Aktivisme Seharusnya Terbuka buat Semua, tapi Tidak untuk Perempuan Disabilitas Seperti Saya
Bagaimana seseorang bisa terlibat dalam aktivisme sosial, politik, feminis, dan lingkungan, sementara setiap hari ia harus berhadapan dengan diskriminasi dan hambatan struktural sebagai orang dengan disabilitas? Pertanyaan itu terus berputar di kepala saya, beriringan dengan kegelisahan lain yang enggak kalah mengganggu. Apakah aktivisme juga membutuhkan privilese, baik privilese identitas, waktu, akses sosial, maupun rasa aman?
Beberapa waktu lalu, di belakang gedung unit layanan disabilitas di kampus tempat saya berkuliah, sebuah percakapan terjadi dan menetap lama di ingatan saya. Di antara kepulan asap rokok seorang staf kampus lulusan Sosiologi dan saya sebagai mahasiswa Sosiologi tahun kedua, pertanyaan dilontarkan.
“Bagaimana rasanya menjadi perempuan, beragama minoritas, sekaligus orang dengan disabilitas? Apalagi sebagai mahasiswa perantau di pulau dengan mayoritas yang berbeda?”
Pertanyaan itu datang dari laki-laki nondisabilitas dari kelompok mayoritas, yang juga kawan baik saya di universitas. Nadanya empatik, khas percakapan sosiologi yang mencoba memahami pengalaman orang lain. Namun, sepersekian detik setelah pertanyaan itu terlontar, saya justru kesulitan menjawabnya.
Saya memahami maksudnya, tetapi pengalaman yang saya miliki terasa terlalu berlapis untuk dijelaskan dengan mudah. Silang sengkarut identitas itu seperti terlalu panjang dan berbelit untuk dirangkai dalam kalimat. Rasanya akan jauh lebih mudah jika pengalaman itu bisa dipindahkan begitu saja ke kepala orang lain.
Alih-alih menjawab secara langsung, saya justru melontarkan kemungkinan lain. “Yah, hidup dengan semua identitas itu sudah sulit. Belum lagi kalau aku mengidentifikasi diri dengan ekspresi gender dan seksualitas yang berbeda. Beuh, bakalan lebih runyam lagi hidupku.”
Kami tertawa, tetapi tawa itu terasa ironis. Dari situ, saya jadi membayangkan perempuan orang dengan disabilitas, beragama minoritas, sekaligus seorang lesbian, seseorang dengan identitas berlapis yang mungkin benar-benar ada di luar sana dengan pengalaman diskriminasi yang bahkan belum tentu bisa saya bayangkan sepenuhnya.
Bayangan itu terasa seperti melihat kehidupan yang sejak awal sudah dipenuhi kemungkinan hukuman sosial. Seolah-olah seseorang telah diberi paket identitas yang membuatnya terus-menerus berada dalam posisi rentan, dengan berbagai bentuk penolakan yang datang dari masyarakat.
Sejak percakapan itu, saya mulai menyadari pengalaman saya tidak bisa dijelaskan hanya dengan satu atau dua identitas. Ada lapisan-lapisan yang saling bertumpuk dan saling memengaruhi. Pencarian itu membawa saya pada konsep interseksionalitas yang diperkenalkan Kimberlé Crenshaw, cara memahami bagaimana berbagai identitas sosial hadir bersamaan dalam membentuk pengalaman hidup seseorang.
Namun, memahami konsep ini secara teoritis jauh lebih mudah dibandingkan menjelaskannya dalam pengalaman nyata. Interseksionalitas bukan sekadar daftar identitas, melainkan kondisi ketika batas antaridentitas menjadi kabur. Saya tidak bisa memisahkan pengalaman sebagai perempuan, orang dengan disabilitas, atau bagian dari kelompok minoritas, karena semuanya hadir sekaligus dalam satu tubuh.
Baca Juga: Representasi Kelompok Difabel dalam Riset Masih Minim
Aktivisme Tak Selalu Terbuka untuk Semua
Ketika pertanyaan itu terus terngiang, saya mulai memahami sesuatu yang sebelumnya tidak saya sadari. Identitas berlapis yang saya miliki memengaruhi energi dan kemampuan saya untuk berbicara tentang isu. Bahkan sebelum berbicara, saya sudah berhadapan dengan hambatan struktural yang tidak ringan.
Saya tidak bisa berbicara sebagai satu identitas tanpa membawa identitas lain. Ketika mencoba berbicara tentang feminisme, saya lebih dulu berhadapan dengan realitas sebagai orang dengan disabilitas di negara yang belum sepenuhnya menjamin hak hidup yang layak. Dalam kondisi seperti itu, berbicara tentang isu yang lebih luas terasa semakin sulit.
Di titik ini, saya sampai pada kesimpulan yang terasa tidak nyaman. Menjadi aktivis, dalam beberapa hal, mungkin memang membutuhkan privilese. Privilese untuk tidak terus-menerus merasa terancam di ruang publik sebagai perempuan. Privilese untuk tidak berhadapan dengan hambatan struktural akibat disabilitas. Privilese untuk memiliki dukungan sosial yang cukup.
Saya mungkin memiliki yang terakhir, tetapi dua lainnya tidak selalu saya miliki. Tubuh dan pikiran saya sering kali terasa tidak pas untuk ditempatkan dalam bentuk aktivisme yang ada. Aktivisme tidak hanya soal kesadaran, tetapi juga soal kemungkinan hidup, sesuatu yang tidak dimiliki semua orang.
Saya melihat teman-teman di kampus yang tidak memiliki hambatan sensori dapat menavigasi aktivisme dengan lebih luwes. Mereka tetap bisa terlibat dalam berbagai isu, bahkan ketika berasal dari kelompok minoritas tertentu. Sementara saya hidup di dalam minoritas yang lebih kecil lagi, dengan batas-batas yang terasa lebih nyata.
Saya masih ingat saat berjalan di kampus dengan tongkat putih di tangan. Di sekitar saya, mahasiswa berdiskusi tentang politik, lingkungan, hak asasi manusia, dan isu global. Sementara itu, saya harus fokus agar tidak terjatuh akibat infrastruktur yang buruk. Ada jarak yang terasa nyata antara wacana besar yang dibicarakan dan pengalaman sehari-hari yang saya hadapi.
Selama ini, saya berada cukup dekat dengan aktivisme. Saya terlibat di beberapa ruang, melakukan hal-hal yang saya anggap penting, dan menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar. Namun, saya tetap ragu menyebut diri sebagai aktivis, karena sebagian dari identitas saya justru membuat saya berhenti sebelum benar-benar masuk lebih jauh.
Saya menyadari tidak semua orang memiliki kemewahan untuk menjadi aktivis. Menyebutnya sebagai kemewahan mungkin terdengar berlebihan, tetapi bagi saya yang hidup dengan berbagai keterbatasan, hal itu terasa nyata. Aktivisme bukan hanya soal pilihan, tetapi juga soal kemungkinan.
Di titik ini, saya berdiri di antara dua ruang. Cukup dekat untuk memahami aktivisme, tetapi tetap berada di batas yang membuat saya tidak sepenuhnya menjadi bagian darinya. Mungkin persoalannya bukan berada di dalam atau di luar, melainkan tidak pernah benar-benar masuk dalam hitungan.
Bagi saya, interseksionalitas membantu menjelaskan jenis penindasan yang saya alami sebagai perempuan orang dengan disabilitas dari kelompok minoritas. Namun ketika berhadapan dengan aktivisme, konsep itu terasa seperti tembok yang masih bisa dilihat ujungnya, tetapi tetap membutuhkan tenaga lebih untuk dilampaui.





















