5 Artikel Pilihan: ‘Pesta Babi’, Review ‘Ladies First’, hingga Stigma Menjadi Orang Tua Tunggal
1. ‘Pesta Babi’: Ketika Beras Menjadi Alat Kuasa di Papua
Ada satu kalimat yang begitu akrab di telinga kita: belum makan kalau belum makan nasi. Ia sering diucapkan sambil bercanda, tetapi sesungguhnya menyimpan sejarah panjang tentang bagaimana negara membentuk selera makan warganya.
Di banyak tempat di Indonesia, nasi bukan sekadar makanan. Ia menjadi ukuran kenyang, simbol kemajuan, bahkan penanda “makan yang benar”. Padahal, jauh sebelum beras mendominasi meja makan, banyak masyarakat hidup dari pangan lokal: sagu, jagung, umbi-umbian, pisang, sorgum, dan sukun. Di Papua, sagu bukan hanya sumber karbohidrat. Ia adalah pengetahuan, kekerabatan, ekonomi, dan cara masyarakat adat merawat kesinambungan hidup.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. Sudah WNI, Janda Pula: Stigma yang Warnai Perempuan Orang Tua Tunggal
Sebelum melayangkan gugatan cerai ke pengadilan pada 2017, Poppy Dihardjo, 50, sudah lebih dulu melalui tantangan sebagai orang tua tunggal. Kala itu, Poppy harus membiasakan dinamika hidup yang baru bersama anak. Sebab, mantan pasangannya telah meninggalkan rumah sejak 2015.
Bagi anak Poppy, kata “kerja” sempat terdengar menakutkan. Ayahnya pergi dengan alasan bekerja, tetapi tidak pernah kembali ke rumah. Pengalaman itu membuat anak Poppy dihantui rasa takut ditinggalkan.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. ‘Ladies First’: Dunia Jungkir Balik yang Diam-diam Diimpikan Perempuan
Seorang lelaki sukses, kaya raya, dan terbiasa hidup dalam privilese tiba-tiba terbangun di dunia yang sepenuhnya dipimpin perempuan. Itulah premis utama Ladies First, film komedi satire karya Thea Sharrock yang baru tayang di platform streaming Netflix.
Film ini tampil cukup berani dalam membalik struktur sosial yang selama ini dianggap normal. Damien Sachs (Sacha Baron Cohen) digambarkan sebagai bos eksekutif perusahaan yang patriarkis, arogan, dan kerap berperilaku seenaknya. Konflik mulai muncul ketika ia bersitegang dengan bawahannya, Alex Fox (Rosamund Pike), yang dilibatkan sebagai representasi perempuan untuk proyek terbaru perusahaan.
Simak artikelnya di sini.
4. Membongkar Pelecehan di Sirkel “Abang-Abangan” Filsafat
Sirkel diskusi filsafat yang digerakkan figur “abang-abangan” kini makin menjamur di kalangan anak muda urban. Mulai dari kedai kopi, tongkrongan kampus, hingga grup WhatsApp dan server Discord, ruang-ruang ini kerap dipandang sebagai tempat diskusi alternatif yang kritis, progresif, dan terbuka. Namun di balik obrolan teori berat dan jargon intelektual, sebagian ruang tersebut justru menyimpan relasi kuasa yang menekan, terutama terhadap perempuan dan kelompok marjinal.
Sebagai perempuan yang beberapa kali bersinggungan dengan ruang diskusi semacam ini, saya melihat bagaimana perempuan sering hadir bukan benar-benar sebagai subjek intelektual, melainkan pelengkap atmosfer tongkrongan. Pendapat perempuan mudah dipotong atau diabaikan.
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. Cium Tangan Pasangan ‘No’, Bercumbu ‘Yes’
Di stasiun, terminal, dan bandara, kita kerap menyaksikan adegan yang tampak akrab sekaligus dianggap “normal”: Perempuan menunduk lalu mencium tangan pasangannya sebelum berpisah. Adegan di ruang-ruang transisi yang emosional ini sering dibaca sebagai ekspresi cinta, kepatuhan yang manis, atau tradisi yang layak dipertahankan. Namun, justru di ruang publik modern semacam itulah simbol-simbol lama tentang relasi kuasa bekerja paling telanjang.
Cium tangan dalam relasi pasangan, khususnya pasutri, bukan gestur netral. Ia merupakan simbol yang membawa sejarah, nilai, dan struktur kuasa. Simbol tersebut tidak bisa begitu saja dilepaskan hanya dengan menyebutnya sebagai “adat” atau “ungkapan sayang”.
Baca artikel selengkapnya di sini.





















