07/07/2026
Issues Opini Politics & Society Safe Space Technology

Membongkar Pelecehan di Sirkel “Abang-Abangan” Filsafat

Di balik jargon filsafat, kebebasan berpikir, dan tongkrongan intelektual, sejumlah sirkel “abang-abangan” justru dinilai mereproduksi humor seksis bahkan menormalisasi pelecehan ke perempuan.

  • May 28, 2026
  • 7 min read
  • 1011 Views
Membongkar Pelecehan di Sirkel “Abang-Abangan” Filsafat

Sirkel diskusi filsafat yang digerakkan figur “abang-abangan” kini makin menjamur di kalangan anak muda urban. Mulai dari kedai kopi, tongkrongan kampus, hingga grup WhatsApp dan server Discord, ruang-ruang ini kerap dipandang sebagai tempat diskusi alternatif yang kritis, progresif, dan terbuka. Namun di balik obrolan teori berat dan jargon intelektual, sebagian ruang tersebut justru menyimpan relasi kuasa yang menekan, terutama terhadap perempuan dan kelompok marjinal.

Sebagai perempuan yang beberapa kali bersinggungan dengan ruang diskusi semacam ini, saya melihat bagaimana perempuan sering hadir bukan benar-benar sebagai subjek intelektual, melainkan pelengkap atmosfer tongkrongan. Pendapat perempuan mudah dipotong atau diabaikan. Sementara candaan seksual justru dianggap bagian dari keakraban komunitas. Dalam beberapa situasi, perempuan yang aktif berbicara malah diposisikan sebagai objek godaan, alih-alih rekan diskusi yang setara.

Anonimitas dan kultur kelompok membuat banyak perilaku problematik sulit dilacak. Sekat-sekat kanal diskusi dipenuhi teks pembebasan yang diadopsi secara serampangan.

Filsafat yang seharusnya dipakai untuk refleksi kritis malah dipelintir jadi alat untuk menormalisasi humor seksis, obrolan mesum, hingga intimidasi digital terhadap perempuan yang mencoba bersuara. 

Dalam sejumlah kasus yang saya temui bersama beberapa rekan, praktik pelecehan bahkan dianggap lumrah dan nyaris tidak pernah benar-benar dipersoalkan.

Ruang diskusi yang seharusnya horizontal perlahan berubah menjadi ruang eksklusif yang melanggengkan maskulinitas toksik. Situasi ini terasa ironis mengingat filsafat kerap dipromosikan sebagai ruang berpikir bebas dan kritis. Namun, kebebasan yang dimaksud sering kali hanya nyaman untuk kelompok tertentu, terutama laki-laki yang sejak awal sudah dominan.

Filsafat klasik yang memang banyak didominasi pemikir laki-laki kerap dijadikan legitimasi simbolik untuk memperkuat superioritas intelektual tertentu. Nama-nama filsuf besar dikultuskan tanpa pembacaan kritis terhadap bias gender dalam pemikiran mereka. Filsafat akhirnya direduksi menjadi kumpulan jargon, kutipan eksistensial, atau terapi identitas bagi mereka yang merasa sinis terhadap dunia.

Gejala ini beririsan dengan konsep phallogocentrism yang diperkenalkan Jacques Derrida dalam Of Grammatology (1976) lalu dikembangkan pemikir feminis seperti Luce Irigaray, Hélène Cixous, dan Julia Kristeva. Konsep tersebut menjelaskan bagaimana bahasa, logika, dan struktur pengetahuan sering dibangun dari sudut pandang maskulin sambil menyingkirkan pengalaman gender lain. Dalam praktik komunitas tertentu, penguasaan jargon rumit mulai dari nihilisme Nietzsche hingga dialektika Hegel dipakai sebagai alat untuk terlihat paling pintar sekaligus menentukan siapa yang dianggap unggul dan siapa yang harus diam.

Ketika budaya patriarki bertemu obsesi untuk terlihat superior secara intelektual, ruang diskusi menjadi rawan melahirkan kekerasan psikologis maupun seksual. Pengetahuan akhirnya bukan dipakai untuk membuka percakapan, melainkan jadi alat membangun hierarki baru yang eksklusif.

Baca Juga: ‘Conformity to Masculine Norms’: Alasan Lelaki Berubah Seksis Saat di Tongkrongan 

Dari Candaan Seksis sampai Pelecehan Nyata

Sebagian anggota komunitas filsafat “abang-abangan” mula-mula mengadopsi teks filosofis secara dangkal. Bias misoginis dalam sejumlah teks diterima mentah-mentah tanpa pembacaan kontekstual atau kritik feminis. Sikap sinis terhadap perempuan lalu dibungkus sebagai keberanian berpikir bebas atau sikap anti moralitas arus utama.

Setelah itu, obrolan mulai dipenuhi candaan seksis yang dianggap sebagai inside jokes tongkrongan. Anggota baru atau junior kerap didorong untuk memaklumi selera humor para senior, meski candaan tersebut sebenarnya merendahkan perempuan. Lelucon seksual dilemparkan di sela diskusi teori berat, lalu dirayakan sebagai tanda kelompok mereka lebih “bebas”, lebih “cerdas”, dan lebih “dewasa” dibanding masyarakat biasa.

Dalam beberapa ruang diskusi yang pernah saya temui, candaan seperti ini sering muncul begitu saja tanpa ada yang merasa perlu menegur. Ketika ada perempuan yang menunjukkan rasa tidak nyaman, respons yang muncul justru sindiran kalau perempuan terlalu sensitif atau tidak cukup “intelek” memahami humor mereka. Pada titik ini, rasa aman perempuan perlahan dikorbankan demi menjaga kenyamanan tongkrongan.

Ketika pola semacam ini dinormalisasi, ruang untuk menegur menjadi makin sempit. Siapa pun yang mencoba speak up mudah dicap terlalu sensitif, tidak nyambung, atau tidak punya selera humor intelektual. Label semacam ini akhirnya bekerja sebagai mekanisme sosial untuk membungkam kritik sekaligus mengisolasi mereka yang tidak tunduk pada kultur tongkrongan.

Dalam sejumlah situasi, normalisasi obrolan mesum dan seksis tersebut dapat berkembang menjadi pelecehan seksual nyata. Situasi makin rumit ketika para penonton pasif (bystanders) dan fasilitator (enablers) memilih diam demi menjaga kenyamanan kelompok. Solidaritas pertemanan dipelintir menjadi loyalitas maskulin toksik, di mana melindungi pelaku dianggap lebih penting dibanding memastikan korban mendapat ruang aman.

Pola ini tentu tidak selalu seragam di semua komunitas. Namun, candaan misoginis sering kali menjadi gejala awal yang tidak bisa diremehkan. Ketika korban mulai bersuara, mekanisme pertahanan kelompok biasanya langsung bekerja. Korban dituduh salah paham, terlalu terbawa perasaan, atau dianggap sengaja ingin merusak reputasi komunitas yang selama ini dipandang intelektual. Dalam situasi seperti ini, validasi sesama laki-laki sering kali lebih diprioritaskan dibanding empati terhadap korban.

Baca Juga: Pesan Penting Hari Ayah Nasional: Membongkar Maskulinitas Toksik

Ketika Kebebasan Berpikir Dipelintir Jadi Tameng

Salah satu persoalan mendasar dari sebagian sirkel “abang-abangan” ini adalah pemahaman yang keliru terhadap kebebasan berpikir. Belajar filsafat dipersepsikan sebagai alasan untuk menolak seluruh aturan moral dan kepedulian sosial. Sebagian bahkan terjebak dalam fantasi menjadi Übermensch ala Nietzsche secara dangkal tanpa memahami konteks filosofis yang lebih kompleks.

Akibatnya, filsafat direduksi menjadi manual untuk tampil dominan, dingin, dan superior. Fenomena ini memiliki kemiripan dengan kultur manosphere, termasuk komunitas incel dan red pill di ruang digital global. Debbie Ging dalam riset Alphas, Betas, and Incels: Theorizing the Manosphere (2019) menjelaskan bagaimana kelompok semacam ini memanfaatkan narasi intelektual untuk menjustifikasi misogini dan dominasi maskulin.

Ironisnya, pola tersebut juga dapat muncul di lingkungan akademik formal, termasuk komunitas mahasiswa filsafat sendiri. Beberapa komunitas bahkan mengundang akademisi atau dosen demi memperoleh legitimasi intelektual. Kehadiran figur akademik ini kemudian dipakai sebagai tameng simbolik untuk menutupi kultur tongkrongan yang sebenarnya dipenuhi candaan seksis dan relasi kuasa problematik. Semua dibingkai sebagai bagian dari kebebasan berpikir.

Kontradiksi lain terlihat ketika sebagian kelompok mengaku progresif dan anti penindasan, tetapi tetap menunjukkan sikap diskriminatif terhadap kelompok queer. Mereka menolak moralitas konservatif tertentu, namun tetap mempertahankan moralitas patriarkis mengenai gender dan seksualitas yang dianggap “normal”. Perspektif queer diperlakukan sebagai ancaman terhadap identitas maskulin mereka sendiri.

Paradoks ini cukup sering terlihat di ruang diskusi yang mengklaim paling kiri atau paling progresif. Isu kelas, buruh, dan anti kapitalisme dapat dibicarakan dengan lantang, tetapi perspektif gender dan seksualitas non-tradisional justru dianggap mengganggu kenyamanan kelompok. Di titik ini, progresivitas terkadang berhenti sebatas identitas intelektual, bukan praktik sosial yang benar-benar inklusif.

Padahal, filsafat tidak berhenti pada perdebatan abstrak tentang hakikat dunia. Filsafat juga berbicara tentang etika dan aksiologi, tentang bagaimana manusia memperlakukan sesama secara adil. Pemikir Indonesia seperti Karlina Supelli, Gadis Arivia, dan Romo Mangun berkali-kali menegaskan pengetahuan semestinya dipakai untuk membangun empati sosial, bukan membenarkan diskriminasi. Semakin dalam seseorang memahami filsafat, semestinya semakin besar pula kepekaannya terhadap ketidakadilan dan penghormatan terhadap tubuh orang lain.

Baca Juga: Pengalamanku Seminggu Mendengar Podcast Cinta Ngab-ngab

Merebut Kembali Ruang Pengetahuan yang Inklusif

Pola serupa sebenarnya tidak hanya ditemukan di sirkel filsafat. Komunitas berbasis STEM maupun ilmu sosial lain juga memiliki kerentanan yang sama terhadap budaya misoginis dan pelecehan. Kritik para pemikir feminis seperti Luce Irigaray dan Hélène Cixous sejak lama menunjukkan ilmu pengetahuan modern sering diproduksi dari perspektif maskulin sambil menyingkirkan pengalaman perempuan.

Ketika ruang diskusi dipenuhi ego patriarki, pengetahuan berubah fungsi menjadi alat dominasi baru. Istilah teoritis, rumus rumit, maupun jargon akademik dipakai bukan untuk membebaskan manusia, melainkan untuk membangun citra superior dan mengontrol ruang diskusi secara toksik.

Perempuan dan kelompok marjinal selama berabad-abad memang menghadapi ketimpangan akses terhadap pengetahuan. Hingga kini, perempuan masih sering diposisikan sebagai pelengkap, token representasi, atau sekadar pengisi meja notulensi dalam ruang akademik formal. Sementara di ruang komunitas informal, mereka rentan dikomodifikasi dan menjadi sasaran pelecehan seksual.

Sebagai perempuan, saya sering merasa ruang pengetahuan yang katanya terbuka justru menuntut perempuan untuk terus waspada. Tidak hanya terhadap pelecehan terang-terangan, tetapi juga terhadap kultur intelektual yang diam-diam menikmati ketimpangan sambil menyebut dirinya progresif. Dalam banyak kasus, perempuan dipaksa menyesuaikan diri dengan kultur tongkrongan maskulin agar dianggap cukup “nyambung” untuk diterima di ruang diskusi.

Ketimpangan ini diperparah ketika teori kebebasan dan emansipasi justru dipelintir untuk melindungi kenyamanan kelompok dominan. Pengetahuan yang semestinya menjadi alat pembebasan berubah menjadi tameng untuk menghindari akuntabilitas moral.

Karena itu, ruang pengetahuan perlu direbut kembali sebagai ruang yang benar-benar aman dan inklusif. Filsafat, sains, maupun teori sosial semestinya tidak dipakai untuk mempertontonkan superioritas ego, tetapi untuk memperluas empati dan membongkar relasi kuasa yang menindas. Tanpa itu, intelektualitas hanya akan menjadi wajah baru patriarki yang dibungkus jargon progresif.

Rully Restiana adalah pekerja lepas yang mengawali perjalanan akademisnya sebagai lulusan studi Jepang, sekaligus ibu dari tiga anak yang ingin berisik terhadap isu gender.

About Author

Rully Restiana