07/07/2026
#WaveForEquality Economy Issues Politics & Society

Anak Perempuan Bukan Investasi Masa Tuamu, Cerita Mereka yang Jadi ‘Caretaker’ karena Gendernya

Banyak perempuan terbebani perawatan orang tua karena ekspektasi sosial, sampai hidup dan karier mereka dikorbankan

  • February 9, 2026
  • 5 min read
  • 5335 Views
Anak Perempuan Bukan Investasi Masa Tuamu, Cerita Mereka yang Jadi ‘Caretaker’ karena Gendernya

Tak ada yang menyangka di usia 52 tahun, saat rekan sejawatnya menikmati puncak karier dan hasil jerih payah mereka, Maria justru terbebani tanggung jawab perawatan yang menguras seluruh hidupnya. Tiga tahun lalu, ibu Maria divonis mengidap diabetes. Sejak saat itu, setiap pagi Maria memulai harinya dengan jadwal ketat demi memastikan kebutuhan medis ibunya terpenuhi tepat waktu. 

“Tiap hari sebelum berangkat kantor, saya harus ke rumah Mama buat cek tensinya, ngasih obat, suntik insulin, bahkan nyiapin sarapannya. Baru abis itu saya berangkat kantor,” ungkap Maria. 

Tekanan ini tidak berakhir setelah jam kerja. Maria masih harus berbelanja kebutuhan pokok dan merawat ibunya hingga malam sebelum kembali ke rumah sendiri. Semua dilakukan tanpa bantuan adik laki-lakinya yang tinggal serumah dengan sang ibu. 

Berulang kali Maria mengeluhkan beban ini, namun keluhannya dijawab dengan justifikasi yang menempatkan tanggung jawab itu sebagai konsekuensi alami dari identitasnya sebagai perempuan. 

“Mereka bilang kan saya anak perempuan, ya wajarlah kalau saya yang urus Mama. Sedih juga, saya cuma berharap saya enggak ikutan sakit saja abis ini,” tuturnya. 

Baca Juga: Beban Perempuan-Pekerja-Urban dan Pertanyaan ‘Yakin Nikah’?

Ekspektasi Jadi Pengasuh Orang Tua 

Maria bukan satu-satunya. Tika, 48, anak perempuan tengah dari dua saudara laki-laki, menghadapi situasi serupa. Ayahnya terkena stroke, dan tanggung jawab perawatan dipikul sepihak oleh Tika, tanpa pembicaraan mengenai kesanggupan maupun ketersediaan waktu. 

Karier Tika di sebuah bank ternama terganggu. Dalam padatnya rapat dan proyek, ia harus berulang kali mengajukan izin demi merawat sang ayah. Rutinitasnya berubah menjadi maraton melelahkan: sebelum berangkat dan sesudah pulang kantor, Tika hadir di rumah orang tua. Upaya mempekerjakan suster pun gagal karena ayahnya menolak dirawat orang asing. 

“Kalau lo tumbang, baru gue aja,” kata kakaknya saat Tika marah. Mereka seolah melihat ini memang pekerjaan anak perempuan. Setelah hampir satu setengah tahun bertahan, Tika jatuh sakit dan harus dilarikan ke rumah sakit. Baru setelah itu kedua saudara laki-lakinya mau mengambil peran. 

Valentina Yulita Dyah Utari, peneliti senior dari Smeru Research Institute menjelaskan, beban pengasuhan yang jatuh pada perempuan bukan kebetulan. Dalam wawancara pada (3/2) lalu, ia menjelaskan ekspektasi agar perempuan merawat orang tua yang sakit atau lansia telah mengakar kuat dalam struktur masyarakat, diperkuat tafsir agama dan nilai budaya turun-temurun. 

“Sedari kecil, perempuan dididik, langsung atau tidak langsung, bahwa merekalah yang cocok atau seharusnya jadi pengasuh utama keluarga,” jelas Valentina. 

Dalam konteks budaya tertentu, seperti suku Jawa, memiliki anak perempuan dianggap jaminan hari tua. Anak laki-laki akan melanjutkan nama keluarga, sedangkan anak perempuan diharapkan merawat orang tua saat dewasa. Kondisi ini semakin berat bagi perempuan lajang, yang dianggap memiliki waktu luang sehingga beban pengasuhan jatuh pada mereka. 

Penelitian Je Eunsook bertajuk “Unmarried Daughters as Family Caregivers” (2021) menunjukkan masyarakat dengan logika kekeluargaan kuat cenderung menciptakan struktur ganda dalam perawatan keluarga. Anak perempuan yang tidak menikah diwajibkan menjaga orang tua agar saudara laki-laki atau yang sudah menikah tetap fokus bekerja dan membesarkan keluarga inti mereka. 

Bias gender yang menubuh juga memposisikan perempuan sebagai lebih teliti, telaten, dan sabar. Survei ILO dan Katadata (2023) mencatat meski sebagian menyadari tanggung jawab perawatan seharusnya dibagi, pandangan bahwa sifat sabar dan telaten “milik” perempuan tetap dominan (78,7 persen), sehingga beban jarang dibagi secara adil. 

Norma gender tetap kokoh bahkan di lingkungan matrilineal, seperti perempuan Minang yang tetap diekspektasikan menjadi pengasuh utama. Karena internalisasi kuat, mereka merasa kewajiban ini sebagai tanggung jawab moral sendiri. 

“Jadi muncul rasa tidak nyaman atau bersalah jika mereka tidak mampu atau tidak mau mengurus orang tua secara mandiri,” jelas Valentina lagi. 

Susan, 58, dosen di Jawa Barat yang lajang, merasakan langsung realitas ini. Ia mengurus ibunya yang menderita Alzheimer sendiri, mulai dari memandikan, menyiapkan makan, hingga membersihkan kotoran, di sela kesibukan akademisnya. 

“Ya memang begini toh tugasnya anak perempuan. Capek, tapi jalani saja, Tuhan pasti akan membalasnya nanti,” katanya. 

Baca Juga: Yang Tak Dilihat dari Cuti Perawatan: Tanggung Jawab Bersama, Bukan Beban Perempuan

Soft Policy Saja Tak Cukup 

Valentina menilai kebijakan pemerintah, seperti Peta Jalan Ekonomi Perawatan 2025–2045, masih bersifat soft policy tanpa daya paksa hukum. Indonesia membutuhkan regulasi yang kuat, dengan perspektif gender tajam untuk memutus rantai beban perawatan ini. 

Ketersediaan jaminan sosial dan infrastruktur perawatan bagi lansia dan pekerja informal menjadi poin krusial. Tanpa itu, anak perempuan dipaksa mengorbankan ruang produktifnya. 

“Nanti anak perempuannya berhenti kerja ketika harus mengurus orang tuanya yang perlu perawatan khusus. Kenapa dia jadi berhenti kerja? Karena tidak ada pelayanan publik yang bisa mendukung perawatan,” jelas Utari. 

Transformasi budaya melalui narasi kolektif menjadi pendamping perubahan regulasi. Cerita tentang laki-laki yang terlibat aktif dalam pengasuhan penting untuk menormalisasi peran baru. 

“Kerja perawatan tidak lagi kodrat perempuan, melainkan tanggung jawab kemanusiaan. Ayah dan anak laki-laki juga bisa dan harus melakukannya,” pungkas Valentina. 

Dengan sinergi kebijakan progresif dan penghancuran stigma gender, kerja perawatan dapat menjadi tanggung jawab bersama yang dipikul adil, bukan beban yang mematikan masa depan perempuan. 

Ilustrasi oleh Jelita A. Rembulan

This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government. 

Series lainnya bisa dibaca di sini. 

About Author

Jasmine Floretta V.D

Jasmine Floretta V.D. adalah pencinta kucing garis keras yang gemar membaca atau binge-watching Netflix di waktu senggangnya. Ia adalah lulusan Sastra Jepang dan Kajian Gender UI yang memiliki ketertarikan mendalam pada kajian budaya dan peran ibu atau motherhood.