Saat Gawai Jadi Babysitter Anak: Alasan Ortu Beri Akses ‘Screen Time’ Tak Sesederhana itu
“Adriana”, 42, memberikan keleluasaan bagi ketiga anaknya untuk mengakses gawai dan televisi. Dalam sehari, anak sulung dan tengah Adriana menggunakan gawai sekitar dua jam. Biasanya mereka bermain gim Mobile Legends dan gim sepak bola. Sementara anak bungsu Adriana yang berusia tiga tahun menonton Barbie dan DoReMi Dalimi di YouTube.
Awalnya Adriana tidak mengizinkan anak- anak menggunakan gawai. Namun situasi berubah ketika pandemi Covid-19 membuat sekolah menerapkan Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ). Saat itu, anak-anak hanya boleh memakai ponsel untuk keperluan sekolah. Adriana dan suaminya juga masih bisa memantau karena bekerja dari rumah.
Setelah kembali bekerja dari kantor, pengawasan itu tidak lagi sepenuhnya bisa dilakukan. Adriana biasanya mengecek jenis konten yang ditonton melalui history YouTube atau mendengarkan percakapan anak-anak saat bermain Mobile Legends.
“Sebenarnya susah ngebatasin screen time anak-anak dengan konsisten. Soalnya, kadang aku kasih (ponsel) biar mereka diem dan nggak ngerecokin (pekerjaan),” tutur Adriana.
Baca Juga: Waspada Pedofil dan Child Grooming di ‘Online Game’
Sepulang kantor, Adriana masih harus mencuci pakaian dan menyiapkan masakan untuk hari berikutnya. Pekerjaan tersebut terasa lebih cepat selesai jika anak bungsunya menonton YouTube. Suaminya biasanya mendampingi dua anak pertama mereka belajar, sehingga tidak bisa menemani si bungsu bermain.
Situasi ini memperlihatkan bagaimana gawai sering mengambil peran sementara dalam pengasuhan. Fenomena tersebut dikenal sebagai digital babysitter, ketika orang tua memberikan gawai agar anak terhibur, belajar, atau sekadar mengalihkan perhatian mereka.
Sebagai ayah dari empat anak, Pebi, 39, juga pernah melakukan hal serupa. Ketika salah satu anak membutuhkan perhatian intens, ia terkadang mengizinkan tiga anak lainnya menonton YouTube di televisi atau meminjamkan ponsel untuk bermain.
“Seenggaknya screen time membantu ‘ngejagain’ anak dengan tenang, kalau orang tuanya harus kerja atau ngurusin hal lain,” ungkap Pebi.
Bagi Adriana, gawai juga terasa membantu di tengah rutinitas yang padat. Ia bangun pukul empat pagi untuk memasak, lalu menempuh perjalanan sekitar 90 menit dengan motor dari rumahnya di Bekasi menuju kantor di Jakarta Barat. Setelah bekerja delapan jam, ia masih harus menyelesaikan pekerjaan domestik sebelum akhirnya beristirahat sekitar pukul 11 malam.
Dalam kondisi seperti itu, screen time menjadi cara paling realistis agar pekerjaan rumah tangga tetap berjalan. Meski demikian, Adriana menyadari ada konsekuensi yang perlu diperhatikan.
Peneliti asal India, Sudheer Kumar Muppalla, Sravya Vuppalapati, Apeksha Reddy Pulliahgaru, dkk. dalam studi Effects of Excessive Screen Time on Child Development: An Update Review and Strategies for Management (2023) menemukan penggunaan layar berlebihan dapat mengurangi kualitas interaksi antara anak dan pengasuh. Selain itu, kondisi ini juga dapat menghambat perkembangan bahasa, kemampuan memahami emosi, serta memicu gangguan tidur.
Adriana dan Pebi mengaku khawatir dengan dampak tersebut. Namun dalam keseharian, pilihan pengasuhan yang tersedia tidak selalu banyak.
Bagi mereka, screen time sering menjadi solusi praktis di tengah keterbatasan waktu dan energi. Bahkan pada akhir pekan, gawai kadang menjadi alternatif hiburan karena tidak membutuhkan biaya tambahan.
Baca Juga: Apa itu Playdate dan Manfaatnya bagi Anak dan Orang Tua?
Di Balik Keputusan Orang Tua
Fenomena screen time pada anak tidak bisa dilepaskan dari kondisi ekonomi dan akses terhadap ruang bermain.
Keluarga Adriana yang tinggal di Bekasi, misalnya, tidak memiliki akses mudah ke Ruang Publik Terpadu Ramah Anak (RPTRA). Ruang bermain bagi ketiga anaknya sebagian besar hanya jalanan di depan rumah.
Berbeda dengan keluarga Pebi yang tinggal di Jakarta dan memiliki lebih banyak pilihan taman serta RPTRA.
Di Jakarta sendiri terdapat sekitar 324 RPTRA dan 1.858 taman kota. Sementara di Bekasi belum terdapat data pasti mengenai jumlah ruang publik serupa. Pada November lalu, Wali Kota Bekasi Tri Adhianto meresmikan lima taman bermain di wilayah Kecamatan Pondok Gede.
Selain ruang publik, ada pula berbagai tempat bermain anak yang dikelola swasta di wilayah Jabodetabek. Namun harga tiketnya terbilang tinggi, sekitar Rp150 ribu hingga Rp300 ribu untuk dua sampai tiga jam.
Bagi keluarga dengan double income seperti Adriana pun, biaya tersebut terasa cukup berat. Penghasilan gabungan Adriana dan suaminya berada di kisaran Rp20 juta per bulan. Namun sekitar Rp15 juta sudah habis untuk kebutuhan rutin seperti makan, belanja bulanan, biaya sekolah dua anak, gaji pekerja rumah tangga, internet, perawatan rumah, serta cicilan rumah.
“Makanya keluargaku jarang jalan-jalan. Soalnya, sekali ke mal aja minimal ngeluarin Rp500 ribu. Itu baru buat makan, parkir, dan beli bensin,” aku Adriana.
Memberikan akses screen time pada anak sebenarnya tidak hanya dilakukan oleh keluarga kelas menengah ke bawah. Keluarga dengan ekonomi lebih tinggi juga melakukannya, tetapi biasanya dengan pengawasan yang lebih ketat dan alternatif aktivitas lain yang lebih beragam.
Baca Juga: Me Time Perlu Dilakukan Rutin oleh Orang Tua Baru
Dalam studi Family Socioeconomic Status and Children’s Screen Time (2022), peneliti Stefanie Mollborn, Aubrey Limburg, Jennifer Pace, dkk. menjelaskan keluarga dengan status ekonomi lebih tinggi cenderung menggunakan gawai untuk kegiatan belajar dan pengembangan kreativitas. Orang tua juga lebih sering mengawasi penggunaan gawai secara langsung dibandingkan keluarga yang orang tuanya bekerja dengan jam panjang.
Melihat berbagai kondisi tersebut, praktik screen time pada anak tidak selalu bisa dipahami secara hitam-putih. Dalam banyak kasus, keputusan itu lahir dari berbagai keterbatasan yang saling bertaut: waktu kerja orang tua, kondisi ekonomi keluarga, hingga akses terhadap ruang bermain yang ramah anak.
Pertanyaannya kemudian bukan hanya bagaimana mengurangi screen time, tetapi juga bagaimana menciptakan lingkungan yang memberi orang tua lebih banyak pilihan dalam mengasuh anak.
Ilustrasi oleh Karina Tungari
This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.
Series lainnya bisa dibaca di sini.





















