Foto oleh Tommy Triardhikara/Magdalene
Novita Murni masih mengingat jelas berbagai rintangan yang ia hadapi ketika memutuskan jadi atlet profesional lebih dari satu dekade lalu. Keluarga dan teman-temannya sempat menolak pilihan itu. Bagi mereka, menjadi atlet bukanlah karier yang menjanjikan bagi perempuan. Apalagi, tidak ada satu pun anggota keluarganya yang pernah menekuni olahraga secara profesional.
Namun Novita bersikeras membuktikan anggapan itu keliru. Saat menempuh pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), ia mencoba berbagai cabang olahraga—mulai dari dayung hingga bulu tangkis—sebelum akhirnya bergabung dengan tim futsal kampusnya. Setelah setahun berlatih dan bertanding, ia mendapat kesempatan mengikuti program pencarian bakat untuk tim nasional futsal perempuan.
“Ada turnamen di Jakarta waktu itu. Pelatih kepala timnas datang untuk mencari pemain muda yang akan dipersiapkan ke SEA Games 2011. Saya ikut main di turnamen itu,” kata Novita kepada Magdalene usai diskusi panel di Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, (6/3).
Kini, sudah enam belas tahun ia memperkuat tim nasional. Pencapaiannya perlahan mengubah pandangan orang tuanya. Mereka kini justru bangga melihat Novita mengenakan seragam timnas dan mewakili Indonesia.
Baca juga: Pengalaman Tak Enak Jadi ‘Gym Girl’: Rela Luangkan Waktu hingga Uang, Berujung Diobjektifikasi
Namun perjuangan atlet perempuan seperti Novita tidak berhenti pada tantangan pribadi. Di banyak negara, atlet perempuan masih harus berhadapan dengan imbalan finansial yang lebih kecil, sorotan media yang terbatas, serta akses yang tidak setara terhadap fasilitas latihan maupun kesempatan bertanding.
Ironisnya, sebagian “lawan” terbesar mereka justru datang dari para penggemar olahraga sendiri. Tak sedikit yang lebih sibuk menyoroti penampilan fisik atlet perempuan, bahkan melontarkan komentar seksis atau merendahkan—baik di media sosial maupun langsung di arena pertandingan. Paparan komentar semacam ini, jika terus-menerus terjadi, bisa sangat melemahkan mental atlet.
Sebagai kapten tim, Novita mengaku sering mengingatkan rekan-rekannya untuk menjauh dari media sosial menjelang pertandingan agar tidak terpengaruh komentar-komentar tersebut.
“Itu bisa memengaruhi cara kami bermain. Apalagi kalau ada pemain yang sedang menstruasi, misalnya, dampak psikologisnya bisa terasa lebih berat,” ujarnya.
Obsesi terhadap penampilan atlet perempuan juga kerap terlihat dalam pemberitaan media. Mantan pelatih futsal Sicilia Setiawan pernah mengalami hal itu secara langsung. Ia mengingat sebuah wawancara yang ia berikan setelah timnya baru saja menjuarai sebuah turnamen. Wawancaranya berjalan lancar, tetapi artikel yang terbit setelahnya justru membuatnya kecewa.
Dengan judul yang menyebutnya sebagai “pelatih cantik”, artikel tersebut lebih banyak membahas penampilannya ketimbang kemenangan tim yang diraih dengan susah payah.
Pengalaman itu membuatnya kini lebih berhati-hati ketika berbicara dengan jurnalis.
“Sekarang saya biasanya tanya dulu ke jurnalis: mereka sebenarnya ingin mengambil apa dari wawancara ini. Dulu saya tidak melakukan itu, sebelum ada artikel yang menyebut saya ‘pelatih cantik’,” katanya.
Setelah wawancara pun, ia sering menegaskan kembali hal-hal apa yang menurutnya penting untuk ditonjolkan.
“Saya bilang ke mereka, tolong fokus pada bagian penting dari wawancara ini—pekerjaannya.”
Saat ini Sicilia melatih bersama Inspire Indonesia, organisasi yang dalam dua bulan terakhir menggelar klinik sepak bola bagi sekitar 600 remaja laki-laki dan perempuan di berbagai daerah di Indonesia. Program ini tidak hanya berisi latihan sepak bola, tetapi juga edukasi mengenai kekerasan berbasis gender.
Klinik tersebut merupakan bagian dari kampanye “Breaking Barriers, Building Future #KickOutGBV”, hasil kolaborasi antara Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Inspire Indonesia, dan Magdalene.
Dalam diskusi komunitas pada Jumat lalu, Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, Dominic Jermey, mengatakan sepak bola bisa menjadi ruang penting untuk mendorong kesetaraan gender.
“Sepak bola adalah olahraga yang dicintai dengan penuh gairah di Indonesia maupun Inggris. Itu membuatnya menjadi platform yang kuat untuk menantang stereotip, mendorong kepemimpinan perempuan, dan membuka ruang yang lebih inklusif di bidang yang selama ini didominasi laki-laki,” katanya.
Baca juga: Belajar dari Inspire Indonesia: Kesetaraan Gender Bisa Dibangun lewat Sepak Bola
Mengubah Cara Pandang
Perundungan di dunia maya hanyalah puncak gunung es. Komisioner Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), Sri Agustini, mengatakan kekerasan berbasis gender masih marak terjadi di dunia olahraga. Bentuknya beragam—mulai dari pemerkosaan, kekerasan fisik, hingga pelecehan verbal.
“Misalnya sentuhan tidak pantas pada bagian tubuh sensitif saat latihan atau sesi terapi fisik, atau komentar tentang tubuh atlet seperti payudara atau perut mereka,” ujarnya.
Masalah ini semakin rumit karena tidak adanya mekanisme pelaporan yang jelas.
“Belum ada departemen atau satuan tugas khusus yang menerima dan memproses laporan atlet terkait pelecehan seksual. Akibatnya banyak kasus tidak pernah dilaporkan. Sementara kalau melapor ke polisi, karier mereka juga bisa terancam,” katanya.
Deputy Development Director Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Freddie Brunt, menekankan pentingnya menghapus stigma dan stereotip terhadap perempuan dalam olahraga yang selama ini dianggap “milik laki-laki”, seperti sepak bola.
Pemerintah Inggris, katanya, berkomitmen mendorong lingkungan olahraga yang lebih inklusif dan membuka kesempatan yang setara bagi siapa pun untuk menekuni olahraga—baik sebagai profesi maupun sekadar hobi.
“Meski dulu sering terpinggirkan, industri olahraga perempuan di Inggris kini menunjukkan kemajuan pesat di level profesional. Hal ini memberi inspirasi bagi generasi baru untuk melihat bahwa berpartisipasi dalam olahraga adalah peluang yang realistis bagi mereka, sama seperti bagi anak laki-laki,” kata Brunt.
Baca juga: Popularitas Sepak Bola Perempuan Naik, tapi Penghapusan Stigma dan Kekerasan Jalan di Tempat
Pada akhirnya, perubahan tidak bisa dibebankan pada satu pihak saja. Semua orang punya peran, termasuk pemerintah, kata Deputi Perlindungan Hak Perempuan di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Desy Andriani.
Mengutip kerja Inspire Indonesia dalam mengedukasi anak muda tentang kekerasan berbasis gender, ia menekankan bahwa kunci utamanya adalah mengubah cara pandang.
“Sekarang ada 171 tim sepak bola perempuan di Indonesia. Pemerintah bisa berperan memperkuat perspektif gender di tim-tim ini. Karena pada akhirnya, yang paling penting adalah perubahan cara pandang,” pungkasnya.
Artikel ini merupakan bagian dari serial liputan bertema “Merebut Kembali Ruang Aman di Dunia Olahraga” dalam rangka Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day/IWD) 2026.




















