04/06/2026
Issues Opini Relationship

Mitos ‘Love is Easy’, Kencannya yang Setengah Mati: POV Seorang Lelaki

Narasi populer sering menggambarkan ‘dating’ sebagai proses melelahkan dan cinta cenderung mengalir dan mudah. Namun pengalaman sosial memperlihatkan dinamika yang jauh lebih kompleks.

  • February 20, 2026
  • 3 min read
  • 3063 Views
Mitos ‘Love is Easy’, Kencannya yang Setengah Mati: POV Seorang Lelaki

Dalam salah satu adegan awal film Materialists (2025), Lucy (Dakota Johnson) mengatakan, “Dating takes a lot of effort. A lot of trial and error. A ton of risk and pain. Love is easy.” Sepanjang film, gagasan ini terus berulang: Kencan alias dating itu sulit, tapi cinta itu (harusnya) mudah saja. 

Celine Song menempatkan Lucy dalam lanskap kota besar seperti New York, di mana dating digambarkan sebagai arena kompetisi. Nilai diri diukur melalui performa, daya tarik, dan kemapanan. Cinta kemudian hadir sebagai resolusi manis, seolah mengalir otomatis ketika orang yang tepat ditemukan. 

Namun rangkaian adegan film ini di mata saya justru membuka POV lain: Yang lebih rumit adalah jatuh cinta. 

Baca juga: Five Books to Read If You Fell in Love with Netflix ‘One Day’ Series

Dating ditampilkan sebagai aktivitas yang relatif ringan. Lucy berpindah dari satu pertemuan ke pertemuan lain. Ada momen canggung, datar, hingga menyebalkan. Namun semuanya berakhir tanpa konsekuensi serius. Aktivitas ini melelahkan secara emosional, namun tetap aman secara eksistensial. 

Sebaliknya, ketegangan meningkat saat Lucy mulai jatuh cinta. Cinta memaksa ia berhadapan dengan ketakutan yang tak pernah muncul di meja dating: Takut ditinggalkan, tidak cukup baik, atau kehilangan kendali. 

Alih-alih menggali kompleksitas ini, film memilih jalan pintas naratif. Cinta digambarkan sebagai sesuatu yang akhirnya mengalir setelah hambatan psikologis runtuh. Seolah kesulitan cinta semata persoalan individual, bukan relasional atau bahkan struktural. 

Di titik ini, narasi love is easy terasa problematis, terutama ketika ditarik ke konteks sosial yang lebih luas. 

Dalam masyarakat Indonesia, dating kerap diposisikan sebagai fase yang harus segera “diselesaikan” melalui perkawinan. Cinta kemudian diuji bukan sekadar sebagai perasaan, tetapi sebagai kepatuhan terhadap norma hukum, agama, dan sosial. 

Baca juga: ‘Anyone But You’: Romcom Duet Glen Powell dan Sydney Sweeney

Cinta Tidak Pernah Otomatis Aman 

Realitas menunjukkan cinta tidak pernah otomatis aman. Catatan Tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) pada 2024 mencatat kekerasan berbasis gender tetap tinggi, sebanyak 330.097 kasus). Jumlah ini meningkat 14,17 persen, dan didominasi kasus di ranah personal. 

Data ini mengingatkan relasi intim yang stabil dan sah secara hukum pun dapat menjadi ruang kerentanan. Afeksi, komitmen, serta ketergantungan emosional memperumit posisi individu, terutama ketika relasi berubah menjadi kontrol atau kekerasan. 

Dalam konteks ini, menyebut cinta sebagai sesuatu yang mudah terasa bukan hanya naif, tetapi juga menutup mata terhadap kerja emosional dan sosial yang dibutuhkan agar cinta tetap setara dan aman. 

Jika dibandingkan, dating justru menyediakan ruang negosiasi dan penarikan diri. Seseorang dapat berkata “tidak”, dapat pergi, dapat mengakhiri tanpa harus memikul stigma moral yang berat. 

Cinta, terutama ketika dilembagakan, sering kehilangan mekanisme aman tersebut. Keluar dari relasi dipersepsikan sebagai kegagalan, sementara bertahan—bahkan dalam ketidakadilan—kerap dipandang sebagai kebajikan. 

Di sinilah mitos tentang cinta bekerja kuat. Kegagalan relasi sering dipersonalisasi, padahal yang kerap bermasalah adalah struktur relasinya. 

Baca juga: Girl, So Confusing: The Messy Realities of Female Friendships

Maka, dating dapat dibaca bukan sebagai ancaman bagi cinta, melainkan ruang belajar yang penting. Ia memungkinkan negosiasi batas, keinginan, serta persetujuan. 

Cinta, sebaliknya, adalah kerja panjang. Ia menuntut bukan hanya perasaan, tetapi juga kerangka hukum yang adil, budaya yang setara, dan keberanian untuk mengakui tidak semua relasi harus dipertahankan. 

Alih-alih berkata “dating itu susah, cinta itu mudah”, mungkin yang lebih jujur adalah dating relatif lebih ringan karena menyediakan ruang keluar, sementara cinta jauh lebih kompleks karena menuntut kerja relasional sekaligus perubahan pada sistem yang membingkainya. 

Usep Hasan Sadikin adalah pemerhati hukum, gender, dan politik. Ia juga peneliti di Perkumpulan untuk Pemilu dan Demokrasi (Perludem). 

About Author

Usep Hasan Sadikin