Sudah jadi rahasia umum, tiap momen Lebaran, beban konsumsi pada masyarakat kelas menengah dengan payroll naik drastis. Meski kas di rekening sempat terasa menggendut, berkat Tunjangan Hari Raya (THR) perlahan uang itu menguap dengan cepat. Sering kali, apa yang dibelanjakan tidak sesuai rencana cash flow.
Peran kepentingan ekonomi besar menyusup lewat fenomena mudik dan belanja sporadis menjelang Lebaran. Ia tidak hadir sebagai sesuatu yang terasa memaksa, melainkan sebagai kebiasaan yang terus diulang dan akhirnya dianggap normal. Setiap keluarga seolah terdorong untuk mengikuti ritme konsumsi yang sama setiap tahunnya.
Sebagai ibu-ibu yang setiap tahun semakin dipusingkan oleh alur kas menjelang Lebaran, pengalaman ini terasa sangat riil. Ada rasa cemas yang muncul, bahkan sebelum hari raya tiba. Dari situ, muncul kebutuhan untuk mengaji ulang makna Lebaran dan kebiasaan konsumsi yang selama ini dijalani tanpa banyak dipertanyakan.
Bisa jadi, Idulfitri tidak lagi sekadar hari besar keagamaan yang dirayakan oleh mayoritas Muslim. Ia menjelma jadi peristiwa ekonomi besar dalam kalender tahunan, seperti mesin konsumsi yang bergerak sepanjang Ramadan. Dari menu berbuka yang berubah setiap hari, hingga berbagai persiapan menjelang hari raya, semuanya ikut mendorong pengeluaran.
Pakaian baru, hampers, amplop THR untuk ponakan, tiket mudik, hingga meja makan yang penuh dengan penganan Lebaran menjadi bagian dari pola ini. Di permukaan, semua itu terlihat sebagai bentuk syukur dan kebersamaan. Namun, di baliknya, ada mekanisme budaya dan ekonomi yang bekerja secara halus dan terus dinormalisasi.
Hal ini terutama terasa pada mereka yang memiliki penghasilan tetap atau payroll, tetapi dampaknya juga dirasakan oleh banyak lapisan masyarakat. Tidak jarang orang meminjam uang demi memenuhi kebutuhan perayaan. Dalam situasi ini, Lebaran bukan hanya momen spiritual, tetapi juga momen yang menekan secara finansial.
THR yang seharusnya menjadi bantalan finansial perlahan berubah fungsi. Ia tidak lagi menjadi cadangan untuk kebutuhan penting, melainkan seperti anggaran pengeluaran yang hampir wajib dihabiskan. Bahkan dalam banyak kasus, jumlahnya tidak cukup untuk memenuhi ekspektasi sosial yang ada.
Kelas menengah Indonesia berada di posisi yang serba tanggung. Secara angka terlihat cukup, tetapi dalam praktiknya sering terasa tidak pernah benar-benar cukup. Dalam konteks in this economy, banyak yang harus menambah beban kredit demi memenuhi kebutuhan yang sifatnya simbolik.
Yang lebih terasa adalah dampaknya setelah Lebaran berlalu. Pinjaman masih harus dibayar, sementara kebutuhan lain seperti pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan harian harus tetap berjalan. Di titik ini, konsekuensi dari konsumsi Lebaran menjadi sesuatu yang tidak bisa dihindari.
Sebagian ekonom menyebut ini sebagai euforia pasar Lebaran. Konsumsi melonjak dalam waktu singkat, lalu diikuti penurunan daya beli yang terasa di bulan-bulan berikutnya. Pola ini terus berulang setiap tahun, tanpa benar-benar dipertanyakan.
Baca juga: Dear Bapak-bapak, Jangan Tunda Minta Maaf ke Istri sampai Lebaran
Industri dan Budaya Performatif yang Tak Terasa
Belanda pernah menyebut tradisi Lebaran di Indonesia sebagai tradisi yang boros. Hendaru Tri Hanggoro dalam tulisannya di Historia.id mencatat bagaimana kritik itu muncul dari masa lalu. Perspektif tersebut memang tidak sepenuhnya adil, tetapi ia menunjukkan ada perhatian terhadap pola konsumsi sejak dulu.
Hari ini, konsumsi Lebaran tidak bisa dilepaskan dari peran industri. Pakaian baru terasa seperti kebutuhan, hampers menjadi bagian dari relasi sosial, dan uang baru yang dibagikan membawa makna simbolik tertentu. Semua itu hadir bukan sekadar kebiasaan, tetapi juga hasil dari konstruksi yang terus diperkuat.
Iklan Lebaran tidak hanya menjual produk, tetapi juga menjual perasaan. Gambaran keluarga yang hangat, rumah yang rapi, dan penampilan yang serasi menjadi standar yang terus diulang. Narasi ini membentuk bayangan tentang Lebaran yang ideal, yang sulit untuk ditolak.
Dalam situasi seperti ini, budaya performatif bekerja tanpa terasa. Perayaan tidak lagi sekadar soal kebersamaan, tetapi juga tentang apa yang ditampilkan di hadapan orang lain. Industri memahami hal ini dengan sangat baik, dan terus mengembangkannya sebagai bagian dari strategi pasar.
“Performativitas Lebaran bukan tentang cinta terhadap keluarga yang kita rasakan, tapi tentang apa yang kita paksa untuk perlihatkan—dan industri tahu persis bagaimana cara memonetisasi kebutuhan validitas ini.”
Baca juga: Nestapa Penyintas Banjir Sumatera Rayakan Lebaran dari Tenda Pengungsian
Tradisi, Tekanan, dan Siklus yang Berulang
Penting untuk membedakan antara tradisi dan tekanan sosial yang melekat di dalamnya. Mudik, silaturahmi, dan berbagi makanan adalah inti dari Idulfitri yang tidak membutuhkan biaya besar. Namun, dalam praktiknya, lapisan performatif membuat semuanya terasa harus lebih, lebih rapi, lebih lengkap, dan lebih “pantas”.
Pakaian seragam keluarga, amplop dengan nominal tertentu, hingga hidangan Lebaran yang semakin kompleks perlahan menjadi standar tidak tertulis. Dari situ, perayaan bergeser menjadi ruang untuk menunjukkan posisi sosial. Perubahan ini terjadi pelan-pelan, tetapi dampaknya terasa nyata.
Sebagai ibu-ibu yang setiap tahun menjalaninya, pengalaman ini sering kali terasa melelahkan. Bukan sekadar soal mengatur anggaran, tetapi juga soal memenuhi ekspektasi yang terus naik. Rasa nyinyir yang muncul bukan tanpa alasan, melainkan bagian dari upaya memahami situasi yang terus berulang.
Dampak paling terasa muncul setelah Lebaran berlalu. Tabungan berkurang, tagihan meningkat, bahkan tidak sedikit yang bergantung pada pinjaman online untuk menutup selisih pengeluaran. Situasi ini membentuk lingkaran yang sulit diputus karena akan kembali terulang tahun berikutnya.
Secara makro, pola ini juga berdampak pada ekonomi yang tidak merata sepanjang tahun. Ada ledakan konsumsi di satu titik, lalu kelesuan di titik lain. Kelas menengah yang seharusnya menjadi penopang konsumsi domestik justru mengalami tekanan yang berulang.
Di titik ini, muncul pertanyaan yang layak diajukan: siapa yang sebenarnya diuntungkan dari standar perayaan Lebaran yang terus meningkat ini. Pertanyaan ini membuka cara pandang yang berbeda terhadap kebiasaan yang selama ini dianggap wajar.
Baca juga: Godaan ‘Checkout’ Saat Ramadan? Ini Alasan Psikologis di Balik Kebiasaan Belanja Impulsif
Jawabannya mengarah pada berbagai aktor industri. Merek fashion, platform e-commerce, hingga lembaga keuangan memiliki kepentingan untuk menjaga siklus ini tetap berjalan. Setiap kenaikan standar perayaan membuka peluang pasar yang lebih besar bagi mereka.
Kesadaran ini tidak harus membuat kita menolak tradisi. Lebaran tetap menjadi momen yang sarat makna dan kebersamaan. Namun, merayakannya tanpa tekanan yang tidak perlu bisa menjadi langkah kecil untuk keluar dari siklus yang sama.
Mungkin sudah waktunya kita, terutama perempuan yang selama ini memikul beban logistik Lebaran secara tidak proporsional, mulai menegosiasikan ulang standar-standar ini. Dengan begitu, Lebaran bisa tetap dirayakan tanpa harus menjadi sumber tekanan ekonomi yang berulang.
Selamat merayakan Lebaran dengan penuh kesadaran, tanpa mengurangi maknanya yang fitri.





















