Seorang bidan sedang memeriksa kesehatan anak. (Foto: Dok. pribadi penulis)
Helena mengayunkan parang di halaman rumahnya di Kei Besar, Maluku Tenggara. Sejak pagi, perempuan berusia 53 tahun itu sudah membersihkan rumput dan mengurus rumah seorang diri. Suaminya pergi sejak fajar untuk bermain bola dan berkumpul bersama teman-temannya.
“Kalau tinggal di Jakarta mungkin enak, tapi kalau di Maluku sini, ya, begini sudah. Mesti pegang parang, potong rumput, kasih bersih-bersih lahan,” ujarnya saat ditemui pada Februari lalu.
Keluarga Helena hidup serba kekurangan. Rumah mereka tidak dialiri listrik dan untuk makan, mereka mengandalkan pisang dan embal, olahan singkong kering yang sebetulnya makanan pokok warga lokal. Mereka sebenarnya memiliki kebun di belakang rumah. Namun, sejak ibu Helena meninggal, kebun itu tidak lagi terurus.
“Dulu pas Mama su seng ada, kebun ni memang su hancur, su amur-amur samua,” katanya.
Di antara ketiga anaknya, Selena yang berusia tiga tahun, memiliki kondisi tubuh paling rentan. Ia didiagnosis mengalami gizi buruk dengan berat badan 6,9 kilogram.

Helena mengaitkan kondisi putrinya dengan pengalamannya selama kehamilan. Saat mengandung Selena, ia kerap mengalami kekerasan dari suaminya. Asupan makanannya juga tidak mencukupi.
Ribuan kilometer dari Maluku Tenggara, Ulwiah menghadapi persoalan serupa di Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Ibu berusia 36 tahun itu tinggal bersama suami dan ketiga anaknya. Suaminya bekerja sebagai buruh pabrik, sementara Ulwiah mengurus rumah dan anak-anak. Ketika uang belanja terbatas, ia berusaha tetap bisa memenuhi kebutuhan gizi keluarga.
“Yang penting ada telur. Kita soalnya enggak punya alat kukus, jadi langsung beli aja,” ujarnya saat ditemui bulan April.
Putri bungsunya yang berusia dua tahun, Ayesha, didiagnosis mengalami stunting. Menurut Kamilia, bidan yang menanganinya, kondisi itu kemungkinan berkaitan dengan Kekurangan Energi Kronis atau KEK yang dialami Ulwiah saat hamil. KEK dapat terjadi ketika seseorang tidak mendapatkan asupan gizi yang cukup dalam jangka panjang.
Kini, Ulwiah juga menghadapi kesulitan memberi makan Ayesha yang sering menolak makanan, terutama ikan, dan lebih menyukai camilan.
“Makannya susah. Makannya ngemil, tidak terlalu porsi banyak. Paling dua sampai tiga sendok sudah. Kalau ikan, dia tidak mau. Katanya amis,” kata Ulwiah.
Meski mendapat Pemberian Makanan Tambahan (PMT) dan bantuan makanan bergizi dari puskesmas, tekanan psikologis tidak ikut hilang. Sebagai ibu yang sehari-hari berada di rumah, Ulwiah merasa telunjuk sosial selalu mengarah kepadanya setiap kali timbangan anaknya tidak naik.
“Ya kalau saya kan cuma di rumah saja. Yang urus anak, yang kasih makan, ya saya. Kadang kalau anak tidak mau makan, saya sendiri yang pusing,” ujarnya.

Baca juga: Riset: Mayoritas Penerima Tak Rasakan Manfaat Makan Bergizi Gratis
Ketika ibu dipuji, lalu disalahkan
Kisah Helena dan Ulwiah terjadi di tempat yang berbeda, tetapi menunjukkan pola yang sama: ketika anak mengalami gangguan pertumbuhan, ibu menjadi pihak pertama yang disalahkan. Saat anak tumbuh sehat, ibu dipuji. Namun, ketika anak mengalami stunting atau gizi buruk, ibu dianggap lalai, tidak telaten, atau tidak mampu mengasuh dengan baik.
Helena tidak hanya menghadapi kekerasan dan minimnya dukungan suami, tetapi juga penilaian dari lingkungan. Tetangga menganggapnya bodoh dan tidak becus karena anaknya kekurangan gizi.
“Beta tahu mana orang yang tulus, mana yang cuma mau hina beta. Satu kampung dong anggap beta bodoh, padahal beta paham samua dong pung gerak-gerik,” ujarnya.
Ia juga mengaku sudah berkali-kali membawa Selena ke puskesmas. Namun, menurut Helena, anaknya hanya ditimbang lalu diminta pulang meski berat badannya terus menurun.
“Beta rutin bawa Selena ka puskesmas tiap bulan, tapi di sana cuma timbang saja, terus dorang suruh pulang. Sakit hati e,” katanya.
Fina, apoteker di Panti Rawat Gizi di Maluku Tenggara, mengatakan kondisi psikologis ibu setelah melahirkan juga belum banyak dipahami masyarakat.

“Orang-orang di kampung sini enggak tahu baby blues. Habis itu orang di sini sifatnya yang penting buat anak aja, enggak ada yang khusus,” ujarnya.
Akibatnya, perhatian hanya tertuju kepada anak, sementara kondisi ibu diabaikan. Padahal, kesehatan fisik dan mental ibu ikut memengaruhi kemampuan mereka merawat anak.
Aca, bidan di Panti Rawat Gizi, menceritakan seorang pasien yang dipanggil M. Anak itu mengalami kejang sejak usia tiga bulan dan ketika berusia lebih dari dua tahun, ia belum mampu mengangkat kepala atau membalikkan tubuh.
Setelah ayah M meninggal, seluruh pengasuhan jatuh kepada ibunya yang masih muda dan tidak memiliki penghasilan. Panti Rawat Gizi kemudian merawat M serta mencari obat yang tidak tersedia di Maluku Tenggara. Setelah dirawat dan mendapat makanan secara rutin, berat badannya perlahan naik dari enam kilogram menjadi hampir tujuh kilogram.
Kasus M memperlihatkan bahwa pemulihan anak tidak cukup hanya dengan menyuruh ibu lebih rajin memberi makan. Dibutuhkan obat, layanan kesehatan, biaya, waktu, dan dukungan keluarga.
Baca juga: Kader Posyandu Ujung Tombak Kesehatan Desa Tanpa Suara
Stunting bukan hanya soal makanan
Menurut Survei Status Gizi Indonesia 2024, prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8 persen. Namun, angka itu belum menggambarkan kondisi yang sama di semua kelompok masyarakat.
Pada kelompok ekonomi kuintil terbawah, prevalensinya masih mencapai 29,8 persen. Hal ini menunjukkan bahwa stunting tidak semata-mata berkaitan dengan pilihan makanan atau pengetahuan orang tua. Kemiskinan, akses terhadap layanan kesehatan, sanitasi, kondisi tempat tinggal, kekerasan dalam rumah tangga, dan pembagian kerja di rumah juga berpengaruh.
Pemerintah menjalankan program percepatan penurunan stunting melalui intervensi sensitif dan spesifik. Intervensi sensitif mencakup akses air minum, sanitasi, keluarga berencana, pendampingan keluarga berisiko, dan lingkungan yang sehat. Sementara itu, intervensi spesifik meliputi pemberian makanan tambahan bagi ibu hamil dengan KEK, tablet tambah darah, ASI eksklusif, makanan pendamping ASI, serta penanganan balita dengan gizi buruk.
Dalam praktiknya, penanganan stunting masih sering berpusat pada ibu. Mereka diminta memastikan anak makan, datang ke posyandu, memberikan ASI, menyiapkan MPASI, dan memantau pertumbuhan. Ketika hasilnya tidak sesuai target, pola asuh ibu lebih dahulu dipersoalkan. Padahal, banyak keadaan yang tidak dapat mereka kendalikan.

Ahli gizi Olivia Gresya mengatakan pencegahan stunting perlu dilakukan sejak 1.000 Hari Pertama Kehidupan, yaitu sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode ini, ibu memerlukan asupan gizi seimbang. Setelah lahir, bayi membutuhkan ASI eksklusif selama enam bulan, dilanjutkan dengan MPASI bergizi, terutama yang mengandung protein hewani.
Namun, ahli gizi Silviana Putri menegaskan bahwa tanggung jawab tersebut tidak dapat dibebankan hanya kepada ibu.
“Selain kesiapan ibu, perlu diperhatikan juga kesiapan ayah,” ujarnya.
Dukungan suami menentukan apakah ibu mendapatkan makanan yang cukup, kesempatan untuk beristirahat, dan kondisi psikologis yang aman selama kehamilan serta setelah melahirkan. Paparan asap rokok dari anggota keluarga juga dapat memengaruhi kesehatan ibu dan anak.
Ketika seluruh pekerjaan rumah dan pengasuhan dilimpahkan kepada perempuan, ibu rentan mengalami kelelahan fisik dan mental. Dalam keluarga dengan penghasilan terbatas, mereka juga harus memilih kebutuhan mana yang lebih dahulu dipenuhi.
Baca juga: Dari Kantin hingga Katering: Bagaimana MBG Gerus Pendapatan Perempuan
Memberdayakan ibu, bukan menghakimi
Frida, General Manager Panti Rawat Gizi yang didirikan DoctorSHARE di Kei Besar, mengatakan intervensi yang hanya menyasar ibu tidak akan cukup untuk memutus rantai stunting.
“Menurut saya, ketika kita bicara tentang kesehatan, maka bicara tentang edukasi itu harus jalan sama-sama,” ujarnya.
DoctorSHARE memberikan edukasi tentang kesehatan, gizi, dan kesiapan remaja sebelum menikah. Mereka juga melibatkan kader komunitas, menyediakan layanan bagi ibu hamil dan menyusui, serta merawat anak-anak dengan gizi buruk.
Pendampingan juga mencakup pengelolaan kebun dan pemberian bibit agar keluarga dapat menyediakan sebagian kebutuhan pangan sendiri.
“Berdasarkan pengalaman sebelumnya, melalui konsep ketahanan pangan ini, warga bisa menjual hasil panennya dan menggunakan uang tersebut untuk membeli bibit lagi,” kata Frida.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa penanganan stunting tidak bisa hanya berfokus pada makanan di piring anak. Kondisi ekonomi, ketersediaan pangan, keamanan perempuan, kesehatan mental, layanan kesehatan, dan dukungan keluarga perlu ditangani bersama.
Helena dan Ulwiah bukan ibu yang tidak berusaha. Helena rutin membawa Selena ke fasilitas kesehatan meski menghadapi kekerasan, kemiskinan, dan penghakiman. Ulwiah terus berusaha memberi makan Ayesha dengan uang belanja yang terbatas.
“Pengennya sehat. Memenuhi standar lah. Untuk berat badannya bisa naik terus, tinggi badannya juga. Tambah sehat, pinter,” ujar Ulwiah.
Sementara itu, kata Helena: “Cukup Selena deng beta saja yang rasa susah itu, ke depan harus lebe bagus.”





















