03/06/2026
Feminism A to Z Issues

Apa itu ‘The Ideal Victim’: Kala Warganet Gagal Fokus Salahkan Korban Kekerasan

Respons netizen terhadap kasus pembacokan mahasiswa di Riau mencerminkan konsep ‘the ideal victim’.

  • March 11, 2026
  • 4 min read
  • 1027 Views
Apa itu ‘The Ideal Victim’: Kala Warganet Gagal Fokus Salahkan Korban Kekerasan

*Peringatan pemicu: Kekerasan berujung percobaan femisida.

Akhir Februari lalu, FAP, mahasiswi di Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau, dibacok oleh temannya saat sedang menunggu sidang tugas akhir. Ia mengalami luka di lengan, punggung, dan kepala. Sementara RM, pelaku, telah ditetapkan sebagai tersangka.

RM dan korban saling mengenal dari kelompok program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Hubungan mereka kemudian berkembang menjadi pertemanan dekat hingga korban memutuskan menjaga jarak karena telah memiliki pasangan. RM tidak menerima keputusan tersebut dan merasa ditinggalkan. Ia lalu merencanakan penyerangan sejak 2025.

Di media sosial, respons netizen terbelah setelah alasan korban meninggalkan RM diketahui publik. Sebagian menyalahkan korban karena dianggap memperlakukan RM sebagai “opsi” dalam hubungan romantis. Bahkan, ada yang membela atau memaklumi penyerangan terhadap korban, seolah seseorang yang menyakiti orang lain pantas mengalami kekerasan.

Respons semacam ini sering dikaitkan dengan konsep the ideal victim, yakni seperangkat “syarat” sosial agar seseorang dianggap layak disebut sebagai korban.

Baca Juga: Cinta Ditolak, Tetap Bertindak: Alasan Cowok Sulit Nerima Penolakan 

Mengenal The Ideal Victim 

Konsep ini pertama kali diperkenalkan oleh kriminolog asal Norwegia, Nils Christie. Dalam karya seminalnya, Ideal Victim dalam From Crime Policy to Victim Policy (1986), Christie menjelaskan beberapa kategori yang membuat seseorang lebih mudah diakui sebagai korban oleh masyarakat.

Pertama, korban dipersepsikan sebagai sosok yang lemah. Kerentanan ini berkaitan dengan kondisi fisik maupun sosial, misalnya orang tua, perempuan, atau anak-anak yang sedang sakit. Kelompok tersebut sering dianggap sebagai korban “ideal” karena dinilai tidak memiliki kapasitas untuk melawan.

Kedua, korban sedang melakukan kegiatan yang mulia. Jika seseorang mengalami kekerasan ketika melakukan tindakan baik, masyarakat cenderung tidak mempertanyakan keberadaannya di lokasi kejadian. Contohnya ibu hamil yang tertabrak motor saat membantu lansia menyeberang jalan.

Ketiga, korban tidak melakukan sesuatu yang dianggap “tidak pantas”. Penilaian ini sering berkaitan dengan lokasi, waktu, atau perilaku korban sebelum kejadian berlangsung.

Contohnya terlihat pada perempuan korban kekerasan seksual yang disalahkan karena mengenakan pakaian tertentu di malam hari. Alih-alih memusatkan perhatian pada pelaku, sebagian masyarakat justru menyudutkan korban karena pakaian yang dikenakan atau situasi tempat ia berada.

Keempat, pelaku dipersepsikan sebagai sosok yang jelas-jelas jahat dan tidak memiliki hubungan personal dengan korban. Menurut Christie, korban lebih mudah diakui apabila pelakunya merupakan orang asing, seperti perampok atau penjahat yang tidak memiliki kedekatan dengan korban. Dalam situasi tersebut, pembagian antara korban dan pelaku terlihat lebih jelas.

Sebaliknya, ketika terdapat relasi antara korban dan pelaku, kasus sering dianggap sebagai persoalan pribadi atau konflik interpersonal, bukan sebagai tindakan kriminal.

Situasi ini tampak dalam kasus pembacokan oleh RM. Sebagian respons publik tidak berfokus pada tindakan kekerasan yang dilakukan pelaku. Perhatian justru bergeser pada hubungan pribadi antara korban dan pelaku, termasuk isu perselingkuhan serta anggapan korban menjadikan pelaku sebagai “opsi pasangan”.

Penilaian tersebut membuat status korban kerap dipertanyakan. Diskusi publik kemudian tidak lagi menyoroti tindakan kriminal yang dilakukan RM terhadap FAP, melainkan kehidupan pribadi keduanya.

Baca Juga: Batas Antara Fantasi Seksual dan Pelecehan dalam ‘Dear David’ 

Kenapa Konsep The Ideal Victim Berbahaya? 

Kategori yang dijelaskan Christie menunjukkan konsep the ideal victim terbentuk melalui konstruksi sosial. Terdapat struktur kekuasaan dalam gambaran “korban ideal” yang dipercaya masyarakat.

Korban sering digambarkan sebagai sosok yang patuh terhadap norma sosial, berada dalam posisi lemah, serta tidak dianggap mengancam orang lain. Gambaran ini membuat sebagian korban lebih mudah memperoleh simpati publik dibanding yang lain.

Masalah muncul ketika standar tersebut digunakan untuk menilai pengalaman kekerasan seseorang. Korban yang tidak memenuhi gambaran “ideal” sering menghadapi keraguan atau bahkan disalahkan atas kekerasan yang dialami.

Dalam banyak kasus kekerasan terhadap perempuan, situasi ini berkaitan dengan relasi kuasa dan agresivitas laki-laki yang dinormalisasi dalam budaya patriarki. Korban kemudian dipinggirkan karena dinilai tidak sesuai dengan standar korban “ideal”.

Dampaknya tidak hanya terlihat dalam respons publik, tetapi juga dalam keberanian korban untuk melapor. Sebagian korban enggan melaporkan kekerasan karena khawatir akan dihakimi atau tidak dipercaya.

Kondisi tersebut menambah panjang sejarah kekerasan terhadap perempuan yang sering diperlakukan sebagai persoalan pribadi, bukan sebagai bentuk ketidakadilan struktural. Pilihan hidup perempuan kerap menjadi objek penilaian moral, termasuk ketika mereka memutuskan mengakhiri hubungan atau memilih pasangan lain.

Baca Juga: Lelaki Marah Ditinggal Pasangan Makan Duluan, Tanda Maskulinitas Toksik 

Dalam konteks kasus FAP, kekerasan yang dialaminya bahkan dipandang oleh sebagian orang sebagai “hukuman” karena tidak mengikuti ekspektasi sosial tersebut.

Padahal, perempuan hanya menggunakan haknya untuk menolak. Namun, tindakan itu justru dipersepsikan sebagai bentuk provokasi yang kemudian digunakan untuk membenarkan kekerasan yang dilakukan pelaku.

Pada akhirnya, konsep the ideal victim tidak hanya berkaitan dengan simpati publik. Konsep ini juga menunjukkan bagaimana ketidakadilan dapat terus berlangsung ketika korban yang seharusnya dilindungi justru disalahkan.

About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.