Tragedi di Stasiun Bekasi Timur: Semua Korban Perempuan, Gerbong Khusus Perempuan Kembali Dipertanyakan
Foto: Mast Irham/EPA
Tabrakan antara Kereta Api Argo Bromo Anggrek (Gambir-Surabaya Pasar Turi) dan Commuter Line (Kampung Bandan-Cikarang) di Stasiun Bekasi Timur, Senin malam (27/4), kini memasuki tahap investigasi Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).
Update per Selasa, 28 April 2026:
| Hingga pukul 08.00 WIB, seluruh korban telah berhasil dievakuasi dan dinyatakan seluruhnya adalah perempuan. (Sumber: Kepala Basarnas Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii) | Hingga pukul 08.45 WIB, sebanyak 14 dilaporkan meninggal dunia dan 81 orang luka-luka. (Sumber: Direktur Utama PT KAI Bobby Rasyidin) |
Baca juga: Duka di Stasiun Kereta: 15 Perempuan Jadi Korban Kecelakaan KRL di Bekasi Timur
Bagaimana Kronologinya?
Menurut penjelasan VP Corporate Secretary KAI Commuter Karina Amanda pada Kompas.com, Selasa (28/4), terdapat dua peristiwa berbeda dalam rangkaian kejadian tersebut.
1. KRL menuju arah Jakarta menabrak taksi Green SM → Akibatnya, KRL menuju arah Cikarang tertahan di Stasiun Bekasi Timur.
2. KA Argo Bromo Anggrek Jakarta-Surabaya menabrak gerbong perempuan KRL arah Cikarang yang berhenti.
Keterangan Saksi
Dilansir dari Republika, Titin, seorang pemilik warung yang terletak sekitar 50 meter dari lokasi kejadian menyaksikan sebuah taksi hijau mogok di tengah perlintasan pada pukul 20.50 WIB. Kendaraan tersebut tidak sempat bergerak dan akhirnya tertabrak KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta.
Dalam waktu yang hampir bersamaan, KRL dari Jakarta menuju Cikarang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur untuk menaikkan dan menurunkan penumpang. Pada saat itulah, rangkaian Commuter Line tersebut ditabrak dari belakang oleh KA Argo Bromo Anggrek rute Gambir-Surabaya Pasar Turi.
Penumpang selamat Heriyati pada Metro TV menyebut KRL arah Cikarang sempat berhenti di jalur 1 Stasiun Bekasi Timur akibat gangguan dari insiden KRL lain yang menabrak taksi. Tak lama kemudian, KA Argo Bromo Anggrek datang dari arah belakang dan langsung menghantam gerbong khusus perempuan yang berada di bagian belakang.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi, pada Antara, membenarkan bahwa rangkaian KRL terdampak harus diberlakukan sebagai Perjalanan Luar Biasa (PLB) akibat gangguan sistem. Akibatnya, KA Argo Bromo Anggrek tidak sempat berhenti penuh sebelum menabrak KRL yang tengah berhenti di Stasiun Bekasi Timur.
Penumpukan Penumpang di Stasiun Lain
Salah satu penumpang KRL, ‘Siska’, 25, yang berada di rangkaian belakang kereta terdampak, mengaku sempat tertahan selama 30 menit di Stasiun Jatinegara. Ia baru tiba di Stasiun Bekasi sekitar pukul 23.30 WIB.
Sebagai sesama pengguna gerbong khusus perempuan, ‘Siska’ merasa khawatir usai melihat kondisi gerbong yang tertabrak tersebut.
“Pas ngelihat gerbong perempuan KRL yang tabrakan, aku takut karena itu bisa aja kejadian di aku. Sampai sekarang ngelihat berita masih sedih dan takut, karena kalau kerja masih harus pakai KRL,” katanya pada Magdalene (28/4).
Kekhawatiran ‘Siska’ dan penumpang perempuan lainnya tak lepas dari fakta bahwa seluruh korban tewas dalam insiden ini merupakan perempuan.
Data PT KAI menyebutkan 14 penumpang yang meninggal dunia adalah perempuan usia produktif, baik kuliah maupun bekerja. Peristiwa ini kembali menyoroti kerentanan pengguna di gerbong khusus perempuan yang paling dirugikan.
Mengutip BBC Indonesia, sebanyak 84 korban luka-luka kini masih menjalani perawatan di sejumlah fasilitas kesehatan, di antaranya RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.
Hingga Selasa siang, bangkai gerbong kereta masih melintang di Stasiun Bekasi Timur sehingga perjalanan KRL masih dibatasi. Berdasarkan informasi dari Instagram Commuter Line, operasional KRL dari arah Cikarang menuju Jakarta maupun sebaliknya hanya berlangsung hingga Stasiun Bekasi. Sementara itu, sebanyak 13 perjalanan kereta api jarak jauh dilaporkan dibatalkan akibat insiden tersebut.
Baca juga: Semua Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi Timur Adalah Perempuan
Risiko Berlapis Gerbong Khusus Perempuan
Awalnya, gerbong khusus perempuan dibentuk sebagai langkah afirmatif untuk melindungi perempuan dari pelecehan seksual di Commuter Line Jabodetabek sejak diluncurkan pada Agustus 2010. Namun, kebijakan ini kemudian mendapat perhatian dari Komnas Perempuan pada 2017 yang menilai gerbong tersebut perlu dievaluasi.
“Gerbong itu dalam perspektif perempuan adalah tindakan khusus afirmasi sementara, supaya tidak ada pelecehan,” sebut Komisioner Komnas Perempuan Indriyanti Suparno kala itu.
Ini juga tak lepas dari kritik soal overcrowding di gerbong tertentu yang akhirnya memindahkan risiko, bukan menghilangkannya, seperti yang kembali disorot dalam insiden tabrakan ini.
Sorotan serupa juga muncul dalam studi “Gerbong Khusus Perempuan di KRL Commuter Line: Antara Perlindungan dan Perpetuasi Budaya Patriarki” pada 2025. Isinya menyebut kebijakan ini sebaiknya diposisikan sebagai langkah transisi, bukan solusi permanen.
Gerbong khusus perempuan, yang umumnya ada di depan dan belakang rangkaian kereta, dinilai berpotensi menimbulkan penumpukan penumpang dan memindahkan risiko ke titik tertentu. Harusnya ada upaya jangka panjang untuk perbaikan sistemik agar seluruh gerbong aman tanpa perlu segregasi berbasis gender.
Ini tak lepas dari kebutuhan akan transformasi budaya yang mendalam, penegakan hukum yang konsisten, serta perubahan norma sosial.





















