Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, beberapa ibu sudah duduk di kursi panjang dekat gerbang. Ada yang membawa botol minum dan bekal sederhana. Ada yang sesekali melongok ke arah kelas anaknya. Ada pula yang hanya diam, menatap halaman sekolah yang perlahan dipenuhi suara anak-anak.
Mereka mengantar anak-anak berkebutuhan khusus yang belajar di sekolah tempat saya bekerja sebagai Guru Pendamping Khusus (GPK). Awalnya, saya kira mereka akan pulang setelah memastikan anaknya masuk kelas. Namun, sebagian dari mereka tetap tinggal, menunggu hingga jam sekolah berakhir.
Sebagai GPK, saya mendampingi anak-anak dengan kebutuhan yang beragam. Ada anak dengan ADHD yang kesulitan duduk tenang. Ada anak autistik yang membutuhkan waktu lebih lama untuk merespons pertanyaan. Ada pula anak yang perlu dibantu berulang kali untuk memahami instruksi yang bagi teman-temannya terasa sederhana.
Setiap anak membutuhkan cara pendampingan yang berbeda. Namun, semakin lama bekerja, saya menyadari bahwa saya tidak hanya mendampingi anak-anak. Saya juga menjadi saksi bagi perjuangan perempuan-perempuan yang berdiri di belakang mereka.
Sebelum memperoleh asesmen, terapi, atau pendampingan, banyak keluarga terlebih dahulu melalui perjalanan emosional yang panjang. Sebagian berharap anaknya hanya mengalami keterlambatan perkembangan. Mereka meyakinkan diri bahwa setiap anak memang memiliki waktunya sendiri. Mereka mencari berbagai kemungkinan karena belum siap menghadapi kenyataan bahwa anak mereka mungkin membutuhkan dukungan khusus.
Menerima bahwa perkembangan anak tidak berjalan seperti yang selama ini dibayangkan tentu bukan hal mudah. Orang tua tidak hanya menghadapi rasa khawatir mengenai masa depan anak, tetapi juga komentar dan penilaian dari lingkungan sekitar. Dalam banyak kasus yang SAYA temui, beban itu paling sering jatuh kepada ibu.
Merekalah yang ditanya mengapa anak belum bisa bicara. Merekalah yang dituduh kurang sabar, kurang telaten, atau kurang berusaha. Perkembangan anak sering diperlakukan seolah sepenuhnya merupakan hasil dari pola asuh ibu, sementara peran ayah, keluarga besar, sekolah, dan lingkungan jarang dipertanyakan dengan cara yang sama.
Padahal, setiap hari para ibu itu sedang berjuang dengan caranya masing-masing. Saya melihat ibu yang rela menunggu berjam-jam demi memastikan anaknya merasa aman. Ada yang datang berkonsultasi berulang kali karena takut mengambil keputusan yang salah. Ada pula yang mengingat setiap kemajuan kecil anaknya, bahkan ketika perubahan itu nyaris tidak terlihat oleh orang lain.
Baca Juga: ‘Mother-Blaming’ di Kasus ‘Daycare’ Jogja: Salah Kaprah Publik Melihat Kerja Perawatan
Kelelahan yang Tidak Berakhir di Sekolah
Saya sendiri tidak selalu menjadi pendamping yang sabar seperti yang mungkin dibayangkan orang. Ada hari ketika saya pulang dengan tubuh dan pikiran yang sangat lelah. Ada saat seorang anak terus berlari keluar kelas sementara kegiatan belajar harus tetap berlangsung. Ada pula momen ketika saya harus mengulang instruksi yang sama berkali-kali tanpa hasil. Kadang, kesabaran saya menipis. Setelahnya, rasa bersalah muncul karena aku merasa gagal menjadi pendamping yang ideal.
Namun, setiap kali melihat para ibu yang duduk menunggu di luar kelas, aku kembali diingatkan bahwa kelelahan yang kurasakan mungkin hanya berlangsung selama jam kerja. Mereka membawanya pulang.
Ketika sekolah selesai, para ibu tetap mendampingi anak makan, mandi, belajar, dan beristirahat. Mereka tetap menghadapi ledakan emosi, kesulitan berkomunikasi, serta berbagai kebutuhan yang tidak berhenti ketika malam tiba. Bahkan saat rumah sudah sepi, pikiran tentang masa depan anak mungkin masih terus berputar.
Tentu saja, tidak semua keluarga menempatkan seluruh tanggung jawab pada ibu. Ada ayah dan anggota keluarga lain yang terlibat aktif. Namun, pengalaman sehari-hari saya menunjukkan bahwa kerja pengasuhan dan perawatan masih sangat sering dianggap sebagai tanggung jawab utama perempuan.
Anggapan itu juga terlihat dalam profesi yang saya jalani. Di sekolah tempat saya bekerja, jumlah GPK laki-laki jauh lebih sedikit dibandingkan perempuan. Padahal, kebutuhan anak tidak ditentukan oleh gender pendampingnya.
Dalam situasi tertentu, keberadaan lebih banyak pendamping laki-laki dapat membantu, terutama ketika anak tumbuh lebih besar atau menunjukkan perilaku impulsif yang berisiko melukai diri sendiri dan orang lain. Namun, alasan utama perlunya lebih banyak laki-laki dalam profesi ini bukan karena perempuan dianggap tidak mampu menangani situasi tersebut. Yang lebih penting adalah agar kerja perawatan tidak terus-menerus diposisikan sebagai wilayah perempuan.
Baca Juga: Survei ILO-KIC: Kerja Perawatan Masih Dianggap Tanggung Jawab Perempuan
Kerja Perawatan Bukan Bakat Alami Perempuan
Masyarakat masih sering menganggap perempuan lebih sabar, lebih telaten, dan secara alamiah lebih cocok merawat anak. Sebaliknya, laki-laki dibesarkan dengan tuntutan menjadi pencari nafkah utama. Pekerjaan dengan pendapatan dan penghargaan sosial yang rendah kemudian dianggap tidak layak dipilih oleh laki-laki.
Akibatnya, profesi pendampingan kehilangan banyak calon pekerja yang sebenarnya dibutuhkan. Pada saat yang sama, perempuan terus diarahkan ke pekerjaan perawatan yang menuntut energi emosional besar, tetapi tidak selalu dihargai secara layak.
Patriarki bekerja pada kedua sisi. Ia membebani perempuan dengan tanggung jawab perawatan yang berlebihan, sekaligus membatasi laki-laki untuk terlibat dalam pekerjaan yang dianggap tidak cukup maskulin atau tidak menghasilkan cukup banyak uang.
Karena itu, dominasi perempuan dalam dunia pendampingan bukan bukti bahwa perempuan terlahir lebih cocok untuk pekerjaan tersebut. Dominasi itu lahir dari cara masyarakat memperlakukan kerja perawatan sebagai kewajiban alami perempuan, bukan sebagai keterampilan profesional yang membutuhkan pengetahuan, tenaga, kesabaran, pelatihan, dan penghargaan yang layak.
Menjadi GPK mengajari saya bahwa kemajuan seorang anak tidak pernah lahir dari upaya satu orang. Ia membutuhkan kerja sama guru, pendamping, terapis, keluarga, dan lingkungan yang bersedia belajar memahami kebutuhan anak.
Namun, selama beban pengasuhan paling besar tetap diletakkan pada ibu, perempuan-perempuan yang menunggu di depan kelas itu akan terus bekerja tanpa benar-benar memiliki waktu untuk berhenti.
Mereka mungkin tidak pernah mendapat tepuk tangan. Nama mereka jarang disebut ketika seorang anak berhasil mengucapkan kata baru, mengikuti instruksi, atau mulai berani berinteraksi dengan teman-temannya. Padahal, di balik setiap kemajuan kecil itu, ada kesabaran, kekhawatiran, dan kerja perawatan yang berlangsung setiap hari.
Para ibu di depan kelas bukan sekadar orang yang menunggu jam pulang sekolah. Mereka sedang menunggu anaknya bertumbuh, menunggu dunia menjadi lebih ramah, dan mungkin juga menunggu hari ketika tanggung jawab merawat tidak lagi harus mereka pikul sendirian.
Rahma adalah penulis lepas yang menaruh perhatian pada narasi perempuan.





















