05/06/2026
Culture Gender & Sexuality Opini

Girl to Girl’, Media Perempuan Belum Tentu buat Perempuan

Ketika sebuah media mengaku dibuat untuk perempuan, siapa sebenarnya yang menentukan perempuan seperti apa yang layak ditampilkan di dalamnya?

  • June 5, 2026
  • 6 min read
  • 25 Views
Girl to Girl’, Media Perempuan Belum Tentu buat Perempuan

We’re living in a man’s world, begitulah adanya. Saya baru benar-benar memahami kalimat itu ketika dewasa. Waktu kecil, saya tidak pernah memikirkannya. Saya hanya tahu ada rak majalah di rumah yang terbagi secara diam-diam: BOBO untuk saya, Kartini dan Ayah Bunda untuk ibu.

Saat itu semuanya terasa biasa saja. Namun ketika tumbuh besar dan melihat kembali majalah-majalah yang dulu saya baca, saya mulai menyadari bahkan hiburan yang tampaknya sederhana seperti majalah pun tidak pernah benar-benar netral.

Dalam esai Visual Pleasure and Narrative Cinema yang diterbitkan pada 1975, kritikus film feminis Laura Mulvey memperkenalkan konsep male gaze, yakni cara pandang yang menempatkan laki-laki sebagai subjek yang melihat dan perempuan sebagai objek yang dilihat. Apa yang terjadi di layar bioskop ternyata juga merembes ke lembaran majalah yang selama bertahun-tahun menemani kehidupan sehari-hari kita.

Dewasa ini, majalah mungkin sudah kehilangan pamornya. Namun pada era 1970-an hingga awal 2000-an, majalah memiliki posisi yang nyaris seperti kitab petunjuk hidup. Dari musik, otomotif, hingga budaya populer, hampir semuanya hadir dengan segmentasi yang sangat jelas. Dan seperti banyak produk budaya lain, pembagian itu juga dibentuk oleh cara masyarakat memandang laki-laki dan perempuan.

Baca juga: Mengenang Gadis Sampul: Sebelum Ada Media Sosial, Mereka Berebut Tampil di Muka Majalah

Ketika Cowok Punya Hobi, Cewek Punya “Kodrat”

Saya masih ingat berdiri di depan rak majalah, memerhatikan sampul-sampul yang berjajar. Semakin saya mengingatnya, semakin terlihat jelas perbedaannya. Majalah laki-laki hampir selalu dikelompokkan berdasarkan minat: musik, sepak bola, otomotif, teknologi, atau politik.

Di dalamnya, laki-laki diposisikan sebagai individu dengan rasa ingin tahu yang luas. Mereka diasumsikan memiliki hobi, opini, dan ketertarikan yang spesifik. Mereka didefinisikan oleh apa yang mereka lakukan.

Sebaliknya, majalah perempuan jarang dikelompokkan berdasarkan minat. Ia lebih sering dibedakan berdasarkan usia atau fase kehidupan. Apa pun ketertarikan pembacanya, perempuan seolah akan selalu diarahkan pada resep masakan, tips kecantikan, hubungan romantis, hingga cara menjadi istri dan menantu yang baik.

Semakin saya memikirkannya, semakin terasa janggal. Laki-laki diberi ruang untuk menjadi individu dengan minat yang beragam. Perempuan justru lebih sering diarahkan pada peran-peran yang harus dijalankan.

Laki-laki didefinisikan melalui hobinya. Perempuan didefinisikan melalui relasinya dengan orang lain.

Pola serupa juga terlihat di majalah laki-laki. Perempuan memang hadir, tetapi sering kali hanya sebagai pelengkap visual. Mereka menjadi model sampul, poster halaman tengah, atau penghias rubrik hiburan. Kehadiran mereka lebih sering untuk dilihat daripada didengar.

Pengamat musik Denny Sakrie juga pernah menulis mengenai kuatnya kultur maskulin dalam sejarah jurnalisme musik Indonesia. Menurutnya, banyak media musik lahir dari budaya tongkrongan laki-laki sehingga selera musik perempuan kerap dianggap kurang serius dibanding selera musik laki-laki yang diasosiasikan dengan rock atau genre yang dianggap lebih “berbobot”.

Akibatnya, perempuan terjebak dalam posisi yang serba tanggung. Di media laki-laki mereka menjadi objek visual. Di media perempuan mereka menjadi objek pembinaan. Keduanya sama-sama berangkat dari asumsi bahwa perempuan perlu diarahkan menjadi versi ideal tertentu.

Pertanyaan yang kemudian mengganggu saya sederhana: jika majalah-majalah itu mengaku berbicara untuk perempuan, siapa sebenarnya yang menentukan suara perempuan di dalamnya?

Pertanyaan itu menjadi semakin menarik ketika melihat struktur media pada masa tersebut. Banyak posisi strategis di ruang redaksi maupun kepemilikan media masih didominasi laki-laki. Artinya, perempuan kerap membaca representasi perempuan yang dibentuk melalui kacamata patriarki, meskipun dibungkus dalam kemasan yang tampak feminin.

Kalau majalah laki-laki dipenuhi artikel tentang politik, ekonomi, musik, pekerjaan, dan gaya hidup, banyak majalah perempuan justru sibuk membahas cara menjadi perempuan yang lebih menarik, lebih sabar, lebih cantik, dan lebih disukai. Dari sinilah muncul pertanyaan yang terus mengganggu saya: apakah majalah perempuan benar-benar ditulis untuk perempuan?

Baca juga: Han Kang, Sastrawan Perempuan Asia Pertama Pemenang Nobel Sastra

Kartini yang Dijual, Kartini yang Dilupakan

Waktu kecil, saya sering diam-diam mengambil majalah Kartini milik ibu setelah bosan membaca BOBO. Karena sejak taman kanak-kanak saya mengenal Kartini sebagai tokoh yang memperjuangkan hak perempuan, saya membayangkan isi majalah itu akan dipenuhi cerita tentang perempuan-perempuan yang mendobrak batas.

Ternyata saya terlalu naif.

Sebagai anak-anak, saya menikmati foto makanan yang menggoda, gambar pakaian yang cantik, dan ramalan bintang yang menghibur. Namun ketika membacanya kembali di usia dua puluhan, saya merasa seperti sedang membaca majalah yang berbeda.

Nama Kartini masih ada di sampulnya, tetapi semangat Kartini yang saya pelajari di sekolah terasa sulit ditemukan.

Kritikus budaya dan feminis Indonesia Myra Diarsi pernah menggunakan istilah “citra pinggan” untuk mengkritik cara media perempuan meromantisasi urusan domestik. Semakin banyak edisi lama yang saya baca ulang, semakin terlihat pola yang berulang. Perempuan boleh sukses, tetapi tetap harus mengurus rumah. Perempuan boleh berkarier, tetapi jangan melupakan dapur.

Ironisnya, sosok Kartini yang namanya dipinjam justru dikenal karena keberaniannya mempertanyakan batas-batas yang dipaksakan kepada perempuan. Dalam kumpulan suratnya yang kemudian diterbitkan menjadi buku Habis Gelap Terbitlah Terang oleh J.H. Abendanon pada 1911, Kartini berulang kali mempertanyakan pendidikan, perkawinan, dan pembatasan ruang gerak perempuan Jawa pada masanya.

Namun dalam banyak majalah perempuan, kemampuan melakukan banyak hal sekaligus lebih sering dirayakan sebagai kewajiban daripada dikritisi sebagai beban ganda.

Dari situ saya mulai memahami mengapa banyak peneliti mengaitkan media perempuan era Orde Baru dengan proyek ibuisme negara. Konsep ini banyak dibahas oleh sosiolog Julia Suryakusuma dalam tesisnya State Ibuism: The Social Construction of Womanhood in the Indonesian New Order (1991), yang menjelaskan bagaimana perempuan ditempatkan terutama sebagai istri dan ibu demi mendukung agenda negara.

Kontradiksi itu terlihat jelas. Di satu halaman, media memuji perempuan sebagai sosok yang hebat dan tangguh. Di halaman berikutnya, perempuan kembali diberi tanggung jawab untuk meluluhkan mertua, memasak hidangan keluarga, mendidik anak, dan menjaga keharmonisan rumah tangga.

Sementara itu, saya jarang menemukan majalah pria yang sibuk mengajarkan laki-laki cara mengurus anak, membersihkan rumah, atau mengelola pekerjaan domestik. Beban-beban tersebut seolah tidak pernah menjadi bagian dari identitas laki-laki.

Bahkan ketika perempuan bertindak sebagai konsumen majalah, pada akhirnya mereka tetap diarahkan untuk melayani konsumen lain. Laki-laki mungkin tidak membeli majalah tersebut, tetapi mereka sering menjadi pihak yang menikmati hasil dari pesan-pesan yang terus ditanamkan di dalamnya.

Celah paling problematis muncul dalam rubrik curahan hati yang sangat populer pada masanya. Kisah-kisah penderitaan perempuan dikemas menjadi hiburan emosional yang membuat pembaca terus kembali mengikuti edisi berikutnya.

Baca juga: Menelusuri Geliat Kritik Sastra Anak Indonesia: Minim dan Diabaikan?

Namun setelah kisah berakhir, pembaca sering kali tidak dibekali informasi yang benar-benar berguna. Tidak ada edukasi mengenai hak hukum, layanan pendampingan, atau jalur bantuan yang bisa diakses. Yang tersisa hanyalah nasihat normatif yang sering kali gagal menyentuh akar persoalan.

Pada akhirnya, emosi perempuan menjadi komoditas yang dijual. Kesedihan, penderitaan, dan konflik rumah tangga diproduksi ulang sebagai konsumsi rutin. Pembaca diajak menangis dan berempati, tetapi tidak selalu diajak memahami struktur sosial yang melahirkan persoalan tersebut.

Perempuan memang terlalu menguntungkan untuk dilewatkan oleh kapitalisme media. Bahkan nama pahlawan emansipasi dapat diubah menjadi merek yang menjual citra perempuan ideal.

Sampai hari ini saya masih belum menemukan jawaban yang memuaskan. Mungkin karena persoalannya memang tidak sesederhana itu. Tidak semua media perempuan buruk, sebagaimana tidak semua media laki-laki otomatis progresif.

Namun pengalaman membaca ulang majalah-majalah lama membuat saya mempertanyakan banyak hal yang dulu terlihat normal. Ketika sebuah ruang mengaku dibuat untuk perempuan, siapa sebenarnya yang menentukan isi ruang tersebut? Perempuan itu sendiri, atau sistem yang sejak awal sudah menentukan perempuan seperti apa yang layak ditampilkan?

Barangkali pertanyaan itulah yang lebih penting daripada majalahnya.

About Author

Ruth Maria Artauli Purba