Ada satu fase dalam hidup perempuan yang jarang dibicarakan. Ketika ia masih sepenuhnya mampu bekerja, masih berpikir jernih, masih punya energi, dan masih punya kebutuhan nyata untuk bertahan hidup. Tetapi dunia di sekelilingnya pelan-pelan berhenti menyediakan pintu masuk.
Bukan karena ia tidak memenuhi syarat. Tapi karena ia dianggap sudah terlalu lama hidup di dunia.
Saya menyadarinya bukan dalam satu peristiwa besar, tapi dalam akumulasi penolakan-penolakan kecil yang seperti tampak wajar, dan justru karena itu terasa makin menyesakkan. Pintu-pintu itu tidak pernah dibanting, melainkan ditutup perlahan, dengan sopan dan kalimat-kalimat yang terdengar netral. Tapi efeknya membuat saya semakin ke sini semakin sering ditempatkan pada posisi seperti meminta-minta, bukan orang yang menawarkan kontribusi.
Baca juga: ‘Oh My Ghost Clients’: Drakor Horor-Komedi Penyemangat Pekerja ‘In This Economy’
Ketika pengalaman berubah dari aset menjadi risiko
Saya sedang mencari pekerjaan. Kalau menurut LinkedIn, kualifikasi saya masuk kategori “all-star”. Pengalaman saya panjang. Perusahaan tempat saya pernah bekerja pun bukan perusahaan kaleng-kaleng, banyak di antaranya multinasional. Dalam dunia yang katanya menghargai kompetensi, itu seharusnya menjadi modal.
Namun kenyataannya, tidak sedikit lowongan yang masih mencantumkan batas usia secara eksplisit. Angka sederhana yang otomatis menghapus saya dari kemungkinan, bahkan sebelum saya sempat menjelaskan siapa saya. Terlepas dari aturan yang mendorong penghapusan syarat usia, praktik ini masih tetap ada.
Dan ketika usia tidak disebutkan secara langsung, ada kata lain yang dipakai sebagai pagar: overqualified. Atau, kalau mengutip kalimat salah satu mantan kolega saya, “Jabatan lo udah terlalu tinggi, ngeri nggak mampu bayar gaji lo!”
Kesimpulannya sama: saya tidak lagi sesuai dengan bentuk tenaga kerja yang diinginkan sistem.
Bukan karena saya tidak mampu, tapi karena saya tidak lagi “efisien” secara struktural.
Yang paling merendahkan bukan penolakan itu sendiri, melainkan posisi yang diciptakannya. Saya mendapati diri saya menghubungi orang satu per satu, menawarkan diri, berharap setidaknya diberi kesempatan untuk mencoba. Buat sebagian orang, itu mungkin tampak seperti mengemis pekerjaan. Tapi buat saya, itu lebih tepat disebut mengemis kesempatan. Karena tanpa kesempatan, pekerjaan bahkan tidak pernah menjadi kemungkinan.
Di sisi lain, ada asumsi diam-diam yang menempel pada perempuan yang masih harus bekerja di usia 50-an, bahwa pasti ada sesuatu yang salah di masa mudanya. Pasti dia gegabah, tidak menyiapkan jaring pengaman, dan gagal mengelola hidup.
Padahal hidup tidak pernah sesederhana itu.
Ada perempuan yang menghabiskan tahun-tahun produktifnya membesarkan anak, mendukung pasangan, dan bertahan dalam struktur yang pada saat itu dianggap stabil. Ada yang kemudian harus berdiri sendiri karena perceraian, atau karena pasangan tidak memenuhi tanggung jawabnya. Ada pula yang terus bekerja, tapi dalam sistem yang tidak pernah benar-benar mengubah kerja panjang menjadi perlindungan jangka panjang.
Yang berubah bukan kemampuan saya, tapi cara sistem melihat saya. Ada masa ketika pengalaman dianggap aset. Namun sekarang, pengalaman bisa menjadi alasan untuk tidak dipertimbangkan. Ada masa ketika saya bagian dari mesin. Kini, saya berdiri di luarnya, mencoba meyakinkan mesin itu bahwa saya masih layak, bukan untuk “dipakai”, tetapi untuk diakui sebagai manusia kompeten yang masih punya masa depan.
Baca juga: Rawat Bumi dan Berdayakan Perempuan: Cerita PaperPods Pekerjakan Perempuan Lansia
Jaring pengaman yang juga bersyarat
Di titik ini, saya juga menyadari hal yang lebih luas. Bukan cuma pasar kerja yang memiliki pagar, tapi jaring pengaman sosial pun sering dirancang dengan logika yang membuat orang jatuh dulu baru dianggap layak ditolong.
Salah satu contoh paling nyata bagi saya adalah BPJS. Ketika saya kehilangan pekerjaan beberapa tahun lalu, saya tidak mampu lagi membayar iuran karena ada prioritas finansial lain agar saya bisa bertahan. Yang saya cari sebenarnya sederhana. Adakah cara agar saya dan anak saya tetap terlindungi, misalnya lewat penyesuaian status, skema bantuan, atau setidaknya mekanisme yang tidak menuntut saya melunasi semuanya sekaligus.
Karena itu saya mencoba semua jalur yang tersedia: aplikasi, call center, sampai kantor cabang. Saya menanyakan kemungkinan beralih skema atau mendapatkan keringanan. Tapi jawabannya berulang dengan bentuk yang berbeda, tapi maknanya sama. Saya tidak bisa masuk bantuan pemerintah karena dianggap belum cukup miskin. Dan ketika saya ingin menutup kepesertaan karena tidak sanggup meneruskan, saya tetap diminta melunasi tunggakan terlebih dahulu.
Kalimat “silakan lunasi tunggakan terlebih dahulu” terdengar administratif. Netral, tidak personal. Namun implikasinya brutal. Untuk mendapatkan perlindungan kesehatan, saya harus sudah berada dalam kondisi cukup aman untuk membayar perlindungan kesehatan. Lingkaran yang tidak masuk akal bagi orang yang justru sedang berada di titik paling rentan.
Akibatnya, saya dan anak saya hidup tanpa jaring pengaman kesehatan. Bukan karena kami tidak butuh. Bukan karena kami menolak sistem. Tetapi karena kami tidak memenuhi konfigurasi administratif yang diperlukan untuk dianggap layak dilindungi.
Di sini, persoalannya kembali sama: akses.
Bila seseorang seperti saya yang tinggal di Jakarta, punya pendidikan, pengalaman puluhan tahun, dan jejaring saja masih harus jungkir balik hanya untuk mendapatkan kesempatan dan rasa aman dasar, bayangkan perempuan lain yang tidak punya akses, tidak punya jejaring, tidak punya bahasa untuk menegosiasikan nilai dirinya. Kemungkinan besar mereka bahkan tidak pernah masuk ke percakapan. Mereka tidak ditolak. Mereka tidak sampai di tahap dinilai.
Saya tidak menulis ini untuk meminta belas kasihan. Saya juga tidak menulis ini untuk menyangkal rasa syukur. Saya bersyukur saya dan anak saya masih bisa bertahan. Saya bersyukur saya masih mampu berpikir dan bergerak, masih bisa mencoba lagi setiap kali sesuatu tidak berhasil. Tetapi ada perbedaan besar antara bertahan hidup dan hidup dengan rasa aman.
Terlalu banyak orang melihat perempuan setengah baya yang masih berdiri, masih berfungsi, lalu berasumsi bahwa kami baik-baik saja. Bahwa kami pasti punya cara. Bahwa kami pasti akan menemukan jalan. Padahal sering kali yang terjadi adalah, kami hanya belum jatuh. Itu saja.
Karena itu saya ingin mengajukan pertanyaan yang mungkin membuat banyak dari kita tidak nyaman. Kapan terakhir kali kita benar-benar memberi kesempatan kepada perempuan setengah baya yang masih harus bekerja. Bukan karena mengejar ambisi baru, tetapi karena hidup tidak memberi pilihan lain? Kapan terakhir kali kita melihat mereka sebagai aset, bukan sebagai risiko?
Dan kapan terakhir kali kita membuka pintu, bukan dengan asumsi bahwa mereka “sudah selesai”, melainkan dengan kesadaran bahwa mereka masih di sini, masih mampu, dan masih berhak atas masa depan?
Kebenarannya sederhana. Banyak dari kami tidak sedang mengejar sesuatu yang luar biasa. Kami hanya berusaha mempertahankan sesuatu yang paling dasar: hak untuk berdiri di atas kaki kami sendiri.





















