14/06/2026
Issues Opini

Kita Tidak Haus Validasi, Kita Lelah Merasa Tidak Cukup

Di balik like, view, dan komentar, ada rasa cukup yang semakin mudah goyah, terutama bagi perempuan yang tubuh dan hidupnya lebih sering dijadikan bahan penilaian.

  • May 22, 2026
  • 5 min read
  • 575 Views
Kita Tidak Haus Validasi, Kita Lelah Merasa Tidak Cukup

Saya pernah mengunggah sesuatu ke media sosial, menutup aplikasinya, lalu membukanya lagi lima menit kemudian. Tidak ada yang mendesak, dan tidak ada pesan penting. Saya hanya ingin tahu, sudah ada yang like atau belum?

Kalau angkanya bertambah, ada sedikit rasa lega. Kalau sepi, muncul rasa tidak nyaman yang agak memalukan untuk diakui. Kita sering menyebutnya iseng, sekadar refleks, bagian dari hidup digital. Tapi diam-diam, ada sesuatu yang sedang kita tunggu: dilihat, direspons, diakui. Seolah apa yang kita unggah, dan mungkin sedikit banyak siapa diri kita, baru terasa berarti ketika ada orang lain yang mengonfirmasinya.

Kebutuhan untuk divalidasi sebenarnya bukan masalah. Sebagai manusia, kita memang ingin dilihat dan diterima. Sejak kecil, kita belajar mengenali diri dari respons orang lain: pujian orang tua, penerimaan teman, komentar guru, atau rasa nyaman ketika berada di lingkungan yang tidak membuat kita merasa asing.

Masalahnya, media sosial mengubah cara validasi itu bekerja. Dulu, pengakuan datang dari lingkaran yang lebih kecil dan lebih mengenal kita. Sekarang, respons datang dalam bentuk angka like, komentar, share, atau view. Validasi yang dulu personal berubah menjadi publik. Yang dulu punya konteks, kini sering berdiri sendiri sebagai statistik.

Pelan-pelan, kita ikut berubah. Kita merasa lebih percaya diri ketika unggahan ramai, dan mempertanyakan diri ketika responsnya sepi. Kita mulai memilih apa yang ingin dibagikan bukan hanya berdasarkan kejujuran, tapi berdasarkan kemungkinan disukai. Saya pernah menghapus unggahan bukan karena tidak lagi setuju dengan isinya, melainkan karena responsnya tidak seramai yang saya harapkan.

Di titik itu, validasi bukan lagi sekadar kebutuhan manusiawi, melainkan sebuah ukuran. Dan ketika nilai diri bergantung pada sesuatu yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan, rasa cukup menjadi mudah goyah.

Baca juga: Cari Validasi dari Diri, Bukan Instagram Story

Tubuh, angka, dan beban yang tidak sama

Tekanan validasi di media sosial tidak bekerja sama untuk semua orang. Ada perbedaan yang cukup jelas dalam cara ia membebani laki-laki dan perempuan.

Beberapa penelitian menunjukkan, perempuan lebih sering mengalami tekanan validasi yang berkaitan dengan penampilan. Studi Manago dan kolega pada 2023, misalnya, menemukan bahwa remaja perempuan cenderung menggunakan media sosial untuk validasi penampilan, sementara laki-laki lebih banyak mencari validasi lewat aktivitas kompetitif atau pencapaian. Studi lintas negara oleh Kolesnyk dan kolega pada 2021 juga menunjukkan kecenderungan serupa: perempuan lebih sering menyesuaikan citra fisik mereka di media sosial, sementara laki-laki lebih banyak menonjolkan pencapaian pribadi.

Tentu, ini bukan berarti laki-laki bebas dari tekanan. Mereka juga dituntut terlihat sukses, kuat, produktif, dan tidak gagal. Namun bagi banyak perempuan, tubuh menjadi medan penilaian yang jauh lebih ramai. Wajah, bentuk badan, sudut foto, pakaian, usia, ekspresi, bahkan cara tersenyum bisa menjadi bahan komentar.

Terlalu kurus dikomentari, terlalu berisi juga. Terlalu terbuka dianggap murahan, namun terlalu tertutup dianggap tidak menarik. Tampil percaya diri bisa disebut haus perhatian, merendah diri pun kadang dianggap palsu. Seolah perempuan diminta hadir di ruang digital, tetapi tidak boleh terlalu terlihat menikmati kehadirannya sendiri.

Saya tidak bisa sepenuhnya mengalami beban itu seperti perempuan mengalaminya. Namun saya melihatnya dari dekat.

Saya melihat kakak perempuan saya mengambil foto berkali-kali sebelum mengunggah satu gambar. Bukan karena fotonya buruk, tapi karena sudutnya belum pas, pencahayaannya kurang bagus, atau wajahnya terlihat lebih tembam dari biasanya. Ketika akhirnya terunggah, yang dicek bukan hanya jumlah like, tetapi juga siapa yang memberi like dan siapa yang tidak.

Baca juga: ‘Energy Vampire’: Tanda-Tanda Kamu Sedang Dikelilingi dan Cara Menghadapinya

Saya juga pernah melihat teman menghapus foto bukan karena ia tidak menyukainya, melainkan karena jumlah responsnya tidak mencapai angka yang ia bayangkan “layak”. Seolah angka itu bukan sekadar statistik, tapi semacam putusan tentang apakah ia cukup menarik untuk dilihat.

Lalu ada yang lebih sunyi: perasaan bahwa hidup sendiri tidak cukup menarik karena tidak seindah, serapi, atau se-aesthetic kehidupan orang lain di linimasa. Kita tahu yang ditampilkan orang lain hanyalah potongan. Tapi tetap saja, potongan itu bisa membuat hidup kita sendiri terasa kurang.

Saya menyadari ini juga dari kebiasaan saya sendiri. Ada masa ketika satu unggahan terasa seperti ujian kecil. Apakah saya cukup lucu? Cukup pintar? Cukup menarik? Cukup penting untuk diperhatikan?

Ketika responsnya tidak sesuai harapan, tidak ada yang benar-benar berubah. Saya tetap orang yang sama sebelum dan sesudah mengunggah sesuatu. Namun ada kekecewaan kecil yang sulit diberi nama. Dari situ saya mulai bertanya, sejak kapan suasana hati saya ikut ditentukan oleh angka-angka di layar?

Bukan berarti media sosial harus dijauhi sepenuhnya. Ia tetap bisa menjadi ruang berbagi, berekspresi, bekerja, belajar, bahkan menemukan koneksi yang bermakna. Banyak orang menemukan komunitas, dukungan, dan pengetahuan dari sana.

Masalahnya bukan semata medianya, melainkan posisi yang kita berikan kepadanya. Ketika validasi dari luar menjadi sumber utama rasa cukup, kita menyerahkan sesuatu yang sangat personal kepada sistem yang sangat fluktuatif. Sistem itu tidak dirancang untuk membuat kita merasa utuh. Ia dirancang agar kita terus kembali, terus menggulir layar, terus membandingkan, terus merasa ada yang kurang.

Mungkin yang perlu kita latih bukan berhenti memakai media sosial, tetapi menyadari kapan ia mulai memakai kita. Kapan kita mengunggah karena ingin berbagi, dan kapan karena ingin dibuktikan. Kapan kita menikmati, dan kapan mulai membandingkan. Kapan kita hadir, dan kapan kita sedang meminta angka-angka itu menenangkan sesuatu yang sebenarnya lebih dalam.

Validasi tidak harus dihilangkan. Ia bagian dari menjadi manusia. Namun ia perlu dikembalikan ke tempat yang lebih sehat: sebagai tambahan, bukan penentu. Sebagai respons, bukan ukuran nilai diri.

Karena pada akhirnya, kita mungkin tidak benar-benar membutuhkan ratusan orang untuk memastikan bahwa kita cukup. Kadang, yang kita butuhkan jauh lebih sederhana, sekaligus jauh lebih sulit: belajar percaya bahwa hidup kita tetap berarti, bahkan ketika tidak sedang dilihat siapa-siapa.

About Author

Akhmad Yunus Vixroni

Akhmad Yunus Vixroni adalah penulis yang percaya bahwa menjaga senyum istri adalah sumber rezeki.