07/07/2026
Issues Opini

Ayah Rumah Tangga: Bukan “Kurang Jantan”, Tapi Wajah Baru Maskulinitas Indonesia

Ayah rumah tangga di Indonesia masih sering dicap “kurang jantan”. Padahal riset membuktikan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan justru memperkuat keluarga dan membentuk maskulinitas yang lebih utuh.

  • April 9, 2026
  • 5 min read
  • 1361 Views
Ayah Rumah Tangga: Bukan “Kurang Jantan”, Tapi Wajah Baru Maskulinitas Indonesia

Di sebuah sudut kafe di Jakarta Selatan, seorang laki-laki duduk dengan bahu tersampir kain bedong bayi. Tangannya lincah menyodorkan botol susu, sementara laptopnya terbuka setengah di atas meja.

Teman saya berbisik dengan nada antara kagum dan geli, “Imut ya, kayak ibu rumah tangga versi bapak-bapak.”

Laki-laki itu mendengar. Ia menoleh, tersenyum tipis dan menyahut pelan, “Saya ayah rumah tangga, Mbak.”

Tawa canggung teman saya sesudahnya lebih bercerita daripada kata-kata mana pun. Di Indonesia, laki-laki yang memilih hadir di dapur dan kamar bayi masih dibaca sebagai anomali , bukan pilihan hidup yang sah, apalagi sesuatu yang patut diacungi jempol. Label “kurang jantan” datang bukan dengan teriakan, tapi dengan bisikan, tatapan, dan pertanyaan-pertanyaan kecil yang menusuk: “Kok di rumah terus?”, “Istri yang kerja ya?”

Saya sendiri pernah merasakannya secara langsung. Sebagai dosen, ada masa ketika saya harus membawa bayi saya ke dalam kelas karena istri sedang dinas luar kota. Di sela-sela memaparkan teori di depan mahasiswa, saya harus memastikan kebutuhan dasar anak saya terpenuhi. Bukan kondisi ideal, tapi juga bukan sesuatu yang saya sesali.

Yang lebih membekas adalah reaksi orang-orang di sekitar. Ada yang kagum berlebihan, seolah saya baru menyelesaikan sesuatu yang heroik. Ada pula yang menatap dengan ekspresi kasihan yang tidak saya minta. Keduanya sama-sama membingungkan, karena yang saya lakukan waktu itu sebenarnya sederhana: mengasuh anak saya sendiri.

Sosiolog Raewyn Connell pernah memetakan akar dari reaksi-reaksi semacam ini. Dalam Masculinities (2005), ia menyebut adanya hegemonic masculinity — standar kejantanan yang masyarakat kita puja melalui otoritas, daya saing, dan kemampuan finansial. Begitu seorang ayah lebih sering terlihat di dapur ketimbang di kantor, identitasnya dianggap goyah.

Psikolog Jennifer Bosson dan Joseph Vandello dalam jurnal Current Directions in Psychological Science (2011) menyebut fenomena ini sebagai precarious manhood: sebuah gagasan bahwa kejantanan bukanlah status yang otomatis, melainkan harus dibuktikan terus-menerus melalui aksi publik. Itulah mengapa ayah rumah tangga kerap menjadi sasaran sindiran, meski yang mereka lakukan adalah hal yang paling fundamental: hadir untuk anak.

Baca Juga: Tak Semua Ayah Patut Dihormati

Investasi emosional dan keadilan relasional

Ada satu hal yang jarang masuk ke percakapan publik soal ayah rumah tangga: kesepian.

Riset Christina Riantoputra dalam International Review of Humanities Studies (2019) menemukan bahwa ayah pengasuh di Indonesia sering merasa terisolasi. Mereka tidak punya ekuivalen dari “grup ibu-ibu” — komunitas yang hangat dan spontan terbentuk di antara para ibu di kompleks rumah, sekolah, atau aplikasi pesan. Ayah yang mengambil peran domestik kerap berdiri di ruang yang belum betul-betul ada. Mereka terlalu “rumahan” untuk ngobrol dengan rekan kerja, tapi tidak cukup “ibu” untuk masuk ke jaringan sosial pengasuh.

Ketika istri saya dinas jauh dan saya mengurus bayi sendirian, ada momen-momen pukul dua pagi yang sunyi, saat bayi menangis dan tidak ada siapa pun yang bisa diajak bicara. Hal ini membuat saya memahami betapa strukturnya memang belum siap menerima ayah di posisi ini. Bukan karena laki-lakinya tidak mampu, tapi karena belum ada ruang yang cukup lapang untuk mereka.

Di luar narasi sosial yang masih penuh resistensi, data berbicara sebaliknya.

John Bowlby dalam A Secure Base (1988) menegaskan bahwa figur pengasuh yang konsisten adalah fondasi rasa aman bagi anak, dan ayah sangat mampu menjadi fondasi itu. Psikolog Michael Lamb memperdalam temuan ini, dengan menambahkan bahwa keterlibatan aktif ayah dalam pengasuhan berhubungan langsung dengan regulasi emosi anak yang lebih matang dan kemampuan sosial yang lebih tangguh (The Role of the Father in Child Development, 2010).

Pada level relasi pasangan, penelitian Shafer (University of Toronto Press, 2017) menunjukkan bahwa pembagian tugas domestik yang adil meningkatkan kepuasan pernikahan. Bukan karena romantis, tapi karena keadilan relasional (relational justice) menciptakan kepercayaan yang lebih dalam antara dua orang yang memilih hidup bersama.

Saya merasakan ini secara konkret. Setiap kali saya menggantikan popok, menyiapkan MPASI, atau sekadar duduk menemani anak bermain sementara istri beristirahat, ikatan keluarga kami justru semakin erat meski tatapan dunia sekitar masih penuh keraguan.

Baca Juga: Kenapa Ayah Jarang di Rumah, ‘Fatherless’ dan Memori Masa Kecilku

Menuju maskulinitas baru

James O’Neil dalam The Counseling Psychologist (2008) membahas gender role conflict — tekanan psikologis yang muncul ketika seseorang merasa gagal memenuhi ekspektasi gender yang dibebankan padanya. Banyak ayah yang terlibat dalam pengasuhan mengalami ini: mereka tahu pilihan mereka benar, tapi tekanan sosial membuat mereka terus mempertanyakan diri sendiri.

Padahal, ayah yang berani memasak, menggendong anak, dan hadir secara emosional sebenarnya sedang menunjukkan ketahanan yang luar biasa—sebuah bentuk kejantanan yang utuh dan penuh kemanusiaan.

Kita layak mendapatkan lebih dari sekadar pujian verbal “ayah hebat”. Normalisasi secara struktural adalah kuncinya: kebijakan cuti ayah yang inklusif, serta ruang diskusi bagi ayah yang benar-benar masuk agenda publik — bukan sekadar konten parenting di media sosial. Selama dikotomi gender yang kaku ini dipertahankan, potensi terbesar keluarga Indonesia akan terus terpangkas di tengah jalan.

Memilih hadir penuh buat keluarga, meski sering dicap “kurang jantan”, adalah bagian dari evolusi psikososial yang tidak bisa terus-menerus ditunda. Sudah waktunya masyarakat memandang langkah ini sebagai kemajuan, bukan penyimpangan. Dari keberanian untuk menjadi domestik inilah maskulinitas baru lahir: yang punya empati dalam, kehadiran tulus, dan kemitraan yang setara.

Bonar Hutapea adalah seorang akademisi dan dosen psikologi yang menaruh minat mendalam pada isu psikologi sosial, dinamika keluarga, dan konstruksi gender. Selain aktif dalam riset akademik mengenai kesehatan mental dan relasi sosial, ia adalah seorang ayah yang percaya bahwa keterlibatan emosional laki-laki di ranah domestik adalah kunci bagi masyarakat yang lebih inklusif.

Tulisan ini bagian dari serial Hari Kartini yang mengangkat tema pentingnya lingkungan yang memungkinkan perempuan bertumbuh. Baca tulisan lainnya di sini untuk melihat beragam perspektif kontributor.

This article was produced by Magdalene.co as part of the #WaveForEquality campaign, supported by Investing in Women (IW), an Australian Government initiative. The views expressed in this article do not necessarily represent the views of IW or the Australian Government.

Series lainnya bisa dibaca di sini.

About Author

Bonar Hutapea