Jalan Sunyi Duo Gen Z Menjaga Awik-awik di Lombok Timur
Ket: Nuansa Azma Yonita (kiri) dan Risfa Audina Waristi (kanan) di Pantai Ekas, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Foto oleh M. Rifaldy Zelan/Magdalene
Hamparan pasir dan debur ombak menjadi pemandangan sehari-hari bagi Risfa Audina Waristi, 26 atau akrab disapa Risfa, dan Nuansa Azma Yonita, 25 atau Azma, yang lahir dan besar di Desa Jerowaru, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Sedari kecil Risfa dan Azma kerap mendengar desa tempat mereka tumbuh dikenal akan kawasan hutan bakau dan kekayaan laut yang melimpah. Namun, mereka tidak pernah benar-benar paham bagaimana laut dan hutan bakau menyokong kehidupan masyarakat pesisir.
Ada rasa ganjil yang memenuhi benak Risfa dan Azma saat sadar betapa asingnya mereka dengan isu lingkungan di tanah sendiri. Rasa ganjil ini mendorong keduanya bergabung dengan Lembaga Pengembangan Sumberdaya Nelayan (LPSDN) pada Desember 2025. LPSDN merupakan lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang pemberdayaan masyarakat pesisir dan nelayan khususnya di Lombok Timur. Mereka menjadi satu-satunya Gen Z di organisasi tersebut kala itu, sementara anggota lainnya berusia di atas 40 tahun.
Saat bergabung dengan LPSDN, Risfa dan Azma banyak mengikuti kegiatan lapangan yang membuat mereka melihat realitas lingkungan pesisir. Risfa dan Azma mengaku terkejut saat mengetahui laut tidak sesederhana kumpulan air dan ikan, serta hutan bakau bukan sekadar pohon untuk mencegah abrasi.
“Aku udah lama hidup di sini, tapi enggak tahu soal isu-isu sekitar. Seperti mangrove ternyata sepenting itu untuk menyerap karbon setelah fitoplankton, dan sumber makanan untuk biota laut. Terus penangkapan ikan juga enggak boleh sembarangan,” ujar Risfa saat diwawancara Magdalene (21/10).

Mereka juga baru mengetahui kalau masyarakat lokal di Lombok memiliki kearifan lokal bernama Awik awik.
Mereka menjadi satu-satunya Gen Z di organisasi tersebut kala itu, sementara anggota lainnya berusia di atas 40 tahun.
Baca juga: Awik-Awik: Jaga Laut dan Berdayakan Ekonomi Masyarakat Pesisir Lombok Timur
Praktik Turun-Temurun Awik-Awik di Tanah Lombok
Azma menjelaskan Awik-awik adalah sebuah kearifan lokal berbentuk peraturan untuk mengatur tata kehidupan masyarakat khususnya dalam pengelolaan dan pemeliharaan lingkungan laut dan pesisir.
“Awik-awik itu peraturan, yang dimana agar para nelayan dan semua masyarakat enggak semena-mena terhadap laut, mangrove, pesisir, dan segala macam,” ujarnya.
Risfa menambahkan Awik-awik memiliki peran krusial sebagai penunjuk arah masyarakat Lombok. Lewat Awik-awik, masyarakat memiliki panduan terkait apa yang bisa mereka manfaatkan di laut, bagaimana caranya, hingga larangan-larangan dalam pemanfaatan laut agar tidak merusak lingkungan. Seperti larangan penggunaan bom, potassium, atau menebang hutan bakau.
“Kalau enggak ada Awik-awik masyarakat pesisir enggak tau arahnya mau kemana: Apa yang bisa dimanfaatkan di daerahnya, atau bagaimana cara memanfaatkannya. … Jadi bisa menekan masyarakat untuk lebih menjaga ekosistem. Masyarakat tetap bisa memanfaatkan lingkungan, dengan tidak merusak lingkungan,” kata Risfa.
Awik-awik dibentuk atas kesepakatan kolektif masyarakat desa. Masyarakat desa dikumpulkan untuk membahas isi Awik-awik.
Direktur LPSDN Amin Abdullah menjelaskan bahwa Awik-awik merupakan kearifan lokal di Pulau Lombok yang sudah ada sebelum hukum negara hadir, dan diwarisi turun-temurun dari generasi ke generasi.
“Jadi, Awik-awik di Pulau Lombok ini dia ada jauh sebelum hukum-hukum formal ada,” jelas Amin.
Untuk menjaga agar Awik-awik tetap terjaga, LPSDN tengah gencar melakukan edukasi ke masyarakat khususnya generasi muda. Amin menilai keterlibatan anak muda penting untuk menjaga keberlanjutan Awik-awik.
“Jadi itu kampanye yang kita terus intens lakukan di di masyarakat. Bagi generasi muda yang belum paham tentang materi Awik-awik, tidak terlibat dalam musyawarah Awik-awik, kegiatan-kegiatan edukasi terus kita lakukan supaya mereka memahami tentang fungsi ekologi dari masing-masing ekosistem ini,” ujarnya.
Baca juga: Mama Papua dan Tradisi Sasi: Merawat Laut, Menjaga Sesama
Keberlanjutan Awik-awik di Tangan Gen Z
Risfa dan Azma mengatakan banyak generasi muda khususnya Generasi Z di Lombok Timur belum mengetahui Awik-awik.
“Dari yang aku lihat masih kurang (pemahaman soal Awik-awik). Jangankan anak muda, orang tua pun belum tentu tau Awik-awik itu apa. Mungkin kalau yang aktif di isu-isu kayak gini (konservasi) tuh nggak asing ya dengar Awik-awik,” terang Risfa dan Azma.
Oleh karena itu, Risfa dan Azma bersama dengan LPSDN gencar melakukan edukasi soal Awik-awik. Mereka datang ke tiap dusun, desa, hingga kecamatan, untuk menyebarkan informasi soal Awik-awik dan melakukan reforestasi hutan bakau.
“Di situ kita bersama GNI (Yayasan Gugah Nurani Indonesia), membantu untuk mensosialisasikan program kita kepada masyarakat. Kita berbagi pengetahuan, terus bagaimana cara menanam mangrove yang benar, terus mangrove itu jenisnya ada apa aja, dimana habitatnya, terus mangrove itu bisa dipakai buat apa aja sih, sebenarnya mangrove itu sepenting apa sih,” ucapnya.

Baca juga: Perempuan Penyelam Perluas Peran di Industri Maritim dan Konservasi
Nuansa Azma Yonita sedang menanam bakau dalam kegiatan LPSDN dan Yayasan Gugah Nurani Indonesia.
Selain melakukan edukasi, Risfa dan Azma bersama LPSDN juga tengah aktif melakukan penguatan Awik-awik bagi masyarakat Lombok dengan menuliskannya ke dalam peraturan di tingkat desa. Amin menerangkan walaupun awalnya Awik-awik tidak tertulis, namun pendokumentasian menjadi penting agar Awik-awik diakui oleh negara.
Risfa dan Azma saat ini sedang membantu pembuatan peraturan bersama kepala desa (permakades) antara Desa Pemongkong dan Desa Sekaroh, Kecamatan Jerowaru, Lombok Timur. Kedua desa tersebut membentuk peraturan bersama karena berbagi wilayah perairan di Teluk Kecebing dan Telone
“Jadi yang menaungi Awik-awik ini adalah permakades. Ini yang jadi payung hukum Awik-awik di Desa Pemongkong dan Desa Sekaroh,” ucap Risfa dan Azma.
Sebagai Gen Z yang sedang berupaya melestarikan Awik-awik, Risfa dan Azma berpesan ke sesama Gen Z di Lombok untuk turut menjaga Awik-awik agar lingkungan Lombok turut terjaga. Mereka menekankan Awik-awik penting untuk keberlangsungan lingkungan Lombok di masa depan.
“Lombok banyak pantai dan juga ekosistem mangrove. Makanya kita sebagai Gen Z sangat penting memiliki pengetahuan tentang mangrove, Awik-awik dan segala macam,” tutur Azma.
“Hidup kita berjalan maju. Kalau tidak seperti itu (menjaga lingkungan), ya kita akan hancur. Jadi dari sekarang kita harus wariskan ke anak-cucu agar mereka mendapatkan lingkungan yang baik di masa depan,” pesan Risfa.


























