02/11/2026
Economy Issues Opini Politics & Society

Boikot Rans Carnival, Bukti UMKM Kian Kritis meski Cuan Jadi Taruhan

Raffi Ahmad dituding melakukan agenda setting dalam momen peringatan Sumpah Pemuda. Meski berisiko kehilangan cuan, sejumlah pelaku UMKM memilih memboikot Rans Carnival.

  • November 2, 2026
  • 4 min read
  • 18 Views
Boikot Rans Carnival, Bukti UMKM Kian Kritis meski Cuan Jadi Taruhan

Plataran parkir Stadion Maguwoharjo, Sleman (Daerah Istimewa Yogyakarta), sejak (29/10) malam sudah ramai aktivitas. Lokasi ini merupakan tempat perhalatan Rans Carnival yang rencananya digelar Sabtu-Ahad, 31 Oktober-1 November 2026.

Namun, keramaian itu bukan aktivitas persiapan acara, melainkan para tenant yang sedang merapikan lapaknya sebelum acara dimulai.

Aksi ini dipicu oleh mundurnya musisi utama seperti Guyon Waton, OM Wawes, dan Tipe-X, dan adanya gelombang boikot warganet kepada pemilik festival, Raffi Ahmad, yang beberapa waktu lalu hadir dalam Deklarasi Sumpah Pemuda di Jakarta.

Bagi pelaku UMKM, keputusan mundur ini jelas menjadi pertaruhan bagi kelangsungan usahanya. Penjual donat, cuanki, hingga minuman kelapa yang terlanjur menyetok banyak porsi makanan basah terpaksa menelan risiko kerugian modal dalam sekejap.

Meski tampak seperti kekacauan manajerial festival, peristiwa di Maguwoharjo ini menyimpan makna sosiologis dan komunikasi publik yang jauh lebih dalam.

Fenomena ini memperlihatkan pergeseran dalam relasi bisnis dan publik: Bagaimana pelaku UMKM lokal dan musisi mempraktikkan brand activism, menolak terseret politisasi elite, dan menemukan daya tawar kolektif mereka bersama warga setempat.

Baca Juga: Raffi Ahmad, Pengawalan Mobil RI 36, dan Polisi yang Arogan 

Blunder Raffi Ahmad dan Penolakan Publik

Peristiwa di Maguwoharjo memberi pesan kepada masyarakat luas, batas antara panggung hiburan, brand, dan pusaran kekuasaan kini kian tipis.

Ketika seorang pemuka seperti Raffi Ahmad selaku co-founder Rans dan juga utusan khusus presiden bermanuver politik praktis, entitas bisnisnya akan selalu melekat dan dipertaruhkan.

Semua bermula ketika Raffi Ahmad, influencer Willie Salim, dan sejumlah kelompok yang mengaku mahasiswa merayakan momen Sumpah Pemuda di Bundaran Hotel Indonesia Jakarta, (29/10) silam.

Belakangan, publik mendapati massa yang diboyong bersama mereka ternyata mahasiswa gadungan. Inilah yang memicu kemarahan publik dan warganet.

Untuk sosok setenar Raffi, setiap tindakan politik yang memicu kontroversi akan langsung berdampak dan menyeret pihak-pihak di sekitarnya, termasuk mitra dagang, tenant kecil, hingga artis yang sudah berkontrak dengan Rans Carnival di Yogyakarta.

Fenomena mundurnya para tenant dan artis dari Rans Carnival merupakan penanda positif tentang kesadaran politik masyarakat. Ini berarti mereka menyadari bahwa modal terpenting mereka bukanlah omzet yang dihasilkan dari festival sesaat, melainkan legitimasi sosial dan kepercayaan masyarakat dan konsumen harian di sekitarnya.

Baca Juga: Honoris Causa Raffi Ahmad, Gelar Doktor Harusnya Tak Sebercanda itu

Aksi Penolakan Campur Tangan Politik dalam Bisnis

Menyelamatkan reputasi di hadapan publik lokal menjadi keputusan yang jauh lebih rasional dibanding memaksakan diri bertahan di panggung yang telah kehilangan restu warganya. Ini meskipun kemungkinan para tenant yang mundur justru mengalami masalah keuangan karena membatalkan partisipasi dalam Rans Carnival.

Kesadaran menjaga citra brand dengan menjaga modal simbolis dengan netralitas terhadap aksi politik bagi konsumen dikenal sebagai brand activism (aktivisme merek).

Pada akhirnya keputusan mundur para pedagang kecil di Jogja menegaskan aroma politis dari suatu panggung perlu dihindari meskipun harus kehilangan sorotan perhatian dan perbincangan masyarakat.

Dalam kajian komunikasi, relasi antara konsumen dan brand telah bergeser menjadi kontrak sosial berbasis nilai. Studi yang dilakukan oleh Helen O’Sullivan dan tim pada 2026 menegaskan: Konsumen modern khususnya kelompok muda melihat sikap diam dalam krisis sosial-politik bukan sebagai kenetralan yang bijak, melainkan sebagai bentuk pembiaran.

Rans Carnival sedang dituding sarat aroma politik yang ditakuti mendapatkan tudingan pengkhianatan nilai komunitas karena konsumen yang mementingkan etika bisnis sebelum memutuskan setia pada suatu brand.

Karena itu, risiko dijauhi dan diboikot selamanya oleh pelanggan lokal di Jogja jelas jauh lebih mematikan ketimbang sekadar merelakan potensi laba dua hari di arena festival.

Baca Juga: Maudy Ayunda dan ‘Insecurity’ Kita

Gerakan Warga Bantu Warga

Peristiwa ini sekaligus mematahkan anggapan keberlangsungan usaha kecil kerap bergantung pada promotor festival besar. Penarikan diri yang serempak menunjukkan UMKM lokal sebagai komunitas akar rumput memiliki agensi dan daya tawar politiknya sendiri.

Setelah sorotan acara Rans di Maguwoharjo tersambung secara alami dengan ruang percakapan digital, salah satunya di Threads, warganet tidak sekadar meluapkan amarah tetapi juga bergerak mengorganisasi perlindungan ekonomi secara sukarela.

Warganet membuat gerakan ajakan terbuka bagi warga untuk beramai-ramai “nglarisi” sebagai bentuk solidaritas beredar luas, disambut dengan riuhnya dukungan warganet yang menaruh simpati, salah satunya dengan jargon “Josjis warga Jogja”.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana percakapan di media sosial bertransformasi menjadi aksi kolektif di lapangan (online-to-offline collective action), membentuk jaring pengaman komunitas (community cushioning) yang melindungi pedagang lokal.

Pada akhirnya, modal sosial dan kedekatan kultural antarwarga membuktikan sanggup menjaga daya tahan ekonomi mikro tanpa harus menundukkan diri pada panggung hiburan nasional.

Mekanisme psikologi publik ini dapat dijelaskan lewat riset Sumin Kim dan Hongwei He pada 2025. Ketika publik menilai suatu entitas bertindak atas dasar motif mementingkan diri (egoistic motive) dari Raffi Ahmad, respons yang muncul adalah kemarahan (anger) yang melahirkan pemboikotan.

Sebaliknya, ketika tindakan dinilai bersumber dari ketulusan nilai moral, empati publik yang muncul mendorong mereka melakukan pembelaan secara sukarela.

Ibnu Darmawan, Dosen, Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta.

Artikel ini pertama kali diterbitkan oleh The Conversation, sumber berita dan analisis yang independen dari akademisi dan komunitas peneliti yang disalurkan langsung pada masyarakat.

About Author

Ibnu Darmawan

Click to access the login or register cheese