06/06/2026
Issues

5 Artikel Pilihan: Pembubaran Nobar ‘Pesta Babi’, hingga Patah Hati Kolektif Warga Negara Indonesia

Redaksi Magdalene merangkum lima berita pilihan untuk pekan ini, mulai dari ramai pembubaran nobar ‘Pesta Babi’, hingga patah hati kolektif WNI.

  • May 16, 2026
  • 3 min read
  • 318 Views
5 Artikel Pilihan: Pembubaran Nobar ‘Pesta Babi’, hingga Patah Hati Kolektif Warga Negara Indonesia

1.  Ramai Pembubaran Nobar ‘Pesta Babi’: Ketakutan pada Sesuatu yang Tidak Ada

Mengapa film dokumenter atau karya yang memantik refleksi sosial sering dicurigai, dibubarkan, bahkan dikriminalisasi, sementara film horor yang mengeksploitasi ketakutan justru dibiarkan membanjiri ruang publik? Pertanyaan ini mungkin terdengar sederhana, tetapi sesungguhnya membuka persoalan yang lebih besar tentang arah kesadaran bangsa.

Di satu sisi, karya seperti dokumenter Pesta Babi, terlepas orang setuju atau tidak dengan isinya, mencoba mengajak publik berpikir tentang realitas sosial, relasi kuasa, kekerasan, atau luka kolektif. Karya seperti ini memancing analisis sosial, membuka percakapan, sekaligus menghidupkan kesadaran kritis warga.

Baca artikel selengkapnya di sini

2.  Kepulangan Korban TPPO dan Komunikasi Runyam Pemerintah Antar-Negara

Asih tak menyangka penipuan yang menimpanya sekitar 15 tahun lalu akan membuatnya kehilangan identitas dan kontak dengan keluarga. Pada 2011, ia mendapat tawaran kerja sebagai perawat lansia di Malaysia dari tetangga bernama Duwi. Namun pada prosesnya, kejanggalan demi kejanggalan terjadi. 

Kemudian, alih-alih langsung bekerja, begitu di Malaysia Asih diminta mengambil koper di Vietnam. Ia menurut, mengambil barang titipan yang katanya harus diberikan ke kerabat Duwi. Sekembalinya ke Bandara Penang, Asih ditangkap oleh petugas yang menemukan narkotika jenis sabu seberat 3.865,2 gram di dalam koper tersebut. 

Baca artikel selengkapnya di sini.  

3.Di Banasu, Jalan Rusak dan Kehamilan Sama-sama Menakutkan

Tangan saya semakin erat mencengkeram pundak abang ojek di depan. Bukan tanpa alasan, motor yang kami tumpangi terus memantul di atas jalan berbatu, sesekali miring ketika melewati tanjakan curam atau jalur sempit di tepi jurang tanpa pembatas. Pada beberapa titik, jalannya terasa hanya cukup untuk satu ban motor. Salah menyeimbangkan badan sedikit saja, rasanya tubuh bisa terpental.

Perjalanan menuju Desa Banasu, Kecamatan Pipikoro, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, dimulai dari titik penjemputan di Desa Gimpu, Kecamatan Kulawi Selatan. Jalur menuju desa itu hanya dapat diakses kendaraan roda dua. Sejauh mata memandang, di kiri dan kanan hanya hutan. Sesekali terlihat beberapa warga yang sedang pergi meladang. Selebihnya hanya jalan panjang yang terasa sunyi.

Simak artikelnya di sini

4.Dibikin Patah Hati Melulu oleh Negara, tapi Apa Kita Benar-benar Tak Berdaya?

Belakangan, video Nadiem Makarim dipeluk para pengemudi ojek online (ojol) Gojek usai sidang tuntutan kasus dugaan korupsi Chromebook ramai beredar di media sosial. Dalam laporan Detik News, jaksa menuntut Nadiem 18 tahun penjara, denda Rp1 miliar subsider satu tahun kurungan, serta uang pengganti mencapai Rp5,6 triliun. Sejumlah driver tampak menangis dan menyebut eks Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi itu berjasa dalam hidup mereka.

Respons emosional terhadap video itu berkembang jauh melampaui pembahasan soal proses hukum biasa. Saya dan WNI lainnya mungkin tahu Nadiem bukan figur tanpa kritik. Gojek sejak lama disorot karena skema kerja gig economy yang membuat driver berada dalam posisi rentan tanpa perlindungan kerja memadai.

Baca artikel lengkapnya di sini

5. Dear Bro, Ada ‘Gender War’ yang Sia-sia dari Tren ‘Sepakat’ di Media Sosial

Tren ‘sepakat’ belakangan jadi jawaban andalan laki-laki di media sosial saat menanggapi perempuan. Apa pun topiknya, mulai dari pengalaman seksisme sampai pembahasan soal gender, kata itu dipakai seolah jadi respons paling aman. Masalahnya, jokes ini sering dipakai bukan untuk mendengarkan, melainkan untuk menyudahi percakapan.

Pola itu terlihat lagi setelah kecelakaan Kereta Listrik (KRL) Commuter Line yang menewaskan 16 perempuan di Bekasi Timur, Jawa Barat (27/4) silam. Publik wajar marah dan mengritik KAI. Namun, di tengah duka tersebut, muncul komentar dan konten media sosial yang menunjukkan ketersinggungan ketika perempuan menjadi fokus utama dalam kecelakaan ini.

Baca artikel selengkapnya di sini

About Author

Magdalene