Film ‘Para Perasuk’ Angkat Konflik Masyarakat Adat
Sutradara Wregas Bhanuteja akan merilis film panjang ketiganya, Para Perasuk, pada 23 April mendatang. Film ini mengisahkan Bayu (Angga Yunanda), seorang dewasa muda yang berambisi menjadi “perasuk”, perantara roh binatang, dalam tradisi pesta kerasukan di desa.
Saat konferensi pers pada Selasa, (14/4), Wregas mengatakan, cerita perasuk terinspirasi dari adiknya yang memiliki pengalaman paranormal.
Baca Juga: ‘Budi Pekerti’: Refleksi Soal Penghakiman di Media Sosial dan Satu Hal yang Luput Disorot Wregas
“Waktu kecil, adik saya bilang, ada kucing raksasa berekor tiga di atap rumah. Terus dia mengoleksi roh binatang, kayak kura-kura raksasa, kelelawar putih. Sampai di kamarnya banyak sekali roh binatang yang dijadikan teman,” tutur Wregas.
Dalam film ini, pesta kerasukan—disebut pesta sambetan—merupakan adat yang sakral dan membawa hiburan bagi masyarakat desa. Namun, dalam semesta yang diciptakan Wregas, ia juga menggarisbawahi pesta sambetan sebagai bentuk perlawanan masyarakat. Yakni terhadap perusahaan yang ingin menguasai mata air di desa.
Saat ditanya tentang hak ulayat yang menjadi salah satu konflik, Wregas menjelaskan, realitanya masalah tersebut banyak terjadi di Indonesia sampai saat ini. Misalnya perusahaan tambang dan agribisnis, yang mengganggu kesejahteraan masyarakat adat.
Konflik itu yang menjadi acuan Wregas dalam menulis naskah, serta menggambarkan kehidupan masyarakat yang dekat dengan ritual dan mitos. Misalnya keberadaan penunggu hutan atau mata air, yang umumnya dikaitkan dengan roh halus.
“Kadang kita melihatnya mistis. Padahal itu salah satu usaha untuk menyelamatkan alam, Ibu Bumi. Makanya film ini mengangkat itu lewat roh binatang,” ujar Wregas.
Baca Juga: ‘Penyalin Cahaya’ Soroti Sulitnya Korban Kekerasan Seksual Cari Keadilan
Para Perasuk merupakan film panjang ketiga yang disutradarai Wregas dan diproduksi oleh Rekata Studio. Sebelumnya, film ini tayang perdana dan berkompetisi di Sundance Film Festival, Amerika Serikat, pada Januari lalu. Selama penayangan tersebut, Para Perasuk pun mendapat standing ovation dari penonton.
“Kami sempat khawatir, penonton internasional paham nggak tentang budaya kerasukan di Indonesia. Mereka justru relate dengan cerita soal obsesi diri dan memaafkan masa lalu,” tambah Wregas.
Selain Sundance Film Festival, ke depannya Para Perasuk akan tayang di beberapa festival internasional lainnya. Di antaranya Miami Film Festival di AS, Minneapolis-St. Paul International Film Festival di AS, Fantaspoa International Film Festival di Brazil, dan Mooov Film Festival di Belgia.





















