Fans Jepang Bersihkan Stadion, Pembagian Kerja Domestik Disorot
Kalau kamu aktif di media sosial selama Piala Dunia 2026, mungkin kamu pernah melihat video atau foto suporter Jepang yang masih bertahan di stadion setelah pertandingan selesai.
Bukannya langsung pulang atau merayakan kemenangan, mereka justru terlihat sibuk memungut sampah yang berserakan di tribun, mulai dari botol plastik, bungkus makanan, sampai potongan kertas kecil. Pemandangan seperti ini sebenarnya bukan hal baru, tapi tetap saja sering viral dan mendapat banyak pujian dari berbagai negara.
Dikutip dari Reuters, After Samurai Blue sweep aside Tunisia, Japan fans clean up Monterrey stadium, suporter Jepang kembali melakukan aksi bersih-bersih setelah pertandingan melawan Tunisia, bahkan setelah tim mereka menang besar.
Kebiasaan ini dikenal dengan istilah gomi hiroi, yaitu budaya memungut sampah yang sudah diajarkan sejak kecil dalam kehidupan masyarakat Jepang. Bagi mereka, tindakan ini bukan sesuatu yang istimewa atau perlu dianggap luar biasa, melainkan bagian dari kebiasaan sehari-hari.
Meski sering mendapat apresiasi dari publik internasional, aksi ini juga enggak lepas dari kritik. Menariknya, kritik tersebut justru datang dari sebagian masyarakat Jepang sendiri.
Mereka mempertanyakan apakah aksi bersih-bersih di stadion luar negeri benar-benar dilakukan secara tulus atau sudah bergeser menjadi bentuk pencitraan di mata dunia.
Baca Juga: Menjual Perempuan dalam Berita Olahraga
Budaya Gomi Hiroi dalam Masyarakat Jepang
Untuk memahami kenapa kebiasaan ini terus dilakukan, penting melihat nilai yang melatarbelakanginya. Jepang dikenal sebagai negara dengan budaya menjaga kebersihan yang kuat. Nilai ini sudah ditanamkan dari usia dini. Anak-anak di Jepang terbiasa membersihkan ruang kelas mereka sendiri tanpa bantuan petugas kebersihan.
Kebiasaan tersebut enggak hanya soal menjaga lingkungan tetap bersih, tetapi juga menumbuhkan rasa tanggung jawab terhadap ruang bersama.
Dalam budaya Jepang, fasilitas publik dianggap sebagai milik bersama, sehingga setiap orang punya peran untuk merawatnya. Karena itu, membuang sampah sembarangan sering dianggap sebagai tindakan yang tidak menghargai orang lain.
Nilai yang sama juga terlihat ketika suporter Jepang menghadiri pertandingan di luar negeri. Bagi mereka, membersihkan stadion adalah bentuk penghormatan sebagai tamu di negara lain sekaligus cara menunjukkan tanggung jawab terhadap ruang publik yang mereka gunakan.
Mengapa Aksi Ini Dianggap Istimewa?
Kalau dipikir-pikir, membuang sampah pada tempatnya sebenarnya adalah hal yang sangat mendasar. Sayangnya, kebiasaan sederhana ini belum tentu dilakukan semua orang, apalagi di tempat yang dipenuhi puluhan ribu penonton seperti stadion sepak bola.
Setelah pertandingan selesai, suasana biasanya masih dipenuhi euforia atau rasa kecewa. Banyak orang memilih langsung pulang tanpa memedulikan sampah yang mereka tinggalkan.
Karena itu, ketika suporter Jepang justru tetap bertahan untuk membersihkan tribun, aksi tersebut terasa berbeda dari kebiasaan yang umum terjadi. Menurut Associated Press dalam artikel Why you may see Japanese soccer fans cleaning up the stadium after World Cup games, kebiasaan ini sudah menjadi bagian dari budaya Jepang sejak lama dan terus terlihat di berbagai ajang Piala Dunia.
Baca Juga: Jepang Belum Jadi Tempat Aman untuk Perempuan
Bukan Sekadar Bersih-Bersih
Di banyak negara, stadion setelah pertandingan sering dipenuhi botol minuman, kemasan makanan, hingga sampah kertas yang berserakan. Membersihkan semuanya menjadi tanggung jawab petugas kebersihan.
Suporter Jepang justru menunjukkan pendekatan berbeda. Mereka menganggap stadion sebagai ruang bersama yang juga menjadi tanggung jawab penggunanya. Masih dari Reuters, mencatat bahwa para suporter Jepang menganggap aksi tersebut sebagai bentuk rasa hormat kepada negara tuan rumah, bukan sesuatu yang luar biasa atau dilakukan demi mendapat pujian.
Menular Lewat Contoh
Yang menarik, aksi ini juga memengaruhi orang lain. Dalam psikologi sosial dikenal konsep social proof, yaitu kecenderungan seseorang mengikuti perilaku yang dianggap baik ketika melihat orang lain melakukannya.
Fenomena itu terlihat dalam beberapa turnamen internasional ketika suporter dari negara lain ikut memungut sampah setelah melihat kebiasaan fans Jepang. Dampaknya bukan hanya membuat stadion lebih bersih, tetapi juga perlahan membentuk norma baru bahwa menjadi penonton tidak harus identik dengan meninggalkan sampah.
Konsisten dari Satu Turnamen ke Turnamen Lain
Alasan lain mengapa aksi ini terus mendapat perhatian adalah karena dilakukan secara konsisten. Tradisi tersebut sudah terlihat sejak Piala Dunia 1998 dan terus berlanjut di Rusia 2018, Qatar 2022, hingga Piala Dunia 2026.
Konsistensi inilah yang membuat banyak orang melihat gomi hiroi sebagai bagian dari budaya, bukan aksi spontan demi viral atau sorotan kamera. Reuters juga mencatat bahwa sebagian besar suporter Jepang menganggap kebiasaan itu sebagai sesuatu yang wajar karena sudah mereka pelajari sejak kecil.
Mengubah Cara Pandang tentang Suporter
Selama ini, kelompok suporter sepak bola sering dikaitkan dengan fanatisme, rivalitas, atau kerusuhan. Kehadiran suporter Jepang menawarkan gambaran yang berbeda.
Mereka tetap mendukung tim dengan antusias, tetapi juga menunjukkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Cara ini memperlihatkan bahwa menjadi pendukung tidak selalu identik dengan keributan. Justru lewat tindakan sederhana seperti membersihkan tribun, mereka menghadirkan contoh bahwa rasa hormat kepada ruang publik juga bisa menjadi bagian dari budaya mendukung tim.
Baca Juga: Perempuan Menembus Batas di Dunia Sepak Bola
Kritik yang Muncul di Balik Pujian
Aksi suporter Jepang membersihkan stadion memang menuai banyak pujian. Namun, di balik apresiasi tersebut, muncul pula kritik, terutama dari masyarakat Jepang sendiri. Pada Piala Dunia 2026, perdebatan soal kebiasaan ini kembali mencuat dan ramai dibahas di media maupun media sosial.
The Times of India lewat artikel ‘Pitch it more at home’: Japan’s World Cup clean-up faces criticism back home melaporkan bahwa sebagian warga Jepang mempertanyakan mengapa budaya bersih itu lebih sering mendapat sorotan saat dilakukan di luar negeri.
Mereka menilai nilai yang sama seharusnya juga lebih terlihat dalam kehidupan sehari-hari di Jepang, bukan hanya ketika menjadi perhatian publik internasional.
Perdebatan itu semakin ramai setelah beredar sebuah poster satir di media sosial. Poster tersebut memperlihatkan dua gambar yang kontras: seorang laki-laki Jepang sedang memungut sampah di stadion, sementara pada gambar lain sosok yang sama digambarkan beristirahat di rumah ketika pekerjaan domestik dikerjakan oleh istrinya.
Ilustrasi tersebut kemudian memicu diskusi yang lebih luas mengenai pembagian peran di dalam rumah tangga.
Baca Juga: Perempuan Dilarang Suka Sepak Bola dan Musik Keras
Ketika Isu Kebersihan Bersinggungan dengan Gender
Sentilan lewat poster satir ini membuka kotak pandora yang selama ini jarang dibahas di balik gemerlapnya kedisiplinan publik Jepang: urusan domestik rumah tangga. Di balik citra Jepang sebagai negara yang disiplin dan menjunjung tanggung jawab kolektif, pembagian kerja domestik nyata masih menjadi tantangan.
Data Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) melalui laporan Balancing Paid Work, Unpaid Work and Leisure menunjukkan bahwa perempuan di Jepang masih menghabiskan waktu jauh lebih banyak untuk pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan dibandingkan laki-laki.
Mulai dari memasak, membersihkan rumah, hingga mengurus anak, sebagian besar pekerjaan tersebut masih didominasi perempuan. Kondisi ini membuat muncul pertanyaan: mengapa tanggung jawab bersama terlihat kuat di ruang publik, tetapi belum tentu terjadi di dalam rumah.
Situasi tersebut juga berkaitan dengan budaya kerja Jepang yang dikenal dengan istilah salaryman culture. Menurut BBC Worklife, Why Japan’s work culture is so hard to change, jam kerja yang panjang membuat banyak laki-laki menghabiskan sebagian besar waktunya di tempat kerja.
Akibatnya, keterlibatan mereka dalam pekerjaan domestik sering kali menjadi terbatas, sementara perempuan masih memikul porsi yang lebih besar di rumah.
Meski begitu, kondisi ini perlahan mulai berubah. Pemerintah Jepang terus mendorong kebijakan cuti ayah (paternity leave) agar laki-laki memiliki kesempatan lebih besar terlibat dalam pengasuhan anak.
The Japan Times lewat artikel Japan sees record number of fathers taking paternity leave mencatat bahwa jumlah ayah yang mengambil cuti tersebut terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir, meski penerapannya belum merata di semua sektor.
Karena itu, kritik terhadap aksi suporter Jepang sebenarnya bukan ditujukan pada kebiasaan memungut sampah itu sendiri. Perdebatan yang muncul lebih banyak menyoroti konsistensi penerapan nilai tanggung jawab bersama, baik di ruang publik maupun di dalam rumah tangga.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.





















