Foto: IMDB
Sejak anak perempuan saya lahir tiga bulan lalu, ada satu hal yang sering muncul di kepala setiap kali saya menggendongnya: takut.
Takut dia sakit. Takut badannya terlalu dingin kena AC. Takut saya salah menggendong. Takut napasnya terlalu pelan saat tidur. Hal-hal khas ayah baru yang masih sering mengecek bayi hanya untuk memastikan semuanya baik-baik saja.
Namun semakin sering saya melihat wajah kecilnya tidur di dada saya, muncul ketakutan lain yang lebih besar. Suatu hari nanti, ia akan tumbuh menjadi perempuan di dunia yang sering membuat perempuan harus selalu waspada. Dan ketakutan itu rasanya berbeda.
Kadang pikiran itu datang dalam bentuk yang tidak terduga. Saat menggendongnya, saya tiba-tiba membayangkan, suatu hari nanti, kalau saya terlalu bawel, mungkin dia akan mulai menyembunyikan Instagram Story dari saya. Mungkin ia akan punya satu versi hidup yang ia tunjukkan kepada ayahnya, dan satu versi lain yang ia simpan karena takut dilarang.
Bayangan itu membuat saya berhenti sejenak.
Saya tidak ingin menjadi ayah yang membuat anak perempuannya merasa harus bersembunyi. Saya tidak ingin perlindungan saya berubah menjadi jarak. Karena ketika anak merasa harus menyembunyikan hidupnya agar tetap bisa bernapas, mungkin yang kita bangun bukan rasa aman, melainkan ketakutan.
Baca juga: Andai Lelaki Belajar dari Ayah yang Biarkan Anak Perempuannya Terbang
Ketika saya mulai melihat yang selama ini tidak saya lihat
Istri saya pernah bercerita bahwa sejak remaja, banyak perempuan sudah terbiasa melakukan “ritual keamanan” kecil yang bagi laki-laki mungkin tidak pernah terpikirkan. Waspada ketika ada suara motor mendekat ketika sedang berjalan sendirian, cek kursi belakang mobil sebelum masuk, pura-pura menelepon saat merasa diikuti, dan kirim live location ke teman meski perjalanannya sebentar. Dan yang membuat saya diam, banyak perempuan melakukannya secara refleks. Bukan karena berlebihan, tapi karena pengalaman hidup mengajarkan mereka untuk selalu berjaga-jaga.
Sebagai laki-laki, saya sadar saya hampir tidak pernah memikirkan semua itu. Saya tidak pernah benar-benar takut jalan sendirian malam. Tidak pernah menghitung risiko cuma untuk pulang. Tidak pernah merasa harus menyesuaikan rute, pakaian, atau cara berjalan agar terlihat tidak sendirian. Dan setelah punya anak perempuan, kesadaran itu terasa jauh lebih personal.
Karena saya mulai membayangkan: suatu hari nanti mungkin dia juga akan tumbuh dengan daftar yang sama: Jangan pulang terlalu malam, jangan pakai ini, jangan pergi sendirian, kabari terus. Dan ada bagian dari diri saya yang sedih membayangkan itu. Bukan karena dunianya tidak berbahaya. Tapi karena saya sadar dari mana daftar itu sebenarnya datang, dan siapa yang selama ini menanggung bebannya.
Saya mengerti kenapa banyak ayah jadi sangat protektif terhadap anak perempuannya. Ketakutan itu nyata. Ada dorongan yang rasanya otomatis untuk menjaga sekuat mungkin dari segala hal buruk di luar sana.
Tapi semakin saya memikirkannya, semakin saya bertanya ke diri sendiri: apakah saya ingin membesarkan anak perempuan yang hidupnya dipenuhi rasa takut?
Karena tanpa disadari, banyak cara kita “melindungi” anak perempuan justru membebankan seluruh tanggung jawab keselamatan di pundak mereka. Seolah-olah kalau mereka mengikuti semua aturan itu, mereka dijamin selamat. Dan kalau terjadi sesuatu, pertanyaan pertama yang muncul adalah: tadi pakai apa? Pulang jam berapa? Kenapa sendirian?
Kita mendidik anak perempuan untuk menjadi ahli navigasi di dunia yang penuh risiko. Tapi kita jarang ikut turun tangan memastikan dunia itu sendiri yang berubah. Melindungi anak perempuan tidak seharusnya membuat ia merasa dipenjara oleh ketakutan ayahnya sendiri.
Baca juga: Apa itu ‘Mindful Parenting’, Kunci Bangun Keluarga Sehat
Yang seharusnya kita ajarkan pada anak perempuan
Semakin saya memikirkan masa depan anak saya, semakin saya sadar bahwa melindungi anak perempuan tidak akan cukup kalau kita tidak serius mendidik anak laki-laki. Karena masalahnya bukan semata anak perempuan terlalu bebas. Masalahnya sering kali ada pada laki-laki yang tumbuh tanpa benar-benar diajarkan menghormati batasan.
Kita terlalu sering mengajari perempuan cara menghindari bahaya, tapi kurang cukup keras mengajari laki-laki untuk tidak menjadi bahaya itu. Anak perempuan diajari waspada. Anak laki-laki sering hanya diminta “jangan nakal.” Padahal itu tidak cukup.
Kalau suatu hari nanti saya punya anak laki-laki, saya tidak ingin hanya mengajarinya cara jadi kuat atau sukses. Saya ingin mengajarinya bahwa perempuan tidak berutang rasa nyaman kepada laki-laki. Bahwa perhatian yang ditolak bukan tantangan. Bahwa tubuh perempuan bukan ruang publik buat komentar sembarangan.
Karena tugas seorang ayah bukan membangun sangkar emas agar anak perempuannya tidak terluka. Tugas kita adalah ikut memastikan bahwa dunia di luar sana cukup beradab untuk menerima langkah kakinya.
Saya ingin dunia yang anak perempuan saya temui nanti tidak mewariskan kewaspadaan sebagai bagian wajib dari menjadi perempuan. Karena sebagai ayah, tentu saya ingin anak saya aman. Tapi lebih dari itu, saya ingin dia bisa hidup nyaman tanpa harus merasa dunia selalu mengintainya. Dan saya tidak ingin satu-satunya cara dia merasa bebas adalah dengan menyembunyikan hidupnya dari saya.





















