Foto: Spotify
Beberapa bulan sebelum album kedua Idgitaf, Berusaha di Bawah Hujan (BDBH), dirilis, proyek ini sudah ramai diperbincangkan di media sosial. Berbagai rangkaian promosi bertema hujan membuat rasa penasaran saya terus bertambah. Ketika tanggal rilis akhirnya diumumkan akhir Mei lalu, saya langsung menekan tombol reminder dan pre-save di berbagai layanan musik digital.
Setelah menunggu lebih dari dua tahun sejak album pertamanya, Mengudara (2022), ekspektasi saya terhadap karya terbaru Gita cukup tinggi. Jika Mengudara berisi sembilan lagu dengan nuansa reflektif yang kuat, Berusaha di Bawah Hujan hadir dengan 12 lagu dan warna yang terasa berbeda. Kali ini, Gita secara terbuka berbicara tentang cinta dengan balutan musik country pop yang hangat dan ringan.
Beberapa tahun lalu, Gita pernah mengatakan membahas cinta terasa klise karena masih banyak tema lain yang layak dibicarakan. Namun dalam album ini, ia justru menjadikan cinta sebagai benang merah utama. Menariknya, cinta yang dihadirkan tidak berhenti pada relasi romantis, melainkan menjangkau hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dengan orang lain, dan dengan kehidupan yang sedang dijalani.
Bagi saya, salah satu kekuatan terbesar album ini terletak pada keberaniannya membicarakan kerentanan. Dalam masyarakat yang sering memuja produktivitas, ketangguhan, dan kesuksesan, ruang untuk mengakui luka atau kebingungan sering kali terasa sempit. Album ini justru mengajak pendengarnya duduk bersama emosi yang tidak nyaman tanpa tergesa-gesa mencari jalan keluar.
Jika dibandingkan dengan karya-karya sebelumnya, termasuk EP Semoga Sembuh, album ini juga banyak menggunakan metafora hujan. Hujan tidak hanya hadir sebagai fenomena cuaca, tetapi sebagai simbol dinamika kehidupan yang penuh ketidakpastian. Ia menjadi representasi berbagai cobaan hidup yang datang silih berganti tanpa bisa kita kendalikan.
Saya menangkap hujan sebagai metafora fase-fase hidup yang melelahkan. Hujan dapat melemahkan, mengaburkan pandangan, dan membuat langkah terasa lebih berat dari biasanya. Namun seperti hujan yang pada akhirnya reda, berbagai fase sulit dalam hidup juga akan berlalu meski harus dijalani dengan tertatih-tatih.
Di titik inilah album Berusaha di Bawah Hujan terasa menarik. Gita tidak menawarkan optimisme kosong atau solusi instan. Ia justru mengajak pendengar menerima kenyataan bahwa hidup akan selalu menghadirkan hujan, dan satu-satunya pilihan adalah terus berjalan sambil belajar memahami diri sendiri.
Baca juga: Sedia ‘Aku’ Sebelum Hujan: Membaca Idgitaf dari Banjir Bekasi
Menerima Diri dan Bertumbuh Menjadi Dewasa
Album dibuka dengan “Senyum dari Matahari”, lagu yang langsung mencuri perhatian saya lewat permainan gitar dan shaker yang hangat. Temponya cukup cepat, tetapi tetap terasa nyaman didengar. Di balik nuansa cerah tersebut, tersimpan refleksi tentang proses menerima diri dalam sebuah hubungan.
Bagi saya, lagu ini tidak hanya berbicara tentang mencintai orang lain. Ia juga berbicara tentang keberanian mengakui kesalahan, memahami keterbatasan diri, dan menerima kenyataan bahwa tidak semua hal dapat berjalan sesuai harapan. Proses pendewasaan sering kali dimulai dari kemampuan melihat diri sendiri dengan jujur.
Bagian pre-chorus dan outro menjadi salah satu bagian favorit saya.
“Maaf ku lama di neraka
Jadi asing di surga.”
Bagi saya, surga dan neraka dalam lagu ini terasa seperti metafora tentang fase hidup. Ada masa ketika seseorang terlalu lama terjebak dalam luka, rasa bersalah, atau pengalaman buruk hingga lupa bagaimana rasanya hidup dengan tenang. Ketika kebahagiaan akhirnya datang, ia justru terasa asing.
Perjalanan menuju penerimaan diri memang tidak selalu nyaman. Kita sering lebih akrab dengan rasa takut dibanding rasa aman. Karena itu, proses berdamai dengan diri sendiri sering kali membutuhkan keberanian yang tidak kalah besar dibanding memulai hubungan baru.
Pesan serupa terasa pada bagian berikut:
“Aku tak lagi sibuk berfantasi
Soal cinta yang kuingin-ingini
Dan ku tak melihat buruknya lagi
Dari panasnya terik matahari.”
Bagi saya, lagu ini bukan sekadar tentang jatuh cinta kepada orang lain. Lagu ini juga berbicara tentang berhenti mengejar kehidupan yang sempurna dan mulai menerima apa yang sudah ada di depan mata. Ada kedewasaan emosional yang lahir ketika seseorang berhenti memaksakan ekspektasi terhadap dirinya sendiri.
Setelah “Senyum dari Matahari”, suasana berubah melalui “Rutinitas”. Lagu ini terasa jauh lebih melankolis, terlebih dengan kehadiran Sheila Dara dalam video musiknya. Kehilangan menjadi tema utama yang mengikat keseluruhan lagu.
“Rutinitas” berbicara tentang perubahan yang datang setelah seseorang pergi dari hidup kita. Kehilangan tersebut bisa berupa pasangan, keluarga, sahabat, atau siapa pun yang pernah menjadi bagian penting dalam keseharian. Ketika mereka tidak lagi ada, rutinitas yang selama ini terasa biasa mendadak menjadi asing.
Lagu ini terasa sangat personal bagi saya karena mengingatkan pada masa setelah papa berpulang. Ada periode ketika hidup terasa berjalan tidak normal dan saya kehilangan pegangan. Saya tahu keadaan tidak mungkin kembali seperti semula, tetapi saya juga belum tahu bagaimana harus melangkah ke depan.
Baca juga: Dari Olivia Dean sampai Nadhif Basalamah: Rekomendasi Lagu Buat Pejuang LDR dan Para Bucin
“Di dalam hati kecilku
Sebaiknya begitu
Kita masing-masing dulu
Jalani hari dengan sendi mengilu.”
Lirik tersebut membawa saya kembali pada fase ketika marah, sedih, bingung, dan kehilangan arah hadir secara bersamaan. Dalam banyak budaya, kesedihan sering didorong untuk segera selesai dan ditinggalkan. Padahal, kehilangan membutuhkan ruang dan waktu yang tidak bisa diseragamkan.
Perjalanan tersebut terasa berlanjut dalam “Masih Ada Cahaya”, kolaborasi Idgitaf dan Baskara Putra yang menurut saya menjadi salah satu titik terkuat dalam album ini. Lagu tersebut terinspirasi dari Yohanes 1:5 dan Mazmur 139:11-12 yang sama-sama berbicara tentang terang di tengah gelap. Meski tidak dikemas sebagai lagu religi, nuansa spiritualnya terasa cukup kuat.
“Tapi terang tak berguna tanpa gelap
Dan gelap juga tempat-Nya bekerja
Demikianlah sabda-Nya.”
Lirik tersebut mengingatkan saya pada kenyataan sederhana bahwa hidup tidak selalu bergerak ke atas. Ada fase ketika seseorang harus berhadapan dengan kegagalan, kehilangan, atau kesepian sebelum menemukan makna baru dalam hidupnya. Justru dari pengalaman-pengalaman itulah kedewasaan sering kali lahir.
“Di balik mendung hatimu
Kulihat sesuatu di situ
Masih ada cahaya.”
Bagi saya, lagu ini tidak sedang mengajak pendengar untuk selalu positif. Sebaliknya, ia mengingatkan bahwa harapan bisa tetap ada meski seseorang belum sepenuhnya pulih. Cahaya tidak menghapus gelap, tetapi membantu kita bertahan melewatinya.
Baca juga: ‘Tumbuh dan Menjadi’: Yang Dirayakan Bukan Cuma ‘Comeback’ Banda Neira tapi juga Kemanusiaan Kita
Cinta yang Tidak Selalu Romantis
Salah satu hal yang saya sukai dari album ini adalah cara Gita memperluas definisi cinta. Cinta tidak selalu berbicara tentang pasangan atau hubungan romantis. Ia juga dapat hadir dalam bentuk persahabatan, solidaritas, keluarga, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Jika “Masih Ada Cahaya” saya maknai sebagai bentuk cinta vertikal antara manusia dan Sang Pencipta, maka “Kita Saling Jaga” berbicara tentang cinta dalam bentuk solidaritas sosial. Lagu ini terasa relevan dengan situasi hari ini ketika banyak orang hidup dalam kecemasan yang semakin kompleks. Ada rasa lelah kolektif yang diam-diam sedang dirasakan banyak orang.
Dunia terasa semakin penuh ketidakpastian. Perang, krisis ekonomi, kenaikan harga kebutuhan pokok, gelombang pemutusan hubungan kerja, hingga berbagai tragedi yang muncul hampir setiap hari perlahan menggerus kesehatan mental masyarakat. Dalam situasi seperti itu, kemampuan untuk saling menjaga menjadi semakin penting.
“Bisakah kita saling jaga
Di ekonomi yang semakin pelik?
Di cuaca yang tak selalu baik?
Bisakah kita saling jaga
Di bayang-bayang masa lalu
Dan gempuran masalah baru?”
Pertanyaan-pertanyaan dalam lagu ini terasa relevan karena tidak menawarkan solusi besar. Ia hanya mengingatkan bahwa manusia tidak harus menghadapi semuanya sendirian. Di tengah budaya yang sering menuntut individu untuk selalu mandiri, lagu ini justru merayakan ketergantungan yang sehat antarmanusia.
Album Berusaha di Bawah Hujan kemudian ditutup dengan “Tenang Saja (Ini Hanya Fase)” dan lagu utama “Berusaha di Bawah Hujan”. Keduanya terasa seperti doa kolektif bagi siapa pun yang sedang berusaha bertahan menghadapi hidup. Ada optimisme yang lahir bukan dari kepastian, melainkan dari keyakinan bahwa badai tidak berlangsung selamanya.
Dengan tempo yang lebih optimistis, dua lagu penutup tersebut mengajak pendengar menata ulang arah hidup tanpa terus-menerus menyalahkan diri sendiri. Ada pengakuan bahwa hidup memang tidak selalu berjalan sesuai rencana. Namun, ketidaksempurnaan bukan alasan untuk berhenti melangkah.
“Kelak nanti akan berpihak padamu lagi
Hari baik kan menghampirimu kembali
Tinggal kau
Pandai-pandailah.”
Pada akhirnya, Berusaha di Bawah Hujan bukan hanya album tentang cinta. Ia adalah album tentang bertumbuh, menerima kehilangan, memaafkan diri sendiri, dan belajar hidup berdampingan dengan luka yang tidak selalu bisa disembuhkan sepenuhnya.
Bagi saya, inilah yang membuat album ini terasa dekat. Di tengah dunia yang terus menuntut kita kuat, cepat pulih, dan selalu baik-baik saja, Idgitaf justru mengingatkan bahwa menjadi manusia berarti memberi ruang bagi rasa takut, sedih, bingung, dan rapuh. Dan barangkali, kedewasaan memang dimulai dari keberanian untuk menerima semua itu.





















