07/07/2026
Culture Opini

Jangan Ajari Orang Berduka: Cara Seharusnya Melihat Kehilangan Sheila Dara

Sorotan publik terhadap Sheila Dara menunjukkan kecenderungan menghakimi duka dari apa yang tampak di permukaan.

  • March 19, 2026
  • 5 min read
  • 1973 Views
Jangan Ajari Orang Berduka: Cara Seharusnya Melihat Kehilangan Sheila Dara

Foto: Gramedia

Kematian Vidi Aldiano tidak hanya meninggalkan duka bagi orang-orang terdekat, tetapi juga kembali memunculkan sorotan berulang di ruang publik tentang cara keluarga berduka. Di antara banyak kehilangan, kamera menyorot Sheila Dara Aisha, istri Almarhum. Bukan tentang apa yang ia katakan, melainkan tentang apa yang tidak ia tunjukkan.

Ia terlihat tenang, tidak menangis meraung-raung, tidak runtuh di hadapan banyak orang. Ia juga tidak mengunggah pesan duka di akun media sosial miliknya. Namun, dari ketenangan itu, berbagai pertanyaan bermunculan: Apakah ia cukup sedih, apakah ia benar-benar merasa kehilangan, dan mengapa ia tampak baik-baik saja? Aneh, begitu mungkin pikir sejumlah orang.

Pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana. Namun, di baliknya tersimpan asumsi yang lebih besar. Duka seolah memiliki bentuk yang seharusnya. Kehilangan perlu terlihat, kesedihan harus terdengar, dan cinta harus dibuktikan lewat air mata.

Padahal, tidak semua duka bekerja dengan cara yang bisa dipahami dari luar. Ada orang yang menangis keras, ada yang memilih diam. Ada yang runtuh seketika, ada pula yang tetap berdiri karena tidak punya pilihan selain bertahan. Ketenangan seseorang bukan berarti ia tidak hancur, bisa jadi ia hanya memilih tidak memperlihatkannya.

Di titik ini, yang terlihat bukan upaya memahami duka, melainkan kecenderungan memproyeksikan bagaimana seharusnya duka ditampilkan. Kesedihan menjadi sesuatu yang perlu dibuktikan, seolah-olah emosi yang tidak terlihat adalah emosi yang tidak nyata. Padahal, duka adalah pengalaman yang sangat personal dan tidak membutuhkan validasi publik untuk menjadi sah.

Dalam konteks ini, buku Seorang Pria yang Melalui Duka dengan Mencuci Piring karya dr. Andreas Kurniawan terasa relevan. Ditulis oleh psikiater yang mengalami kehilangan anak, buku ini tidak hadir sebagai teks yang berjarak. Ia sederhana, dekat, dan terasa sangat manusiawi.

Buku ini tidak berbicara dari teori semata, tetapi dari kehilangan yang nyata. Karena itu, ia terasa seperti ruang kecil yang aman, tempat seseorang boleh capek, boleh diam, dan akhirnya boleh jujur dengan perasaannya sendiri.

Baca juga: Bahkan dalam ‘Sore: Idaman’, Cinta dan Kematian Tak Lepas dari Kekangan Kapitalisme

Tidak Ada Cara “Benar” untuk Berduka

Salah satu hal yang paling terasa dari buku ini adalah kesadaran sederhana. Bahwa tidak ada orang yang benar-benar diajari cara berduka. Sejak kecil, banyak hal dipelajari—cara menjadi pintar, sopan, bahkan sukses—tetapi tidak ada ruang untuk belajar menghadapi kehilangan.

Akibatnya, ketika duka datang, kebingungan muncul. Menangis dianggap lemah, marah dinilai berlebihan, sementara diam justru dicurigai sebagai ketidakikhlasan.

Dalam situasi seperti ini, respons publik terhadap Sheila Dara terasa akrab. Penilaian lebih sering diarahkan pada ekspresi luar, bukan pada pengalaman batin yang tidak terlihat.

Buku Andreas secara implisit menunjukkan tidak adanya bentuk duka yang paling benar. Duka bisa hadir dalam tangis, dalam diam, bahkan dalam tawa yang muncul karena tubuh terlalu lelah menanggung kesedihan. Yang sering kali terasa menyakitkan bukan hanya kehilangan itu sendiri, tetapi ketika orang lain merasa berhak mengatur bagaimana seseorang seharusnya merasakannya.

Waktu juga kerap dianggap sebagai penyembuh. Namun, buku ini memperlihatkan hal yang berbeda. Waktu tidak bekerja sebagai obat otomatis jika luka tidak pernah diproses.

Ada duka yang tetap tinggal bertahun-tahun, bukan karena waktunya kurang panjang, tetapi karena tidak pernah diberi ruang untuk diselesaikan. Andreas mengibaratkan duka seperti noda membandel pada peralatan dapur. Jika dibiarkan, ia tidak akan hilang dengan sendirinya. Ia perlu direndam, digosok, dibersihkan perlahan.

Duka, dengan cara yang sama, tidak bisa hanya ditunggu. Ia perlu dijalani.

Baca juga: ‘5 Stages of Grieving’ Kehilangan Bapak: Enggak Gampang, Tapi Itu yang Membuatku Bertahan

Duka Tidak Perlu Diatur, Cukup Ditemani

Buku ini juga mengingatkan tentang satu hal yang sering dihindari: semua yang dicintai memiliki batas waktu. Kehilangan bukan sekadar tentang seseorang yang pergi, tetapi juga tentang bagian diri yang ikut hilang bersamanya.

Duka menjadi berat karena ia tidak hanya meratapi kepergian, tetapi juga meratapi versi diri yang tidak akan kembali. Buku ini tidak berusaha menghapus rasa sakit itu, melainkan membantu melihatnya secara lebih utuh. Bahwa perpisahan bukan kegagalan mencintai, tetapi konsekuensi dari pernah memiliki.

Dalam kehidupan sosial, ada kecenderungan membandingkan duka. Sebagian merasa kesedihannya tidak cukup besar untuk diakui, sementara yang lain merasa dukanya paling berat. Buku ini menolak logika tersebut. Setiap duka memiliki kompleksitasnya sendiri, dan tidak ada yang bisa diukur secara objektif.

Apa yang terlihat kecil bagi orang lain, bisa menjadi sangat besar bagi yang mengalaminya. Kalimat seperti “cuma segitu saja” atau “harusnya kamu bisa lebih kuat” justru menunjukkan jarak dalam memahami pengalaman orang lain.

Analogi mencuci piring menjadi inti yang paling kuat. Duka diibaratkan seperti tumpukan piring kotor: Tidak menyenangkan, melelahkan, tetapi tidak bisa dihindari.

Salah satu kutipan yang paling membekas berbunyi, “Berduka itu seperti mencuci piring, tidak ada orang yang mau melakukannya, tapi pada akhirnya, seseorang harus melakukannya.”

Duka tidak bisa diselesaikan secara instan. Ia harus dilalui, satu per satu, seperti membersihkan piring yang menumpuk. Dalam proses itu, seseorang membutuhkan “sabun”, yang dalam kehidupan bisa berupa dukungan orang terdekat, penerimaan, doa, terapi, atau rutinitas kecil yang membantu bertahan.

Buku ini tidak menuntut sabun itu harus besar atau sempurna. Ia hanya perlu cukup untuk membantu melewati hari.

Baca juga: Kenapa Banyak Orang Berduka  atas Kepergian Musisi Vidi Aldiano?

Di tengah dunia yang serba cepat, bahkan kesedihan sering kali diminta segera selesai. Namun, buku ini mengingatkan duka tidak bisa dipercepat, tidak bisa ditertibkan, dan tidak membutuhkan aturan. Ia hanya perlu dijalani.

“Jangan pernah membandingkan duka satu orang dengan orang lain. Dan jangan pernah mengajari orang cara berduka.” (hlm. 4)

Fenomena yang dialami Sheila Dara memperlihatkan hal yang sama. Yang dibutuhkan seseorang yang kehilangan bukan tuntutan untuk segera baik-baik saja, melainkan kehadiran yang tidak menghakimi.

Pada akhirnya, yang tersisa bukan cara seseorang berduka, tetapi siapa yang memilih tetap tinggal dan berkata pelan: Aku di sini.

Meilisa Dwi Ervinda, gadis asal Gresik. Alumni Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Airlangga. Suka isu berkaitan dengan perempuan, kesehatan mental, dan literasi/sosial. Aktif nulis dan berbagi info di IG @meilisa_de.

About Author

Meilisa Dwi Ervinda