Membongkar Mitos Insting Ibu: Mengasuh itu Keterampilan, Bukan Kodrat
Jam menunjukkan pukul dua pagi. Di layar ponsel saya, berderet artikel gaya hidup yang memuja “keajaiban insting seorang ibu”. Semuanya terdengar magis, seolah begitu seorang perempuan melahirkan, tubuh dan pikirannya otomatis tahu apa yang harus dilakukan. Tetapi realitas berjarak hanya setengah meter dari tempat saya duduk. Istri saya sedang menahan napas, mencari posisi pelekatan yang tepat agar bayi kami bisa menyusu tanpa menambah luka lecet yang belum pulih.
Keringat tipis merembes di pelipisnya. Bayi kami rewel. Kami sama-sama lelah. Di momen yang biasa, rapuh, dan sangat manusiawi itu, semua omongan manis tentang “insting keibuan yang otomatis muncul” terasa seperti kebohongan publik.
Mitos tentang insting ibu adalah salah satu cerita paling sukses yang kita warisi, sekaligus salah satu yang paling menindas. Sejak kecil, perempuan dicekoki gagasan bahwa begitu menjadi ibu, mereka akan seketika tahu cara menyusui, menenangkan bayi, memahami tangisan, mengatur tidur, dan merawat tubuh yang baru saja melalui persalinan. Seolah ada buku manual yang tiba-tiba terunduh begitu bayi lahir.
Padahal, yang terjadi di banyak rumah keluarga muda justru sebaliknya: proses belajar dari nol yang melelahkan, minim panduan, dan sering membuat kewalahan. Membongkar mitos ini bukan sekadar urusan domestik. Ini penting untuk melihat bagaimana beban sistemik terhadap perempuan sering dibungkus dengan bahasa yang terdengar manis dan “alamiah”.
Baca Juga: Banjir Saat Pagerwesi dan Beban Adat Perempuan Bali
Tuntutan terselubung di balik kata “alamiah”
Menyebut pengasuhan sebagai sesuatu yang murni instingtif sama saja dengan meremehkan kerja keras perempuan. Narasi ini menghapus jejak kerja intelektual, emosional, dan fisik yang mereka lakukan setiap hari untuk menguasai keterampilan baru. Menyusui bukan refleks otomatis. Menenangkan bayi kolik bukan naluri yang turun dari langit. Mengatur pola tidur bayi juga bukan sihir. Semua itu adalah proses belajar yang membutuhkan waktu, perhatian, literasi, dan sering kali trial and error yang melelahkan.
Saya melihat sendiri bagaimana istri saya, jauh sebelum melahirkan hingga sekarang, tekun menyimak podcast, membaca artikel, dan menonton video edukasi parenting. Ia mempelajari teknik pelekatan menyusui, mencoba memijat perut bayi saat kolik, lalu mempraktikkan posisi menggendong tertentu untuk meredakan tangis. Saya pun ikut belajar bagaimana memandikan bayi, membedong dengan benar, membersihkan perlengkapan menyusui, sampai membaca sinyal-sinyal sederhana dari tubuh anak kami.
Pada jam-jam paling berat, kami berdua sama-sama terasa seperti amatir. Bayi kami juga, tentu saja, sedang belajar hidup di dunia. Tidak ada yang serba otomatis. Tidak ada yang sepenuhnya alami dalam arti romantis yang sering dijual kepada publik. Yang ada adalah manusia-manusia kelelahan yang sedang berusaha saling belajar.
Masalahnya, ketika semua kerja keras itu dilabeli sebagai “kodrat”, setiap kesulitan ibu lalu dibaca sebagai kegagalan pribadi. Ketika seorang ibu kesulitan menyusui, kehabisan tenaga, atau merasa mentalnya limbung, respons di sekelilingnya sering berupa penghakiman. “Masa begitu saja tidak bisa? Bukannya itu naluri perempuan?” Kalimat seperti ini tidak hanya miskin empati, tetapi juga berbahaya. Ia membuat perempuan merasa bersalah, merasa sendirian, dan merasa gagal bahkan saat mereka sedang berjuang sekuat tenaga. Romantisasi insting ibu pada akhirnya menormalisasi penderitaan yang dijalani dalam diam.
Baca Juga: Mengadili Naluri Keibuan dalam Kasus Pembunuhan Bayi
Mitos yang Menguntungkan Banyak Pihak
Mitos ini juga bekerja sebagai alat cuci tangan yang efisien. Jika pengasuhan dianggap urusan naluriah perempuan, maka laki-laki tidak dituntut untuk belajar dengan sungguh-sungguh. Ketidakmampuan ayah memandikan bayi, mengatur stok ASI perah, atau menenangkan anak yang menangis sering dimaklumi seolah itu wajar karena “ayah kan tidak punya insting”. Padahal yang sering terjadi bukan ketiadaan kapasitas, melainkan ketiadaan tuntutan sosial untuk ikut memikul beban yang sama.
Di tingkat yang lebih luas, negara dan institusi juga diuntungkan oleh mitos ini. Jika perempuan dianggap “sudah didesain” untuk mengurus anak, maka cuti melahirkan yang singkat terasa cukup, layanan konselor laktasi tidak dianggap mendesak, dukungan psikologis untuk ibu pascapersalinan diperlakukan sebagai kemewahan, dan cuti ayah yang layak dianggap tidak terlalu penting. Semua seolah bisa diserahkan kembali ke rumah, tepatnya ke pundak perempuan.
Ketimpangan ini semakin terasa jika dilihat dari sudut kelas. Ketika insting yang dijanjikan masyarakat itu tidak kunjung datang, keluarga kelas menengah ke atas masih bisa membeli bantuan: konselor laktasi, babysitter, kelas parenting, atau layanan perawatan nifas. Sebaliknya, keluarga pekerja sering harus belajar sambil bertahan hidup tanpa cukup akses pada pengetahuan dan dukungan profesional. Di titik ini, mitos insting keibuan bukan hanya bias gender, tetapi juga bias kelas. Ia menghukum perempuan yang sumber dayanya terbatas, lalu membuat kegagalan sistem terlihat seperti kegagalan individu.
Karena itu, sudah waktunya kita berhenti menyebut pengasuhan sebagai kodrat. Mengasuh adalah keterampilan hidup. Ia bisa dipelajari, dilatih, diperbaiki, dan dibagi. Tidak ada yang magis dari bangun tiap dua jam untuk menyusui atau mengganti popok dini hari; itu soal stamina. Tidak ada yang mistis dari manajemen ASI atau jadwal imunisasi; itu soal pengetahuan, disiplin, dan dukungan.
Begitu pengasuhan diakui sebagai keterampilan, beban di rumah pun tidak lagi bisa dimonopoli perempuan. Jika mengasuh adalah skill, maka siapa pun yang memilih menjadi orang tua wajib mempelajarinya. Ayah tidak punya alasan untuk bersembunyi di balik mitos bahwa mereka “tidak sealamiah ibu”. Laki-laki tidak terlahir tidak becus mengasuh; mereka hanya terlalu lama diuntungkan oleh struktur sosial yang membebaskan mereka dari kewajiban belajar.
Melepaskan label “insting” juga berarti memanusiakan kembali perempuan. Capek, bingung, frustrasi, atau merasa tidak mampu di bulan-bulan pertama bukan tanda bahwa seseorang gagal menjadi ibu. Itu adalah bagian wajar dari proses belajar merawat kehidupan. Pengasuhan membutuhkan ilmu, latihan, pembagian peran yang adil, dan dukungan nyata—bukan sekadar pujian kosong tentang kodrat.
Pada akhirnya, mengasuh bukan soal bakat bawaan. Ia adalah kerja bersama dua bahu yang saling meringankan, dua tangan yang sama-sama belajar, dan komitmen untuk merawat kehidupan tanpa membebankannya pada satu orang saja.





















