07/07/2026
Lifestyle

Sejarah Sepak Bola Perempuan: Dari Larangan ke Piala Dunia Perempuan

Sepak bola perempuan pernah dilarang selama hampir lima dekade. Kini, olahraga ini berkembang pesat dan menjadi simbol perjuangan kesetaraan.

  • June 29, 2026
  • 7 min read
  • 448 Views
Sejarah Sepak Bola Perempuan: Dari Larangan ke Piala Dunia Perempuan

Di balik citranya yang kerap dianggap maskulin, sepak bola sebenarnya bukan olahraga yang hanya dimainkan laki-laki. Dalam berbagai periode sejarah, perempuan juga punya peran penting dalam perkembangan sepak bola, terutama di Inggris dan Skotlandia.

Mengutip dari Diajeng, Dulu Pernah Dilarang: Pasang-Surut Riwayat Sepak Bola Perempuan, salah satu jejak paling awal tentang keterlibatan perempuan dalam sepak bola ditemukan dalam catatan seorang pastor di Carstairs, Lanarkshire, Skotlandia.

Pada 1628, pastor tersebut menulis bahwa banyak warga laki-laki maupun perempuan memilih menghabiskan akhir pekan dengan bermain sepak bola ketimbang menghadiri ibadah di gereja. Catatan ini menunjukkan bahwa sepak bola sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat lintas gender sejak berabad-abad lalu.

Skotlandia sendiri dikenal sebagai salah satu pelopor perkembangan sepak bola. Pada abad ke-17 hingga ke-18, para nelayan perempuan di kawasan pesisir Fisherrow rutin memainkan sepak bola setiap Selasa menjelang Rabu Abu.

Kebiasaan itu bahkan diabadikan dalam sebuah lukisan yang kini dipajang di National Football Museum. Dalam karya tersebut, para perempuan digambarkan bermain sepak bola sambil mengenakan gaun, topi, dan sepatu hak tinggi—sesuatu yang menunjukkan bagaimana mereka tetap berpartisipasi dalam olahraga ini meski dibatasi norma sosial pada zamannya.

Perkembangan sepak bola perempuan semakin terlihat ketika British Ladies Football Club (BLFC) didirikan oleh Nettie Honeyball dan Alfred Hewitt Smith pada 1894. Pertandingan perdana klub tersebut disebut berhasil menarik sekitar 10.000 penonton, angka yang menunjukkan besarnya minat publik terhadap sepak bola perempuan saat itu.

Momentum penting lainnya datang pada masa Perang Dunia I (1914–1918). Ketika banyak laki-laki dikirim ke medan perang, perempuan mulai mengisi berbagai peran yang sebelumnya didominasi laki-laki, termasuk di dunia sepak bola.

Pada periode ini, pertandingan sepak bola perempuan semakin marak digelar. Jumlah tim perempuan bertambah di berbagai negara seperti Inggris, Prancis, dan Australia. Antusiasme publik pun terus meningkat, dengan jumlah penonton yang kerap mencapai ribuan orang di setiap pertandingan.

Baca Juga: Perempuan Dilarang Suka Sepak Bola dan Musik Keras

Masa Kelam Sepak Bola Perempuan

Jika ada satu periode yang bisa disebut sebagai titik terendah dalam sejarah sepak bola perempuan, maka 1921 adalah salah satunya. Saat itu, Football Association (FA) Inggris mengeluarkan kebijakan yang melarang klub-klub anggotanya meminjamkan lapangan untuk pertandingan sepak bola perempuan. Larangan tersebut datang ketika popularitas sepak bola perempuan justru sedang menanjak.

Menurut arsip The Football Association, The History of Women’s Football, keputusan itu diambil dengan alasan sepak bola dianggap “tidak cocok bagi perempuan” dan berpotensi membahayakan kesehatan mereka. Namun, banyak peneliti menilai alasan tersebut lebih mencerminkan pandangan sosial pada masa itu ketimbang fakta medis.

Ironisnya, sebelum larangan diberlakukan, sepak bola perempuan tengah menikmati masa keemasan. Salah satu tim paling populer saat itu, Dick, Kerr Ladies, mampu menarik lebih dari 53.000 penonton dalam pertandingan di Goodison Park pada 1920. 

Catatan tersebut dapat ditemukan dalam artikel The Incredible Story of Dick, Kerr Ladies FC yang diterbitkan National Football Museum. Angka itu bahkan melampaui jumlah penonton sejumlah pertandingan sepak bola laki-laki pada periode yang sama.

Bagi banyak perempuan, larangan tersebut bukan sekadar soal olahraga. Kebijakan itu menutup ruang yang sebelumnya berhasil mereka bangun sendiri di tengah masyarakat yang masih membatasi peran perempuan di ruang publik.

Mitos Kesehatan dan Ketakutan Kehilangan Dominasi

Alasan resmi FA saat itu terdengar familier: tubuh perempuan dianggap terlalu rapuh untuk olahraga kompetitif. Narasi semacam ini kerap digunakan untuk membatasi partisipasi perempuan dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan hingga dunia kerja.

Namun, sejumlah sejarawan melihat persoalan yang lebih kompleks. Dalam artikel HistoryExtra,Women’s Football Was Banned for 50 Years. Here’s Why, larangan tersebut diduga berkaitan dengan kekhawatiran terhadap semakin populernya sepak bola perempuan. Ketika pertandingan perempuan mulai menarik massa dan perhatian media, muncul kecemasan bahwa dominasi sepak bola laki-laki bisa terganggu.

Di saat yang sama, budaya patriarki masih sangat kuat. Perempuan diharapkan fokus pada urusan domestik dan tidak terlalu terlihat di ruang publik. Karena itu, olahraga yang identik dengan kompetisi, fisik, dan sorotan media dianggap tidak sesuai dengan standar feminitas yang berlaku saat itu.

Efek Domino ke Berbagai Negara

Dampak larangan FA tidak berhenti di Inggris. Kebijakan tersebut kemudian menjadi rujukan bagi sejumlah federasi sepak bola di negara lain untuk menerapkan pembatasan serupa terhadap sepak bola perempuan.

Akibatnya, pemain perempuan menghadapi hambatan berlapis. Selain harus berhadapan dengan stigma sosial, mereka juga kehilangan akses terhadap fasilitas, kompetisi resmi, dan dukungan institusional. Banyak tim akhirnya bubar, sementara sejumlah pemain terpaksa meninggalkan olahraga yang mereka cintai karena tidak lagi memiliki ruang untuk berkembang.

Kondisi ini membuat perkembangan sepak bola perempuan tertinggal selama beberapa dekade. Potensi yang seharusnya bisa tumbuh sejak awal abad ke-20 justru terhenti karena kebijakan yang diskriminatif.

Bertahan Meski Didorong ke Pinggir

Meski menghadapi berbagai pembatasan, sepak bola perempuan tidak benar-benar hilang. Banyak pemain dan komunitas tetap bermain di lapangan alternatif, termasuk lapangan rugby atau ruang terbuka yang tidak berada di bawah kendali federasi sepak bola.

Menurut laporan FIFA, The Long Road of Women’s Football, periode ini menunjukkan bagaimana perempuan terus mempertahankan keberadaan mereka di olahraga tersebut meski tanpa dukungan resmi. Mereka bermain bukan demi popularitas atau keuntungan finansial, melainkan karena kecintaan terhadap sepak bola itu sendiri.

Perlawanan yang mungkin terlihat kecil ini justru menjadi fondasi penting bagi kebangkitan sepak bola perempuan pada dekade-dekade berikutnya.

Dampak yang Terasa Hingga Kini

Larangan yang berlangsung selama hampir lima dekade meninggalkan dampak jangka panjang. Ketika FA akhirnya mencabut kebijakan tersebut pada 1971, sepak bola perempuan harus memulai kembali dari posisi yang jauh tertinggal.

Infrastruktur masih minim, kompetisi belum berkembang, dan stereotip terhadap atlet perempuan masih kuat. Dalam banyak hal, sepak bola perempuan dipaksa mengejar ketertinggalan yang seharusnya tidak pernah terjadi.

Meski demikian, sejarah juga menunjukkan hal penting: perempuan tidak pernah benar-benar berhenti bermain. Mereka terus bertahan, beradaptasi, dan memperjuangkan ruangnya sendiri. Karena itulah, pertumbuhan pesat sepak bola perempuan yang kita lihat hari ini bukan terjadi dalam semalam, melainkan hasil dari perjuangan panjang melawan diskriminasi yang berlangsung selama puluhan tahun.

Baca Juga: Sepak Bola Perempuan Semakin Diminati, Namun Disparitas Tetap Ada

Kebangkitan Sepak Bola Perempuan dan Pengaruh Gerakan Feminisme

Kebangkitan sepak bola perempuan erat kaitannya dengan gelombang feminisme pada 1960–1970-an yang menuntut kesetaraan di berbagai aspek kehidupan. Dalam konteks ini, olahraga ikut menjadi ruang perjuangan. 

Menurut FIFA, The Long Road of Women’s Football, banyak perempuan mulai mempertanyakan larangan bermain sepak bola dan membentuk tim secara mandiri, meski tanpa dukungan resmi. Dari sini, sepak bola perempuan mulai dipandang sebagai bagian dari hak sosial yang layak diperjuangkan.

Dicabutnya Larangan, Dimulainya Perjuangan Baru

Perubahan mulai terlihat ketika pada 1971, Football Association (FA) Inggris mencabut larangan sepak bola perempuan, seperti tercatat dalam artikel The History of Women’s Football di situs The Football Association

Namun, kondisi saat itu masih jauh dari ideal—minim kompetisi, fasilitas terbatas, dan hampir tanpa dukungan dana. Organisasi seperti Women’s Football Association (WFA) kemudian berperan penting membangun kembali struktur liga dan kompetisi dari nol.

Turnamen Internasional Buka Jalan Pengakuan

Masuk ke akhir 1970-an hingga 1980-an, turnamen internasional mulai bermunculan dan menjadi bukti eksistensi sepak bola perempuan. 

Puncaknya terjadi pada 1991 lewat Piala Dunia Perempuan pertama di China, yang menurut FIFA, History of the FIFA Women’s World Cup menjadi titik penting pengakuan global. Sejak itu, kualitas permainan meningkat dan peluang karier bagi pemain perempuan mulai terbuka.

Baca Juga: Menjual Perempuan dalam Berita Olahraga

Media dan Sponsor Mulai Memberi Perhatian

Perhatian media dan sponsor juga ikut mendorong perkembangan ini. Laporan UN Women dalam artikel Women’s Football and Gender Equality menyebutkan bahwa meningkatnya visibilitas membantu mengubah persepsi publik terhadap atlet perempuan. Liputan yang lebih luas menarik minat sponsor, yang kemudian berkontribusi pada peningkatan kualitas liga dan kesejahteraan pemain.

Generasi Baru yang Tumbuh dengan Mimpi Berbeda

Kini, dampaknya terasa pada generasi muda. Anak perempuan punya lebih banyak role model dan kesempatan untuk menjadikan sepak bola sebagai karier. 

UNESCO dalam artikel Women and Sports menegaskan bahwa olahraga dapat menjadi sarana pemberdayaan perempuan dan mendorong partisipasi yang lebih setara di ruang publik. 

Kehadiran atlet perempuan sebagai representasi yang terlihat juga membantu semakin banyak anak perempuan merasa bahwa mereka memiliki tempat di dunia olahraga. Ditambah dengan berkembangnya akademi sepak bola perempuan, jalur untuk berkembang kini semakin jelas.

Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.

About Author

Kevin

Kevin merupakan SEO Specialist di Magdalene, yang sekarang bercita-cita ingin menjadi dog walker.