direksi eksekutif. Fred, sang CEO, berubah menjadi asisten. Felicity yang sebelumnya sekretaris CEO kini menjadi CEO. Bahkan Glenda, petugas kebersihan kantor, berevolusi menjadi ketua dewan direksi. Sementara itu, Ruby yang dulunya sekretaris Damien telah naik jabatan menjadi anggota direksi eksekutif.

Nasib Damien berbalik drastis. Ia berubah menjadi pekerja biasa dengan posisi rendah dan tinggal di flat sederhana. Ketika pulang ke rumah orang tuanya untuk mencari jawaban, ia justru menemukan dunia yang makin terasa asing.

Sang ibu dan saudara perempuannya yang dulu identik dengan urusan domestik kini bersantai di depan televisi, sedangkan ayah dan saudara iparnya sibuk memasak serta menata rambut anak-anak. Dalam kondisi frustrasi, Damien kemudian bertemu tunawisma misterius yang diperankan Richard E. Grant. Lelaki itu mengatakan satu-satunya cara mengembalikan dunia seperti semula adalah dengan membuat Damien kembali menjadi pemimpin.

Baca Juga: 6 Serial Netflix Terbaik dengan Tema Perempuan Di Dunia Kerja

Satire Gender yang Sangat Relate

Formula what if yang digunakan Ladies First membuat film ini tidak berhenti sebagai komedi absurd semata. Thea Sharrock menggunakan dunia paralel untuk memperlihatkan bagaimana ketimpangan gender bekerja dalam kehidupan sehari-hari. Semua perlakuan yang selama ini dianggap normal terhadap perempuan dipantulkan kembali kepada laki-laki melalui karakter Damien.

Yang membuat Ladies First terasa mengusik bukan sekadar premis dunia yang dipimpin perempuan, melainkan cara film ini memaksa lelaki mengalami hal-hal yang selama ini dianggap biasa ketika dialami perempuan. Mulai dari diremehkan di ruang kerja, dinilai dari penampilan fisik, hingga tubuhnya diatur oleh norma sosial.

Film ini terasa relevan karena isu yang dibawanya sangat dekat dengan realitas. Ketidakadilan terhadap perempuan tidak selalu hadir dalam bentuk kekerasan besar atau terang-terangan. Kadang ia muncul dalam bentuk yang lebih halus, seperti pengabaian opini perempuan di ruang kerja, objektifikasi tubuh, atau anggapan perempuan hanya cocok mengurus urusan domestik.

Melalui berbagai adegan satir, Ladies First seperti menyusun mikrokosmos tentang dunia yang belum sepenuhnya ramah terhadap perempuan. Penonton diajak melihat bagaimana pekerja perempuan yang kompeten tetap diperlakukan sekadar simbol representasi. Kehadiran perempuan di ruang profesional sering kali hanya dipakai untuk memenuhi kuota, bukan benar-benar didengar atau dipercaya kapasitasnya.

Alex Fox menjadi gambaran nyata situasi tersebut. Ia punya performa kerja yang baik, tetapi pengakuan terhadap kemampuannya terasa setengah hati. Pengalaman Alex terasa dekat dengan kenyataan di banyak bidang, termasuk politik dan bisnis, ketika perempuan dihadirkan sekadar sebagai angka representasi.

Baca Juga: 6 Pelajaran dari Serial Netflix ‘Workin’ Moms’

Menertawakan Beauty Privilege dan Kontrol atas Tubuh

Dalam upayanya merebut kembali kuasa, Damien mulai mengikuti sistem toksik yang sebelumnya tidak pernah ia sadari. Ia memoles penampilan, menjaga tubuh, dan berusaha tampil menarik demi mendapatkan perhatian atasan. Film ini kemudian memperlihatkan bagaimana standar fisik sering menjadi penentu penilaian terhadap seseorang, terutama perempuan.

Kuswartanti dalam jurnal Beauty and The Beast (Perception of The Phenomenon of Beauty Privilege) menjelaskan beauty privilege sebagai kecenderungan masyarakat memberikan keuntungan atau kemudahan bagi individu yang dianggap menarik secara fisik. Fenomena tersebut selama ini banyak dialami perempuan, mulai dari tuntutan menjaga tubuh hingga tekanan untuk tampil cantik dan sempurna.

Melalui Damien, pengalaman itu dipantulkan secara satir kepada laki-laki. Penonton dibuat menyaksikan bagaimana Damien merasa kemampuan kerjanya saja tidak cukup untuk membuat kariernya berkembang. Ia harus tampil menarik, sopan, dan memikat demi mendapat pengakuan.

Film ini juga menyinggung bagaimana tubuh perempuan selama ini diatur oleh norma sosial. Dalam dunia paralel Ladies First, laki-laki justru dibebani tanggung jawab mengonsumsi kontrasepsi dan menjaga tubuhnya dari ancaman kekerasan seksual.

Jika diproyeksikan ke Indonesia, situasi tersebut terasa relevan dengan penelitian Titis Risti Yulianti dalam Knowledge and Perceptions Role Towards Modern Male Contraceptives Use in Indonesia. Penelitian itu menunjukkan penggunaan kontrasepsi modern seperti kondom dan vasektomi di kalangan lelaki menikah di Indonesia masih rendah, hanya sekitar 4 persen. Faktor pendidikan, persepsi keluarga berencana, hingga area tempat tinggal menjadi beberapa penyebabnya.

Baca Juga: Empat Pelajaran Penting dari Serial Netflix ‘The Sandman’

Mengapa Film ini Mengundang Penolakan?

Meski membawa kritik sosial yang cukup tajam, Ladies First ternyata tidak sepenuhnya diterima positif oleh publik maupun kritikus. The Telegraph menyebut film ini sebagai komedi pertarungan gender yang lemah, sementara The Guardian menganggapnya sebagai eksperimen high-concept yang gagal lucu.

Sebagian penonton juga memprotes dunia dalam film ini terasa terlalu kacau. Ada anggapan jika perempuan memimpin, dunia seharusnya tidak digambarkan seburuk itu. Namun, justru di titik tersebut satire Ladies First bekerja. Film ini tidak sedang menawarkan dunia ideal versi perempuan, melainkan menghadirkan pantulan dari realitas yang selama ini dialami perempuan di dunia nyata.

Anggapan film ini seharusnya menghadirkan gambaran perempuan sebagai sosok ideal malah terasa menarik. Reaksi tersebut seolah menunjukkan perempuan masih dituntut tampil sempurna bahkan dalam karya satire. Dunia yang dipimpin perempuan dianggap harus lebih tenang, lebih lembut, dan lebih tertata. Padahal, laki-laki tidak pernah dibebani ekspektasi serupa ketika mendominasi dunia nyata selama ini.

Konsep mirroring terasa sangat kuat. Penonton diajak bercermin melalui pembalikan posisi gender agar dapat memahami ketimpangan yang selama ini dianggap biasa. Salah satu adegan paling memorable muncul ketika Damien berkonsultasi dengan pengacaranya untuk menuntut Alex Fox.

Pengacara Damien mencoba mencari kesalahan Alex, termasuk kemungkinan adanya relasi seksual dengan bawahan. Namun, Damien justru terdiam lama. Ia tampak sadar pertanyaan tersebut lebih cocok diarahkan kepada dirinya sendiri di kehidupan lamanya sebagai pemimpin yang dipenuhi maskulinitas toksik dan penyalahgunaan relasi kuasa.

Pada akhirnya, bagian terbaik dari Ladies First bukan hanya terletak pada komedinya, tetapi juga pada transformasi karakternya. Damien perlahan dipaksa memahami pengalaman yang sebelumnya tidak pernah ia lihat. Film ini memang dikemas sebagai satire, tetapi kritiknya terhadap dunia modern dan nasib perempuan terasa cukup tajam sekaligus relevan.

Dunia masih belum adil, belum setara, dan masih dipenuhi misogini sehari-hari. Melalui premis dunia jungkir balik, Ladies First berhasil memperlihatkan semua itu dengan cara yang menghibur sekaligus mengusik.

Maria Mona. Part-time writer, full time doctor. Menggemari Haruki Murakami, Park Chan-wook, dan iced Americano. Bisa dijumpai di Instagram @mariamonataliani.

About Author

Maria Mona