06/06/2026
Issues Lifestyle Opini

Pengetahuan Umum Kita Masih Berpusat pada Barat, Saya Menyadarinya dari ‘Trivia Night’

Gara-gara ‘trivia night’, saya menyadari pengetahuan umum yang dianggap keren ternyata masih berpusat pada Barat. Cara kita mengonsumsi media diam-diam ikut membentuk cara pandang, lalu mewariskan kolonialisme ke kepala kita.

  • May 16, 2026
  • 6 min read
  • 696 Views
Pengetahuan Umum Kita Masih Berpusat pada Barat, Saya Menyadarinya dari ‘Trivia Night’

Sejak pertengahan 2025, saya dan teman-teman menggandrungi trivia night, permainan kuis seputar pengetahuan umum yang diadakan di bar atau restoran. Kelompok kami cukup kompetitif demi menyandang titel “juara 1”. Bukan untuk mengejar hadiah, melainkan demi “membuktikan” kami punya pengetahuan mumpuni tentang informasi yang sering dianggap sepele.

Semakin sering bermain, saya mulai menyadari pola yang terus berulang. Dari banyaknya soal yang muncul dan dibuat berbagai komunitas, ada satu tipe pertanyaan yang hampir selalu hadir. Pengetahuan tentang negara-negara Utara muncul dalam beragam kategori: Sejarah, geografi, olahraga, sains, musik, hingga film.

“What’s the name of an American white supremacist hate group that was established in 1865?”

“Who’s the first woman to run a marathon in 1962?”

“In One Battle After Another, what’s the left-wing revolutionary group that is dedicated to overthrow the U.S. called?”

Ketika pertanyaan seperti itu muncul, saya biasanya menghela napas pelan karena merasa tak bisa banyak berkontribusi untuk tim. Sebaliknya, saat soal tentang Indonesia atau Asia Tenggara disebutkan, terutama budaya populer, saya mulai percaya diri menyumbang poin. Meski jumlah pertanyaannya sering kali tak lebih dari tiga.

Namun, ada perasaan lain yang diam-diam muncul. Walaupun cukup percaya diri menjawab soal Indonesia dan Asia Tenggara, saya sering merasa pengetahuan tersebut tak sebanding dengan pengetahuan soal negara-negara Utara. Rasanya kurang keren jika flexing jumlah episode Cinta Fitri selama tujuh musim atau familier dengan kepanjangan cuanki. Padahal, sama-sama trivia yang belum tentu diketahui banyak orang.

Belakangan saya mulai menyadari ada pengetahuan tertentu yang terasa lebih prestisius dibanding lainnya. Mengetahui sejarah kelompok ekstremis di AS atau hafal detail budaya populer Barat sering terasa lebih mengesankan dibanding memahami hal-hal yang dekat dengan keseharian sendiri. Padahal, keduanya sama-sama bentuk pengetahuan.

Perasaan inferior maupun kecenderungan mengeksplorasi pengetahuan seputar Barat lebih dalam dapat dibaca sebagai bentuk internalized colonialism. Istilah ini merujuk pada kondisi ketika masyarakat dari negara yang pernah dijajah memercayai stereotip tertentu dan menganggap budayanya sendiri lebih rendah.

Foto: Dokumentasi pribadi penulis

Baca Juga: Westernisasi dan Obsesi Papa yang Kebarat-baratan

Kolonialisme yang Terinternalisasi dan Pengetahuan yang Tak Netral

Ketika seseorang menginternalisasi kolonialisme, ia mengadopsi standar, nilai, perilaku, dan cara pandang bangsa penjajah sebagai tolok ukur keberhasilan. Situasi ini muncul karena negara-negara Utara menguasai ilmu pengetahuan, budaya, bahasa, dan teknologi secara global melalui pendidikan, media, serta interaksi sosial.

Pengaruh tersebut dapat dilihat dari perangkat komunikasi yang digunakan, konglomerasi media, hingga kekuatan ekonomi dan politik yang mereka kuasai. Dominasi itu menjelaskan mengapa berita dan budaya populer dari negara-negara Utara lebih banyak dikonsumsi masyarakat global. Termasuk penggunaan bahasa Inggris, seperti diterangkan akademisi Robert L. Stevenson dalam Defining International Communication as a Field (1992).

Situasi ini ikut memengaruhi cara masyarakat memandang identitasnya sendiri. Sesuatu yang berasal dari negaranya kerap dianggap inferior atau terbelakang, sementara hal-hal yang datang dari Barat diposisikan lebih modern dan intelektual. Akibatnya, identitas negara sendiri makin terpinggirkan atau disebut imperialisme budaya.

Sebagai anak yang tumbuh pada era 2000-an, saya menyadari imperialisme budaya hadir dekat dengan keseharian. Sebagian teman yang keluarganya berlangganan parabola mulai mengakses film dan acara televisi AS. Obrolan di sekolah pun bergeser: Mulai dari episode terbaru Hannah Montana (2006-2011), pasangan favorit di High School Musical (2006), sampai perlengkapan sekolah berbentuk merchandise.

Mereka dipandang keren dan gaul karena menonton tayangan berbahasa Inggris. Mereka juga dianggap lebih up-to-date karena mengikuti acara yang ditonton anak-anak di luar negeri.

Sementara sebagian lainnya, termasuk saya, tumbuh bersama acara televisi lokal. Mulai dari acara musik seperti Inbox dan DahSyat, hingga sinetron Candy (2007), Eneng dan Kaos Kaki Ajaib (2007), serta Tuyul & Mbak Yul (1997-2002). Namun, acara-acara tersebut kerap dicap alay dan kampungan karena dianggap hiburan masyarakat kelas ekonomi menengah ke bawah.

Pelabelan negatif terhadap produk lokal, termasuk acara televisi yang dianggap tontonan kelas bawah, memperlihatkan internalisasi pandangan jika identitas kultural kita lebih rendah dibanding AS maupun negara-negara Utara lain. Situasi tersebut juga bukan fenomena baru. Akar persoalannya dapat ditelusuri sejak masa Orde Baru.

Dalam Globalisasi dan Imperialisme Budaya Indonesia (2014), Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Komunikasi (STIKOM) Bandung, Dedy Djamaluddin Malik mengungkapkan pemerintahan Suharto menjejalkan ilmu, budaya populer, dan teknologi dari Barat melalui media secara masif. Salah satunya ketika rezim Orde Baru memberlakukan open sky policy dengan meluncurkan Satelit Palapa.

Persoalannya, dominasi pengetahuan bukan hanya berpusat pada Barat. Pengetahuan juga kerap dibentuk dari sudut pandang laki-laki atau dikenal sebagai androsentrisme. Cara pandang yang menempatkan laki-laki sebagai pusat ini terlihat dalam penggunaan bahasa, layanan kesehatan, kesempatan kerja, standar ganda, hingga budaya populer.

Tak heran, saat trivia night, pertanyaan sering berpusat pada tokoh laki-laki yang dianggap memainkan peran penting dalam sejarah. Atau film-film karya sutradara laki-laki kulit putih seperti Alfred Hitchcock, Martin Scorsese, dan Christopher Nolan yang dinilai revolusioner. Atmosfer dalam ruangannya pun terasa lebih maskulin.

Yang sering luput disadari, kolonialisme yang terinternalisasi dan androsentrisme bekerja secara halus. Dampaknya bukan hanya memengaruhi jenis pengetahuan yang dianggap penting, tetapi juga membentuk rasa inferior dan pengalaman merasa diliyankan. Ketika seseorang, terutama dari kelompok marginal, tidak memenuhi dua “standar” tersebut, muncul anggapan dirinya tak memiliki pengetahuan maupun pengalaman yang cukup mumpuni. Dalam jangka panjang, situasi ini dapat mengikis kepercayaan diri.

Foto: Dokumentasikan pribadi penulis

Baca Juga: Stop Pandang Kulit Putih Lebih Superior

Dekolonialisasi Pengetahuan: Belajar Menggeser Pusat

Lalu, apa yang bisa dilakukan agar pengetahuan tak terus berpusat pada Barat dan laki-laki? Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah dekolonialisasi pengetahuan melalui cara kita mengonsumsi maupun memproduksi informasi.

Pertama, memperluas diversifikasi informasi. Caranya dapat dilakukan dengan menonton atau membaca buku karya perempuan, queer, orang dengan disabilitas, dan masyarakat adat. Cara ini membantu membuka perspektif baru terhadap kelompok marginal sekaligus mengingatkan kita jika mereka memiliki agensi, bukan sekadar objek.

Kedua, mengenal dan menghargai pengetahuan lokal. Selama ini kolonialisme kerap melabeli pengetahuan lokal maupun tradisional sebagai sesuatu yang terbelakang. Padahal, budaya kita, termasuk yang tradisional, memiliki posisi yang sama penting dengan budaya populer maupun tren dari negara-negara Utara.

Baca Juga: Nonbiner Sudah Lama Ada, tapi Kolonialisme Membuatnya Jadi Asing

Ketiga, mempertanyakan ulang asumsi yang selama ini terinternalisasi. Langkah ini berkaitan dengan proses unlearning, yakni mempelajari kembali nilai-nilai yang selama ini diterima tanpa banyak dikritik. Misalnya anggapan buku berkualitas identik dengan tema action, maskulin, dan penuh kekerasan. Cara pandang semacam itu membuat cerita tentang kehidupan sehari-hari atau eksplorasi emosi manusia kerap dianggap “receh” dan sekadar bacaan ringan.

Dari trivia night, saya akhirnya menyadari satu hal: Pengetahuan umum ternyata tidak pernah benar-benar netral. Ada sejarah, relasi kuasa, dan kebiasaan konsumsi media yang ikut menentukan pengetahuan mana yang dianggap penting, keren, dan layak dipamerkan.

About Author

Aurelia Gracia

Aurelia Gracia adalah seorang reporter yang mudah terlibat dalam parasocial relationship dan suka menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di beberapa titik di ibu kota.