03/06/2026
History Issues

10 Perempuan Ilmuwan yang Terhapus dari Sejarah Gara-gara Efek Matilda

10 perempuan ilmuwan di bawah ini namanya tidak dikenal bahkan terhapus dari sejarah karena diskriminasi bernama Efek Matilda.

  • February 12, 2026
  • 8 min read
  • 1045 Views
10 Perempuan Ilmuwan yang Terhapus dari Sejarah Gara-gara Efek Matilda

Masih ingat dengan Hidden Figures (2015)? Film yang menyabet tiga nominasi bergengsi, termasuk Film Terbaik di ajang penghargaan Oscar ini menarik animo penonton. Terinspirasi dari kisah buku non-fiksi karya Margot Lee Shetterly, film menceritakan Mary Jackson (Janelle Monáe), Katherine Johnson (Taraji P. Henson), dan Dorothy Vaughan (Octavia Spencer). 

Katherine Johnson adalah sosok di balik perhitungan lintasan kritis peluncuran Mercury hingga Apollo 11, termasuk memverifikasi secara manual perhitungan komputer untuk orbit John Glenn.  

Dorothy Vaughan secara otodidak menguasai bahasa pemrograman FORTRAN guna mengoperasikan mesin IBM pertama, memastikan masa depan timnya tetap relevan di era digital. Sementara itu, Mary Jackson menembus batas segregasi hukum untuk menjadi insinyur perempuan kulit hitam pertama yang ahli dalam analisis aerodinamika pesawat.  

Ketiganya adalah otak penggerak utama di balik keberhasilan Amerika menaklukkan ruang angkasa. Sayang, selama berpuluh-puluh tahun, kontribusi mereka terkubur dalam sejarah. Nama-nama mereka asing bagi publik, sementara penghormatan dan kemasyhuran lebih banyak mengalir kepada para astronot serta teknisi laki-laki. 

Apa yang dialami ketiga perempuan ini adalah fenomena yang kerap terjadi di dunia sains, Efek Matilda. Istilah ini pertama kali dicetuskan oleh sejarawan sains Margaret W. Rossiter dalam penelitiannya berjudul “The Matthew Matilda Effect in Science” (1993).  

Dalam penelitiannya, Rossiter menjelaskan Efek Matilda merupakan diskriminasi gender yang bikin pencapaian perempuan ilmuwan enggak diakui, tapi justru diatribusikan kepada rekan laki-laki. Efek Matilda berdampak nyata pemberian penghargaan ilmiah bergengsi dan pola kutipan akademik yang tidak seimbang.  

Dikutip dari artikel dari National Geographic, Efek Matilda menjelaskan alasan perempuan yang melakukan terobosan selevel Nobel, justru enggak pernah memenangkan penghargaan tersebut. Salah satunya tampak dalam kasus penemuan struktur DNA atau fisi nuklir.  

Diskriminasi ini sendiri enggak hanya merampas pengakuan individu, tetapi juga menciptakan persepsi keliru. Bahwa perempuan kurang berkontribusi dalam kemajuan teknologi dan sains. Untuk para perempuan-perempuan yang namanya dihapuskan dalam sejarah dan digantikan oleh laki-laki, Magdalene membuat daftar perempuan ilmuwan yang wajib kita ketahui: 

Baca juga: Kepergian Jane Goodall dan Warisan Abadi untuk Ilmu dan Bumi

1. Rosalind Franklin 

Rosalind Franklin adalah kimiawan dan kristalografer sinar-X yang kontribusinya sangat krusial dalam memahami struktur molekul DNA. Melalui “Foto 51” yang ia hasilkan, Franklin berhasil menunjukkan bentuk heliks ganda DNA secara presisi. Namun, tanpa izin atau consent-nya, foto dan data penelitian itu ditunjukkan oleh rekannya, Maurice Wilkins, kepada James Watson dan Francis Crick.  

Data ini menjadi kunci yang memungkinkan Watson dan Crick membangun model DNA mereka. Ketika Watson, Crick, dan Wilkins dianugerahi Hadiah Nobel Kedokteran pada 1962, nama Franklin sama sekali tidak disebutkan.  

Franklin telah meninggal dunia karena kanker empat tahun sebelumnya, persisnya pada usia 37 tahun. Meskipun peraturan Nobel tidak mengizinkan penghargaan diberikan secara anumerta, dunia sains baru mengakui kontribusi Franklin bertahun-tahun kemudian. Bahwa tanpa ketelitian Franklin, struktur DNA mungkin tetap menjadi misteri untuk waktu yang lebih lama. Franklin adalah korban paling ikonik dari Efek Matilda, di mana hasil kerja keras intelektualnya menjadi jembatan kemasyhuran bagi rekan laki-lakinya. 

2. Jocelyn Bell Burnell 

Pada 1967, Jocelyn Bell Burnell, yang saat itu masih jadi mahasiswa pascasarjana di Universitas Cambridge, menemukan pulsar–bintang neutron yang berputar cepat dan memancarkan radiasi elektromagnetik.  

Ia mengidentifikasi sinyal radio aneh yang berdenyut dengan keteraturan luar biasa. Meskipun dialah yang pertama kali mengamati dan menganalisis fenomena ini, pengakuan dunia internasional justru jatuh ke tangan orang lain.  

Ketika penemuan pulsar dianugerahi Hadiah Nobel Fisika pada 1974, penghargaan tersebut diberikan kepada pembimbingnya, Antony Hewish, dan rekan senior lainnya, Martin Ryle. Nama Bell Burnell diabaikan sepenuhnya oleh Komite Nobel.  

3. Lise Meitner 

Lise Meitner adalah fisikawan yang memberikan penjelasan teoretis pertama tentang fisi nuklir (pembelahan inti atom). Ia bekerja sama dengan Otto Hahn selama tiga dekade. Saat Meitner terpaksa melarikan diri dari Nazi karena identitas Yahudinya, ia terus membimbing eksperimen Hahn melalui surat.  

Namun, ketika Hahn mempublikasikan temuan tersebut, ia menghapus nama Meitner untuk menghindari masalah politik. Pada 1944, Otto Hahn menerima Hadiah Nobel Kimia sendirian. Meitner dinominasikan sebanyak 48 kali di berbagai kategori sepanjang hidupnya, namun selalu gagal memenangkan Nobel karena bias gender dan politik. Namanya diabadikan sebagai elemen Meitnerium atas kontribusinya yang sempat dilenyapkan sejarah. 

Baca juga: Hipatia, Perempuan Ilmuwan yang Dibunuh karena Isi Otaknya

4. Esther Lederberg 

Esther Lederberg adalah perintis genetika bakteri yang menemukan fag lambda (virus yang menyerang bakteri) dan teknik replica plating. Teknik ini memungkinkan ilmuwan memindahkan koloni bakteri secara konsisten untuk mempelajari mutasi.  

Penemuannya menjadi fondasi biologi molekular modern. Sayangnya, Hadiah Nobel 1958 justru jatuh kepada suaminya, Joshua Lederberg, atas penemuan di bidang genetika bakteri. Esther, yang melakukan sebagian besar kerja laboratorium yang teliti, sering kali hanya dianggap sebagai asisten pendukung suaminya.  

Ia harus berjuang keras mendapatkan posisi akademik yang setara, sementara Joshua melesat menjadi bintang sains dunia. Kontribusinya tetap berada di bawah bayang-bayang suaminya selama puluhan tahun hingga sejarah sains modern menggalinya kembali. 

5. Chien-Shiung Wu 

Sering dijuluki sebagai “Ibu Negara Fisika,” Chien-Shiung Wu adalah fisikawan eksperimental yang mematahkan salah satu hukum fundamental fisika, yakni hukum kekekalan paritas. Pada tahun 1956, dua fisikawan teoretis, Tsung-Dao Lee dan Chen Ning Yang, mengajukan teori bahwa paritas mungkin tidak berlaku dalam interaksi nuklir lemah.  

Mereka meminta Wu untuk membuktikannya. Wu merancang dan melaksanakan eksperimen yang sangat rumit menggunakan isotop kobalt-60 pada suhu yang mendekati nol mutlak. Eksperimennya berhasil membuktikan teori tersebut benar.  

Namun, ketika Hadiah Nobel Fisika tahun 1957 diberikan, hanya Lee dan Yang yang menerimanya. Wu diabaikan sepenuhnya meski dialah yang menyediakan bukti empiris yang mengubah paradigma fisika selamanya. Diskriminasi ini tidak menghentikan Wu. Ia terus menjadi ilmuwan terkemuka dan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai Presiden American Physical Society.  

6. Nettie Stevens 

Nettie Stevens adalah ilmuwan yang menemukan bahwa jenis kelamin ditentukan oleh kromosom (X dan Y), bukan faktor lingkungan. Melalui penelitian teliti pada ulat bambu, ia menyimpulkan bahwa sperma membawa kromosom penentu jenis kelamin.  

Penemuan ini dipublikasikan pada 1905, hampir bersamaan dengan Edmund Beecher Wilson. Namun, karena Wilson adalah ilmuwan senior yang lebih mapan, ia mendapatkan kredit utama dalam buku teks sejarah sains selama satu abad.  

Kontribusi Stevens sering kali dianggap sebagai “pelengkap” karya Wilson, padahal Stevens memberikan bukti yang lebih kuat tentang peran kromosom Y. Ia meninggal karena kanker payudara di usia 50 tahun, sebelum sempat melihat teorinya diterima sebagai dasar genetika modern. 

7. Alice Ball 

Alice Ball adalah kimiawan Afrika-Amerika yang menemukan “Metode Ball”, pengobatan paling efektif untuk penyakit kusta di awal abad ke-20. Ia berhasil mengekstraksi minyak chaulmoogra agar bisa disuntikkan dan diserap tubuh secara efektif. Tragisnya, Ball meninggal di usia 24 tahun sebelum sempat mempublikasikan temuannya.  

Arthur L. Dean, profesor dan presiden universitasnya, kemudian mengklaim penemuan tersebut sebagai miliknya, mempublikasikannya tanpa menyebut nama Ball, dan bahkan menamakan teknik itu “Metode Dean.”  

Selama puluhan tahun, Dean dipuja sebagai pahlawan medis, sementara nama Ball lenyap. Baru pada tahun 1970-an, para sejarawan berhasil mengembalikan hak intelektual Ball atas penemuan yang menyelamatkan ribuan nyawa tersebut. 

Baca juga: Penyintas Bom Atom Jepang Raih Nobel Perdamaian Tahun ini

8. Hedy Lamarr 

Dunia mengenal Hedy Lamarr sebagai aktris Hollywood yang glamor, tapi sedikit yang tahu ia penemu visioner. Selama Perang Dunia II, Lamarr bekerja sama dengan komposer George Antheil untuk mengembangkan sistem “lompatan frekuensi” (frequency hopping) yang bertujuan agar torpedo radio milik Sekutu tidak bisa disadap oleh Nazi.  

Meskipun ia berhasil mematenkan penemuan ini pada tahun 1942, Angkatan Laut Amerika Serikat mengabaikannya karena menganggap Lamarr hanyalah seorang aktris yang tidak mengerti teknologi. Patennya dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun.  

Namun, prinsip dasar lompatan frekuensi yang ia temukan kini menjadi fondasi teknologi modern yang kita gunakan setiap hari, seperti Wi-Fi, Bluetooth, dan GPS. Lamarr tidak pernah menerima keuntungan finansial dari penemuannya yang bernilai miliaran dolar tersebut. 

9. Vera Rubin 

Vera Rubin adalah astronom yang membuktikan keberadaan materi gelap (dark matter) melalui pengamatan rotasi galaksi. Ia menemukan bintang di pinggiran galaksi bergerak sama cepatnya dengan bintang di pusat, membuktikan adanya massa tak terlihat yang sangat masif.  

Penemuan ini mengubah dasar kosmologi selamanya. Meski kontribusinya setara dengan revolusi Copernicus, Rubin secara konsisten diabaikan oleh Komite Nobel hingga kematiannya pada 2016. Padahal, penemuan materi gelap adalah salah satu tonggak terbesar dalam fisika abad ke-20.  

Banyak pihak menganggap kegagalan Rubin mendapatkan Nobel adalah bukti bias gender yang mendalam terhadap perempuan di bidang astronomi, yang selama bertahun-tahun dilarang menggunakan teleskop utama. 

10. Gladys West 

Gladys West adalah matematikawan yang membangun model matematika bentuk bumi (geoid) yang sangat presisi. Perhitungan rumitnya yang memproses data satelit menjadi fondasi utama bagi pengembangan teknologi GPS yang kita gunakan hari ini.  

Selama puluhan tahun, kontribusinya disembunyikan dalam catatan militer dan ia tidak mendapatkan pengakuan publik. Namanya baru mencuat setelah ia menulis memoar singkat untuk sebuah klub alumni.

Selama masa kerjanya, kesuksesan GPS sering kali dikreditkan kepada tim insinyur laki-laki di pangkalan militer. West baru dilantik ke dalam Air Force Space and Missile Pioneers Hall of Fame pada 2018 di usia 87 tahun, setelah sejarah hampir melupakan “komputer manusia” yang memetakan dunia kita. 

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.