5 Artikel Pilihan: Bad Bunny di Super Bowl, Tren Baju Lebaran 2026, hingga Kasus Pemutusan BPJS PBI
1. Perempuan Setengah Baya dan Pintu yang Menutup Pelan-pelan
Ada satu fase dalam hidup perempuan yang jarang dibicarakan. Ketika ia masih sepenuhnya mampu bekerja, masih berpikir jernih, masih punya energi, dan masih punya kebutuhan nyata untuk bertahan hidup. Tetapi dunia di sekelilingnya pelan-pelan berhenti menyediakan pintu masuk.
Bukan karena ia tidak memenuhi syarat. Tapi karena ia dianggap sudah terlalu lama hidup di dunia.
Baca artikel selengkapnya di sini.
2. Katun Bolong sampai Gamis Rompi Lepas: Kenapa Kita FOMO Tren Baju Lebaran
Jauh sebelum puasa dimulai, grup keluarga saya sudah ramai menentukan dresscode baju Lebaran. Dalam grup obrolan daring itu, salah satu anggota keluarga saya membuat pollingpenentuan warna baju lebaran. Tahun ini opsinya ada empat warna. Cokelat mahogany dan kuning “El Rumi” jadi warna yang ramai dipilih untuk meramaikan Hari Raya.
Kini, budaya membeli baju Lebaran juga dibarengi dengan munculnya patokan tren fesyen. Sebut saja gamis berwarna sage green yang ramai pada 2023, atau baju shimmer yang ramai pada 2024. Motif katun bolong juga pernah jadi tren baju Lebaran pada 2025. Setiap tahunnya ada patokan outfit tersendiri sebagai panduan merayakan Idul Fitri di Indonesia. Kali ini giliran gamis rompi lepas yang unjuk gigi.
Baca artikel selengkapnya di sini.
3. Pemutusan BPJS PBI dan Beban Tak Terlihat Perempuan ‘Caregiver’
Eni, 41, tak pernah menyangka kalau hidupnya semakin terasa sulit di awal tahun ini. Per (6/2) lalu ia baru mengetahui kalau status keanggotaan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (BPJS PBI) miliknya dinonaktifkan mendadak. Hal ini pun terjadi pada anaknya yang mengidap tumor payudara. Tanpa sosialisasi, kini, bantuan tersebut sudah tak bisa ia terima lagi.
Informasi itu pertama kali ia dengar dari orang tua murid di sekolah anaknya. Kala itu, sejumlah ibu membicarakan penonaktifan status BPJS PBI yang mereka alami. Selepas percakapan tersebut, Eni segera memeriksa aplikasi BPJS Kesehatan di ponselnya. Hasilnya membuatnya cemas: Seluruh keluarganya tak lagi tercatat sebagai peserta aktif.
Simak artikelnya di sini.
4. Bad Bunny, Kolektivisme, dan Refleksi Solidaritas Negara Selatan-Selatan
Penampilan Bad Bunny yang unapologetically Latin di panggung Super Bowl, dengan dentuman reggaeton, Latin trap, dan visual yang menyinggung sejarah kolonial Puerto Riko, terasa seperti sebuah pernyataan politik yang sengaja tidak disamarkan. Di tengah menguatnya sentimen anti-imigran di Amerika Serikat, tampil “terlalu Latin” di ruang yang biasanya steril dari konteks politik justru menjadi sesuatu yang terasa radikal.
Bukan hal aneh kalau penampilan itu memantik reaksi keras dari kelompok konservatif dan pro-MAGA. Tapi yang menarik, tepuk tangan dan rasa terwakili tidak hanya datang dari Amerika Latin. Banyak orang di Asia dan wilayah lain ikut merasakan resonansi yang sama.
Baca artikel lengkapnya di sini.
5. ‘Love Bombing’ Hingga Budaya Menyalahkan Perempuan dalam Film ‘Penerbangan Terakhir’
Penerbangan Terakhir, film produksi VMS Studio arahan Benni Setiawan, mengangkat tema perselingkuhan di dunia penerbangan. Sebuah isu yang sebenarnya dekat dengan realitas, tetapi jarang dibicarakan secara serius di layar lebar Indonesia.
Lewat karakter Tiara (Nadya Arina), seorang pramugari baru, penonton diajak masuk ke relasi yang sejak awal tampak romantis, tetapi perlahan berubah menjadi toksik. Hubungannya dengan Kapten Deva (Jerome Kurnia) memperlihatkan bagaimana kerentanan perempuan sering kali dieksploitasi melalui praktik manipulatif yang dibungkus sebagai cinta. Tindakan manipulatif ini belakangan kita kenal dengan istilah love bombing.
Baca artikel selengkapnya di sini.





















