07/07/2026
Culture Opini Prose & Poem

Ketika Tubuh Gemuk Dianggap Lebih Mengancam daripada Pembunuhan: Membaca ‘Butter’

Melalui makanan, pembunuhan, dan relasi penuh manipulasi, novel ‘Butter’ membongkar bagaimana ‘fatphobia’ dan patriarki mengendalikan tubuh, hasrat, serta kenikmatan perempuan.

  • June 24, 2026
  • 5 min read
  • 451 Views
Ketika Tubuh Gemuk Dianggap Lebih Mengancam daripada Pembunuhan: Membaca ‘Butter’

Apa jadinya jika nasi hangat dengan mentega dan kecap asin dapat mengguncang keyakinan seseorang tentang tubuh, ambisi, dan harga diri? Dalam novel Butter karya Asako Yuzuki, makanan bukan sekadar sumber kenikmatan. Ia menjadi jalan masuk untuk membicarakan bagaimana perempuan diawasi, didisiplinkan, dan dinilai, bahkan ketika mereka sedang berhadapan dengan tuduhan kejahatan serius.

Rika Machida adalah satu-satunya jurnalis perempuan di meja redaksi Shuumei Weekly. Ia berusaha mendapatkan wawancara eksklusif dengan Manako Kajii, perempuan yang ditahan karena didakwa membunuh sejumlah pengusaha laki-laki paruh baya. Kajii, seorang koki rumahan yang dikenal piawai menyajikan makanan mewah, selalu menolak permintaan wawancara media.

Atas saran sahabatnya, Reiko, Rika mengubah pendekatan. Alih-alih langsung menanyakan kasus pembunuhan, ia meminta resep boeuf bourguignon—yang secara keliru disebutnya beef stew—hidangan yang pernah dimasak Kajii untuk salah satu korban. Pertanyaan itu berhasil membuka pintu. Namun, percakapan mereka segera berkembang menjadi permainan psikologis. Rika mengira ia sedang mengorek rahasia seorang tersangka pembunuhan. Sebaliknya, Kajii mulai membongkar rasa lapar, kesepian, dan ketidakpuasan yang selama ini disembunyikan Rika.

Di tempat kerja, Rika terus-menerus merasa harus membuktikan bahwa ia setangguh rekan-rekan laki-lakinya. Ia bekerja hingga mengabaikan tubuhnya, melewatkan makan, dan menekan emosi agar tidak dianggap lemah. Ketangguhan profesional diukur melalui kemampuan untuk terus produktif, tidak mengeluh, dan memperlakukan kebutuhan tubuh sebagai gangguan.

Rika lalu menginternalisasi cara pandang tersebut. Ia tidak hanya menghakimi dirinya sendiri, tetapi juga datang menemui Kajii dengan prasangka yang dibentuk media dan masyarakat. Baginya, tubuh Kajii terasa tidak selaras dengan citra perempuan yang mampu memikat banyak laki-laki. Di sinilah Butter memperlihatkan bagaimana patriarki tidak hanya bekerja melalui laki-laki atau institusi, tetapi juga melalui standar yang diserap dan diteruskan oleh perempuan.

Pertemuan dengan Kajii perlahan memaksa Rika meninjau kembali relasinya dengan makanan. Selama ini, makan baginya sekadar kebutuhan yang bisa ditunda demi pekerjaan. Kenikmatan bahkan terasa seperti kemewahan yang tidak pantas. Kajii, sebaliknya, memandang makanan sebagai pengalaman indrawi yang harus dinikmati sepenuhnya. Ia mengajari Rika mencicipi mentega, nasi, ramen, dan berbagai hidangan lain tanpa tergesa-gesa—seolah-olah rasa lapar dan kesenangan perempuan tidak seharusnya terus meminta izin.

Baca juga: ‘Seks dalam Ketetapan Negara dan Tuhan’: Tubuh Perempuan Dijajah atas Nama Moral

Tubuh gemuk sebagai “pelanggaran”

Kajii tidak dapat diposisikan sebagai tokoh pembebasan yang sederhana. Ia manipulatif, narsistik, dan didakwa melakukan kejahatan berat. Namun, justru melalui karakter yang tidak nyaman inilah Yuzuki membongkar fatphobia masyarakat Jepang. Perhatian publik terhadap Kajii tidak hanya tertuju pada dugaan pembunuhan, tetapi juga pada tubuhnya: bagaimana mungkin perempuan gemuk yang dianggap tidak menarik bisa memikat laki-laki kaya?

Pertanyaan tersebut memperlihatkan keyakinan yang lebih dalam bahwa daya tarik, hasrat, dan kekuasaan hanya layak dimiliki perempuan yang memenuhi standar kecantikan tertentu. Tubuh gemuk diperlakukan bukan hanya sebagai kegagalan estetis, tetapi juga sebagai bentuk ketidakpatuhan. Perempuan boleh hadir selama tubuhnya terkendali, keinginannya dibatasi, dan penampilannya menyenangkan mata orang lain.

Karakter Kajii terinspirasi dari Kanae Kijima, perempuan yang kasusnya menghebohkan Jepang setelah ia ditangkap pada 2009 atas pembunuhan sejumlah laki-laki yang dikenalnya melalui situs perjodohan. Dalam pemberitaan kasus tersebut, tubuh Kijima menjadi objek perhatian yang hampir sama besarnya dengan tindak kejahatannya. Publik tampak sulit menerima bahwa perempuan yang tidak sesuai standar kecantikan dominan dapat memengaruhi dan memanipulasi laki-laki.

Obsesi semacam ini menunjukkan bahwa media tidak pernah sepenuhnya netral ketika memberitakan perempuan pelaku kejahatan. Tubuh, usia, seksualitas, status perkawinan, dan kemampuan domestik mereka kerap ikut diadili. Kejahatan yang dilakukan perempuan dianggap semakin tidak masuk akal ketika pelakunya gagal memenuhi ekspektasi tentang feminitas.

Baca juga: Review ‘Perempuan di Rumah No.8’: Luka Perih dari Orang Terkasih

Kenikmatan yang tidak pernah netral

Dalam Butter, makanan menjadi simbol yang kompleks. Mentega dapat dibaca sebagai kemewahan, hasrat, kelimpahan, bahkan bahaya. Ia juga mewakili sesuatu yang sering dilarang bagi perempuan: mengambil ruang dan menikmati sesuatu tanpa rasa bersalah.

Namun, novel ini tidak menawarkan slogan sederhana seperti “makanlah apa pun yang kamu mau” atau “cintailah tubuhmu”. Relasi Rika dengan makanan berubah, tetapi perubahan itu juga mengusik persahabatannya, pekerjaannya, dan cara ia memandang perempuan lain. Kenikmatan dapat membebaskan, tetapi juga bisa digunakan untuk mengendalikan. Kajii memahami hal tersebut dan menjadikan makanan sebagai alat pengaruh.

Dengan ketebalan dan ritme yang cenderung lambat, Butter mungkin tidak memuaskan pembaca yang mengharapkan thriller kriminal serba cepat. Yuzuki menghabiskan banyak ruang untuk mendeskripsikan rasa, tekstur, ritual makan, dan pergulatan batin tokoh-tokohnya. Beberapa bagian terasa berputar-putar. Namun, kelambatan itu juga memberi pembaca waktu untuk menyadari betapa dalamnya rasa malu terhadap tubuh tertanam dalam kehidupan sehari-hari.

Kekuatan utama novel ini bukan terletak pada misteri siapa membunuh siapa, melainkan pada pertanyaan yang lebih mengganggu: mengapa tubuh perempuan begitu mudah berubah menjadi konsumsi publik? Mengapa perempuan yang menikmati makanan, seksualitas, perhatian, atau kekuasaan dianggap lebih mengancam ketika tubuhnya tidak sesuai dengan norma?

Butter mengajak pembaca memeriksa kembali penghakiman yang sering kita anggap wajar. Kita mungkin tidak pernah menjadi bagian dari kerumunan yang mengejek tubuh seorang terdakwa. Namun, bisa jadi kita pernah menilai kredibilitas, moralitas, kesehatan, atau kebahagiaan perempuan lain hanya dari ukuran tubuhnya.

Pada akhirnya, novel ini menunjukkan bahwa fatphobia bukan sekadar soal selera personal. Ia adalah mekanisme sosial yang menentukan tubuh mana yang dianggap pantas dicintai, didengar, dipercaya, atau bahkan dibiarkan menikmati hidup. Dan seperti mentega yang perlahan meleleh di atas nasi panas, Butter membuat prasangka-prasangka itu muncul ke permukaan—licin, pekat, dan sulit lagi diabaikan.

Rully Restiana adalah pegiat isu perempuan.

About Author

Rully Restiana