04/06/2026
Issues Opini Relationship

Dear Bapak-bapak, Jangan Tunda Minta Maaf ke Istri sampai Lebaran

Kita tahu konflik perlu diselesaikan saat itu juga. Namun, ada kecenderungan menundanya saat Lebaran, seolah selalu ada waktu yang lebih tepat untuk meminta maaf.

  • March 19, 2026
  • 6 min read
  • 1433 Views
Dear Bapak-bapak, Jangan Tunda Minta Maaf ke Istri sampai Lebaran

Pernahkah setelah berdebat kusir dengan orang tua, saudara, atau pasangan, kita memilih membuang muka dengan dada bergemuruh?

Lalu sebuah bisikan mampir di kepala, “Halah, gengsi amat mau minta maaf duluanBiarin saja, sebentar lagi puasa terus Lebaran. Sekalian saja minta maafnya dirapel pas sungkeman.” Kalimat seperti ini terasa akrab karena sering hadir dalam keseharian, bahkan tanpa kita sadari.

Kita sebenarnya tahu konflik perlu diselesaikan saat itu juga, alih-alih ditunda. Namun, ada kecenderungan menaruhnya di kemudian hari, seolah selalu ada waktu yang lebih tepat untuk meminta maaf. Tenggat untuk memperbaiki hubungan perlahan dipindahkan ke momen yang dianggap lebih aman, enggak terlalu menuntut, dan 90 persen termaafkan karena suasana yang fitri.

Baca juga: ‘Unconditional Love’ atau Mencintai Tanpa Syarat, Sejauh Mana Batasnya?

Mari bandingkan dengan situasi di ruang publik yang berbeda 180 derajat. Saat menyenggol bahu orang tak dikenal di stasiun KRL, kita refleks menunduk tanpa berpikir panjang. Telat membalas pesan atasan, kalimat pertama yang kita ketik hampir selalu, “Mohon maaf baru merespons.” Bahkan saat telat membayar tagihan paylater, kita bisa menghubungi customer service dengan nada sangat memohon dan penuh kehati-hatian.

Kata maaf menjadi ringan ketika ditujukan kepada orang asing dan sistem yang tidak punya kedekatan emosional. Namun, begitu masuk ke dalam rumah, semuanya berubah drastis. Mulut mendadak terasa berat dan percakapan berhenti tanpa penjelasan yang jelas.

Yang tersisa hanya diam panjang dan silent treatment yang bisa berlangsung berhari-hari, bahkan berbulan-bulan tanpa penyelesaian. Padahal, yang dibutuhkan sering kali hanya beberapa menit untuk duduk dan berkata, “Maaf ya, tadi emosiku kelepasan.” Hal sederhana itu justru menjadi hal yang paling sulit dilakukan.

Di titik ini, persoalannya tidak berhenti pada siapa yang lebih dulu meminta maaf. Ada pola relasi yang membuat sebagian orang lebih mudah menunda, sementara yang lain terus menanggung dampaknya. Relasi di dalam rumah tidak pernah benar-benar netral.

Dalam banyak keluarga, lelaki tidak selalu dibiasakan untuk mengelola emosi secara terbuka sejak awal. Di saat yang sama, perempuan justru terbiasa menjaga relasi tetap utuh, bahkan ketika dirinya sendiri sedang kelelahan. Ia yang lebih dulu membaca situasi, menahan diri, dan meredam konflik agar tidak semakin melebar.

Di sisi lain, kelelahan perempuan sering kali berlapis dan tidak selalu terlihat. Istri pekerja menghadapi beban ganda, sementara ibu rumah tangga menjalani rutinitas yang tidak pernah benar-benar selesai. Dunia mereka bisa menyempit pada dinding rumah, dengan pekerjaan berulang dan minim ruang jeda untuk bernapas.

Di dalamnya ada emotional labor yang terus bekerja, menjaga suasana dan merawat hubungan tanpa jeda. Bahkan ketika dirinya sendiri sedang tidak baik-baik saja, ia tetap memastikan semuanya berjalan seperti biasa. Dari situ, muncul kalimat yang tidak selalu diucapkan, tetapi sering hadir di kepala, “Aku juga sudah capek. Mengapa harus aku yang mengalah duluan.”

Baca juga: Aku Rapuh maka Aku Ada: Satu Lagi yang Penting dari Relasi

Ketika Lelaki Menunda, Relasi Ikut Menanggung

Ketika kedua pihak sama-sama bertahan, konflik tidak pernah benar-benar selesai. Ia hanya berubah bentuk, dari pertengkaran menjadi diam, dari kata-kata menjadi jarak yang sulit dijelaskan. Yang terlihat tenang sering kali justru menyimpan ketegangan yang lebih panjang.

Dalam banyak situasi, perempuan tetap berada di posisi yang menjaga relasi tetap berjalan. Ia tetap menjalankan peran domestik, tetap memastikan kebutuhan keluarga terpenuhi, bahkan saat konflik belum selesai. Rutinitas terus berjalan, meski secara emosional hubungan sedang tidak baik-baik saja.

Di sisi lain, keterlibatan emosional tidak selalu terbagi setara di dalam relasi. Ada yang terbiasa diam, ada yang terbiasa menahan, dan ketimpangan itu perlahan menjadi pola yang berulang tanpa disadari. Dari waktu ke waktu, beban itu menumpuk pada satu pihak.

Di titik ini, meminta maaf lebih dulu bukan soal kalah atau menang. Ia menjadi cara untuk memutus siklus yang terus berulang dan menghentikan luka yang diam-diam menumpuk. Ia juga menjadi bentuk keterlibatan emosional yang sering kali tidak dibagi secara setara.

Bukan pula soal “membantu” pekerjaan rumah. Karena kerja domestik dan pengasuhan memang bukan bantuan, melainkan tanggung jawab bersama yang seharusnya dijalankan setara. Menggeser cara pandang ini menjadi bagian penting dari perubahan relasi.

Yang lebih penting adalah kesediaan untuk hadir secara emosional dalam hubungan. Mengakui kesalahan, memahami dampak ucapan, dan melihat pasangan sebagai manusia yang juga lelah. Hal-hal ini sering terdengar sederhana, tetapi justru jarang dilakukan.

Kadang bentuknya sangat kecil dan tidak dramatis. Menghampiri tanpa banyak kata, lalu berkata pelan, “Maaf ya, tadi aku kelewatan. Aku tahu kamu capek.” Di situlah relasi mulai diperbaiki secara nyata, bukan sekadar di permukaan.

Baca juga: Cara Mengatasi ‘Silent Treatment’ pada Pasangan

Lebaran dan Kebiasaan Menunda Luka

Kebiasaan menunda maaf sering terasa wajar karena difasilitasi oleh budaya yang kita jalani bersama. Lebaran menjadi semacam ruang aman untuk “merapel” semua kesalahan tanpa perlu membicarakan akar masalahnya. Momen ini dianggap cukup untuk menutup semua yang belum selesai.

Kita tidak perlu menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi atau membuka kembali percakapan yang tidak nyaman. Tidak perlu mengurai konflik yang selama ini dihindari. Cukup berjabat tangan, menunduk, lalu mengucapkan, “Mohon maaf lahir dan batin.”

Namun, apakah benar selesai. Permintaan maaf yang diucapkan kepada semua orang dengan cara yang sama sering kehilangan maknanya. Ia terdengar sopan, tetapi tidak selalu menyentuh luka yang sebenarnya.

Di sisi lain, beban dari situasi ini tidak selalu dibagi rata di dalam keluarga. Perempuan tetap menjalankan perannya di tengah konflik yang belum tuntas, tetap memasak, tetap menyambut keluarga, dan tetap memastikan semuanya berjalan baik. Semua itu dilakukan sambil membawa emosi yang belum sepenuhnya pulih.

Sementara itu, luka yang tidak pernah benar-benar dibicarakan tetap tinggal di dalam relasi. Ia tidak hilang hanya karena diucapkan dalam satu kalimat yang seragam. Ia justru berpotensi muncul kembali dalam bentuk lain di kemudian hari.

Konflik di dalam keluarga sering bekerja seperti noda yang tidak segera dibersihkan. Jika ditangani saat itu juga, ia lebih mudah hilang dan tidak meninggalkan bekas. Namun jika dibiarkan terlalu lama, ia mengendap dan semakin sulit dihapus.

Menunda permintaan maaf berarti membiarkan noda itu menetap lebih lama dari yang seharusnya. Lebih dari itu, menunda berarti merasa masih punya waktu untuk memperbaiki semuanya nanti. Padahal, waktu tidak selalu memberi kesempatan yang sama.

Pada akhirnya, konflik dalam hubungan adalah hal yang wajar dan tidak terhindarkan. Yang menjadi persoalan adalah ketika ego dipelihara dan luka dibiarkan menumpuk tanpa penyelesaian. Lebaran bisa menjadi momen refleksi, tetapi bukan satu-satunya waktu untuk memperbaiki hubungan.

About Author

Akhmad Yunus Vixroni

Akhmad Yunus Vixroni adalah penulis yang percaya bahwa menjaga senyum istri adalah sumber rezeki.