Ruangan 3×5 meter dengan pengedap suara dan sofa, serta televisi yang menunjukkan daftar lagu jadi pemandangan menyenangkan untuk saya di akhir Maret. Karaoke bersama pacar jadi aktivitas untuk menutup libur lebaran. Saya melihat dia memilih lagu So Easy (To Fall in Love) karya Olivia Dean tanpa bicara, hanya beberapa menit setelah kita masuk ruangan.
Suara trompet dan petikan gitar halus yang sudah saya dengar berulang-ulang masuk telinga, tetapi tetap segar. Ini memang lagu yang sering kami nikmati bersama. Tak ada vokal Olivia hingga akhir lagu. Instrumen itu setia menemani suara kami yang tidak terlalu setia mengikuti nada.
Meski terkadang sumbang, kami tetap tersenyum ketika mengucapkan setiap lirik sambil menatap satu sama lain. Setidaknya bagi saya, lagu cinta bisa mengingatkan saya pada beberapa adegan menyenangkan bersama pasangan dalam hidup ini. Mungkin apa yang saya dengar juga bisa terasa sama untukmu. Tapi, apa salahnya berbagi, kan?
Berikut adalah lagu cinta yang bisa menggambarkan momen romantis dengan pasangan, versi saya.
Baca juga: Mendengarkan Maskulinitas yang Manusiawi dari Band Perunggu
So Easy (To Fall in Love) – Olivia Dean
“I’m the perfect mix of Saturday night and the rest of your life / Anyone with a heart would agree / It’s so easy / To fall in love with me,” lantun saya dan pasangan di depan televisi karaoke yang membantu kami mengikuti setiap kata dalam lagu ‘So Easy (To Fall in Love)’.
Trompet, gitar, dan sedikit piano elektrik menjadi kombinasi sempurna, membentuk genre pop-jazz yang manis dan mudah diterima gendang telinga. Belum lagi liriknya yang tak kalah berbunga-bunga. Olivia Dean menceritakan bagaimana dirinya membuka jalan lebar untuk dicintai sang pasangan.

Tak sulit bagi orang yang memiliki hati untuk menyadari seberapa mudah mencintai penulis lagu ini. Cinta tentu saja bisa terasa rumit dan melelahkan. Namun, cinta yang berjalan sehat dapat dengan mudah dijalani.
Perasaan hangat yang menyenangkan timbul ketika mengetahui kemungkinan mendapatkan kemudahan dalam mencintai di tengah dunia yang penuh dengan kerumitan.
Langitruntuh – .Feast
Jika Olivia menekankan mudahnya jatuh cinta, .Feast menggambarkan cinta yang masih terasa indah di tengah keriuhan duniawi. Dimulai dengan petikan gitar listrik dan vokal berefek megaphone, lagu ini mengingatkan saya pada karya-karya Arctic Monkeys.
Sementara itu, lirik Langitruntuh mengajak pendengar melihat dunia yang sudah kacau balau. Berita-berita sosial politik yang bikin pusing, seperti demonstrasi yang tak berkesudahan, seakan memaksa dua sejoli ikut putus asa. Alih-alih putus asa, penulis lagu malah berpikir sang pasangan memberikan kesegaran di sumpeknya Indonesia.

“Aku tak bisa bernafas di ibu kota / Hingga kau hembusku kala kita berjumpa / Aku tak kuat panasnya khatulistiwa / Kau dinginkan dadaku tiap kita bersama.”
.Feast menyanyikan betapa keras kepala pasangan dalam lagi ini yang tetap memutuskan untuk menjalin hubungan di tengah luruhnya sebuah bangsa. Terdengar seperti, negara boleh saja hancur lebur, tetapi kita akan tetap bercinta di tengah puing-puingnya.
“Langit yang runtuh, bertukar peluh / Surga di antara neraka, tanpa intervensi negara / Kamu matikan lampu, kita hentikan waktu / Sementara tak berbusana di bawah langit yang runtuh / Di tengah bangsa yang luruh.”
Baca juga: #MadgeKaleidoskop 2025: 5 Momen Musik di 2025, dari Skena HipDut sampai Festival yang Diboikot
Mimpilah Seliar-liarnya – Banda Neira
Mungkin lagu ini tidak terdengar se-politis Langitruntuh. Namun, Banda Neira menyelipkan pengaruh kebijakan jam kerja yang berlebihan terhadap hubungan romantis. Lirik yang menuturkan cerita pasangan kelas pekerja yang dipenuhi rasa lelah saat bertemu sehingga hanya bisa berkomunikasi seadanya, terasa dalam keseharian.
Dibalut petikan gitar pop-folk yang halus dan jarang-jarang, serta alat musik string yang baru muncul setiap reff, lirik yang sebenarnya melelahkan ini terasa tenang. Begitu pula cara bernyanyi Ananda Badudu dan Saron Sakina yang lembut, seakan memberi pemahaman pada pasangan yang sudah dilahap kantuk hanya untuk secuil cerita.

“Biar esok kita lanjutkan / Cerita mu yang terputus semalam / Mungkin timpalanku terlalu berat / Atau matamu terlanjur lima watt.”
Tak berhenti pada pengertian, duo ini kemudian mengharapkan pasangan yang kepayahan menghadapi hidup agar bermimpi indah dan liar sebelum akhirnya menjalankan realita kembali.
“Mimpilah seliar-liarnya / Mimpi yang mengandung bahaya / Esok pagi kan kita jelang / Kenyataan kan kita taklukkan // Mimpilah seindah yang kau suka / Sampai tak ada batasannya Esok lagi kan kita jelang // Kenyataan kan kita tenangkan.”
Pizza Pepperoni – Rahmania Astrini
Untuk pasangan yang menjalin hubungan jarak jauh, ‘Pizza Pepperoni’ mewakili perasaan geli-geli senang ketika ingin bertemu. Dentuman bass mengawal petikan ukulele, kemudian disambut tamborin dan drum, serta piano yang meramaikan bagian akhir menciptakan alunan RnB yang ceria.
Di atas musik itu, Rahmania Astrini mengucapkan semua rencana yang akan dilakukan saat bertemu pasangan setelah hubungan jarak jauh yang minim tatap muka. “Then we’ll stroll around the city / With pizza pepperoni / Drink our favorite coffee / Get high off tiny memories and / Dance all night long / When we meet again.”

Rencana saya dan pasangan mungkin tak sama persis dengan yang dinyanyikan Rahmania. Kami tidak makan pizza dan mengelilingi kota setelah dipisahkan jarak untuk waktu yang lama. Namun, kami mengerti rasanya excited dengan rencana yang disusun lewat telepon atau teks.
Senyuman malu sekaligus tak sabar akan timbul saat pembicaraan itu mengudara lewat suara atau terbaca di gelembung pesan singkat. “I miss you/ I wanna hug you/ I wanna touch you/ I can’t keep on talking through these pixels baby.”
Baca juga: Sedia ‘Aku’ Sebelum Hujan: Membaca Idgitaf dari Banjir Bekasi
Kota Ini Tak Sama Tanpamu – Nadhif Basalamah
Masih untuk pasangan long distance relationship (LDR), pertemuan dua-tiga hari akan diakhiri dengan sedih karena harus kembali menanggung rindu. Perpisahan akan diisi dengan permintaan lebih banyak waktu tatap muka. Namun sayang, kewajiban di kota masing-masing membuat permintaan itu tak bisa terwujud.
Nadif menggambarkan siklus ini dengan lengkap. ‘Kota ini Tak Sama Tanpamu’ adalah lagu cinta yang terdengar pedih. Dibungkus dengan instrumen akustik yang santai, seperti genjreng gitar tanpa efek dan hentakan kick yang sederhana, Nadif menggambarkan kota tempat tinggal yang akan terasa berbeda.

“Genggam tanganku sayang / Kota ini tak sama tanpamu / Masih rasa ingin lagi habiskan waktu di sini / Mungkin tiga atau empat hari lagi.”
Karaoke dan waktu-waktu bersama yang kami habiskan seketika lenyap dengan memesan tiket travel atau kereta. Tawa dan senyum berubah jadi pelukan menyedihkan di stasiun atau terminal. Saya atau dia harus pulang ke kota tempat tinggal hanya untuk memikirkan lirik terakhir yang diucap Nadif. “Atau mungkin selamanya / Rumahku hanyalah kita / Kau dan aku sempurna di mana-mana.” Lirik yang cukup menenangkan meski kami akan kembali jadi pixel di video call, suara di telepon, atau alfabet di gelembung pesan singkat.
Ilustrasi oleh Karina Tungari





















