Yang Kita Tahu Sejauh ini tentang Duka di Stasiun Kereta Bekasi Timur
Foto: AFP
Kecelakaan kereta terjadi di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat (27/4) malam. Insiden ini terjadi ketika kereta api jarak jauh (KAJJ) Argo Bromo Anggrek menabrak KRL Commuter Line lintas Cikarang yang tengah berhenti di jalur.
Tak lama berselang, PT Kereta Api Indonesia (Persero) menyampaikan permohonan maaf. Lewat rilis resmi yang disiarkan melalui akun Instagram resminya, perusahaan menyebut seluruh tenaga dikerahkan untuk proses evakuasi korban dan penanganan di lokasi.
Kepada BBC Indonesia, Manajer Hubungan Masyarakat Daerah Operasi (Humas Daop) 1 KAI Franoto Wibowo menjelaskan kronologi kecelakaan. Rangkaian peristiwa bermula ketika KRL Commuter Line menyenggol taksi Vietnam Green SM di salah satu perlintasan kereta pukul 20.40 WIB. Setelah insiden itu, kereta berhenti dan membuat KRL Commuter Line lain menuju Cikarang ikut tertahan sambil menunggu giliran di Stasiun Bekasi Timur.
Di tengah kondisi tersebut, KAJJ Argo Bromo Anggrek rute Gambir-Surabaya dengan kecepatan 110 km/ jam datang dari belakang dan menabrak rangkaian KRL. Benturan keras membuat bagian depan kereta jarak jauh menembus gerbong belakang KRL arah Cikarang.
Baca juga: Kepadatan KRL dari ‘Green Line’ hingga ‘Red Line’: Apakah Tambah Armada ala Prabowo adalah Solusi
Seluruh Korban Meninggal adalah Perempuan
Proses evakuasi dipastikan selesai pada pukul 08.00 WIB keesokan harinya (28/4). Kepastian itu disampaikan Kepala Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, kepada BBC Indonesia.
“Saya pastikan sudah tidak ada korban yang kita temukan,” kata Syafii.
Setelah evakuasi rampung, Kepala Bidang (Kabid) Humas Polda Metro Jaya Kombes Budi Hermanto menyebut total korban mencapai 91 orang. Jumlah itu terdiri dari 76 orang luka-luka dan 15 orang meninggal dunia.
Masih dikutip dari BBC Indonesia, Kombes Budi menjelaskan 15 korban tewas dipastikan berjenis kelamin perempuan. Hal itu berkaitan dengan titik tabrakan yang mengantam gerbong terakhir rangkaian KRL Commuter Line. Dalam susunan kereta tersebut, gerbong terakhir merupakan gerbong khusus perempuan.
Fakta ini kembali menyorot posisi gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian kereta. Ruang yang selama ini dipersepsikan memberi rasa aman dari pelecehan dan kepadatan, justru berada di titik paling terdampak dalam kecelakaan kali ini.
Baca juga: Dari ‘Anker’ Cikarang Saya Belajar, Rumah Bukan Tempat Pulang tapi Alasan Bertahan
Della, 27, ibu pekerja asal Karawang yang rutin menggunakan KRL Commuter Line, menilai penempatan gerbong khusus perempuan di ujung rangkaian kereta memang menimbulkan kerentanan. Selama menggunakan moda transportasi itu, ia mengaku perasaan was-was selalu hadir saat bermobilisasi.
“Kejadian kemarin jadi pengingat kalau bahkan di gerbong khusus perempuan, kita masih bisa jadi yang paling rentan ketika sesuatu terjadi,” ungkapnya kepada Magdalene (28/4).
Ia berharap ada langkah afirmasi lain dari pihak KAI untuk menjamin keselamatan perempuan, tidak berhenti pada pemisahan ruang semata. Menurutnya, perlindungan perlu hadir dalam sistem, kesiapsiagaan petugas, serta penanganan krisis yang nyata.
“Aku berharap ke depannya keselamatan perempuan benar-benar jadi prioritas. Bukan cuma lewat pemisahan ruang, tapi lewat sistem yang lebih sigap, petugas yang responsif, dan perlindungan yang nyata saat krisis. Jadi perempuan enggak lagi harus memilih antara ;merasa aman’ atau ‘benar-benar aman’,” tutupnya.





















