Ketika Kejujuran Harus Pindah ke Akun Kedua, Ketiga, Kelima
Belakangan ini saya sadar ada sesuatu yang mengganjal dari cara kita menggunakan media sosial. Ketika melihat akun Instagram teman, semuanya tampak baik-baik saja. Ada foto liburan, foto bersama pasangan, dan unggahan tentang pencapaian pekerjaan. Senyum hadir di hampir setiap foto, sementara semua unggahan tersusun rapi dalam format carousel yang estetik.
Kalau hanya melihat akun itu, saya mungkin akan mengira hidupnya berjalan mulus. Kesan tersebut berubah ketika ia mengikuti akun saya menggunakan akun keduanya. Dari situ, saya melihat sisi lain yang sama sekali berbeda dari apa yang ditampilkan di akun utamanya.
Isi akun itu jauh lebih personal. Ada story berisi keluhan soal pekerjaan, cerita tentang kecemasan, kutipan-kutipan sedih, hingga selfie tanpa filter. Tidak selalu rapi, tidak selalu estetik, dan tidak selalu bahagia. Anehnya, justru akun kedua itulah yang terasa lebih manusiawi.
Pengalaman itu membuat saya menyadari fenomena ini ternyata semakin umum. Banyak orang, terutama anak muda, memiliki lebih dari satu akun dengan fungsi yang berbeda. Ada akun utama yang bisa dilihat semua orang, ada akun kedua untuk teman dekat, bahkan ada yang memiliki tiga, empat, atau lima akun sekaligus.
Awalnya saya mengira second account hanyalah tren media sosial biasa. Namun semakin dipikirkan, fenomena ini terasa sedang menceritakan sesuatu yang lebih besar. Mengapa banyak orang perlu membuat akun terpisah hanya untuk bisa lebih jujur? Dan mengapa satu akun saja terasa tidak cukup untuk menampung diri kita yang sebenarnya?
Baca Juga: Cari Validasi dari Diri, Bukan Instagram Story
Akun Utama sebagai Tempat Menampilkan Versi Terbaik Diri
Dulu media sosial terasa lebih sederhana. Orang mengunggah foto makan siang yang buram, foto jalan-jalan yang biasa saja, atau status galau yang ditulis tanpa banyak pertimbangan. Tidak semuanya menarik dan estetik, tetapi terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Sekarang situasinya berbeda. Sebelum mengunggah sesuatu, banyak orang berpikir berkali-kali. Apakah fotonya cukup bagus? Apakah caption-nya terdengar berlebihan? Apakah terlihat norak? Apakah orang lain akan menganggap saya aneh? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu perlahan mengubah cara kita menggunakan media sosial.
Lama-kelamaan, media sosial tidak lagi sekadar menjadi tempat berbagi cerita. Banyak orang mulai memilih bagian mana dari hidupnya yang layak ditampilkan dan bagian mana yang sebaiknya disimpan sendiri. Akibatnya, yang muncul di layar sering kali hanya potongan-potongan terbaik dari kehidupan seseorang.
Saya jadi teringat teori sosiolog Erving Goffman yang mengatakan kehidupan sosial mirip sebuah panggung pertunjukan. Kita memiliki front stage, tempat menunjukkan versi terbaik diri kita, dan back stage, tempat kita bisa melepas berbagai peran yang dijalankan sehari-hari. Dua ruang itu membantu seseorang menyeimbangkan kehidupan publik dan kehidupan pribadinya.
Masalahnya, media sosial membuat batas di antara keduanya semakin kabur. Atasan bisa melihat, teman bisa melihat, keluarga bisa melihat, mantan bisa melihat, bahkan klien juga bisa melihat. Ketika terlalu banyak orang berada dalam ruang yang sama, banyak pengguna akhirnya lebih sibuk memikirkan apa yang aman dibagikan daripada apa yang sebenarnya ingin mereka ceritakan.
Akibatnya, banyak orang tidak lagi bertanya, “Apa yang ingin saya bagikan?” Pertanyaan itu perlahan berubah menjadi, “Apa yang aman saya bagikan?” Perubahan yang terlihat sederhana ini sebenarnya menunjukkan perubahan besar dalam cara kita hadir di media sosial.
Saya membayangkannya seperti rumah. Di dalam rumah ada ruang tamu dan ada kamar. Ruang tamu biasanya kita rapikan karena akan dilihat orang lain, sementara kamar adalah tempat kita bisa duduk berantakan, mengeluh, menangis, atau sekadar menjadi diri sendiri.
Masalahnya, media sosial sekarang terasa seperti rumah yang seluruh ruangannya berubah menjadi ruang tamu. Tidak ada lagi tempat untuk berantakan dan tidak ada lagi tempat untuk tampil apa adanya. Mungkin karena itulah banyak orang akhirnya membuat kamar-kamar baru yang tersembunyi dari pandangan publik.
Baca Juga: Atasi Cemburu karena Pacar ‘Nge-Like’ Instagram Perempuan Cantik
Ketika Satu Akun Tidak Lagi Cukup
Banyak orang menganggap akun kedua hanya tempat bercanda atau mengunggah foto-foto yang kurang menarik. Namun semakin saya perhatikan, rasanya ada sesuatu yang lebih dalam dari itu. Bagi sebagian orang, akun kedua menjadi ruang untuk menunjukkan sisi diri yang tidak selalu bisa ditampilkan di hadapan semua orang.
Di akun kedua, seseorang bisa mengaku sedang lelah, cemas, kecewa, atau tidak baik-baik saja tanpa terlalu khawatir pada penilaian orang lain. Mereka tidak harus terlihat produktif setiap saat atau menunjukkan hidup yang selalu berjalan lancar. Kebebasan semacam itu sering kali sulit ditemukan di akun utama.
Fenomena ini terasa dekat dengan pengalaman banyak perempuan. Dalam kehidupan sehari-hari, perempuan sering menghadapi lebih banyak tuntutan sosial. Mereka diharapkan terlihat bahagia, cantik, produktif, ramah, tidak terlalu emosional, dan tidak terlalu banyak mengeluh. Akibatnya, ruang untuk menunjukkan kerentanan menjadi semakin sempit.
Tanpa sadar, akun utama kemudian berubah menjadi tempat menjaga citra. Sementara akun kedua menjadi tempat bernapas sejenak dari berbagai tuntutan tersebut. Di ruang itulah seseorang merasa lebih bebas mengatakan hal-hal yang sebenarnya sangat sederhana.
“Hari ini aku capek.”
“Hari ini aku insecure.”
“Hari ini aku gagal.”
Kalimat-kalimat itu terdengar biasa. Namun di ruang publik digital, mengakuinya sering kali terasa jauh lebih sulit daripada yang dibayangkan. Tidak sedikit orang yang lebih nyaman membagikannya kepada lingkaran kecil dibanding kepada seluruh pengikut mereka.
Yang menarik, fenomena ini mungkin sudah melampaui sekadar akun kedua. Tidak sedikit orang yang memiliki akun khusus pekerjaan, akun untuk teman dekat, akun anonim, akun hobi, hingga akun yang bahkan tidak menggunakan identitas asli. Seolah-olah satu identitas digital tidak lagi cukup untuk menampung semua sisi diri seseorang.
Jika dipikirkan, yang menarik bukan lagi jumlah akunnya. Yang menarik adalah alasan di baliknya. Mengapa banyak orang merasa perlu memecah dirinya ke dalam beberapa ruang yang berbeda agar bisa merasa nyaman?
Dulu media sosial sering dipromosikan sebagai tempat untuk mengekspresikan diri. Namun sekarang banyak orang justru merasa perlu membuat ruang tambahan agar bisa berbicara lebih jujur. Dalam konteks ini, akun kedua bukan hanya soal privasi, tetapi juga gejala berubahnya ruang publik digital.
Saya sendiri pernah berniat membuat akun kedua. Namun setelah dipikir lagi, saya mengurungkan niat tersebut. Bukan karena tidak membutuhkan ruang itu, melainkan karena saya sadar akun kedua hanya memindahkan kelelahan ke tempat lain, bukan menghilangkannya.
Kalau jujur, mungkin saya juga sudah terlalu lelah bahkan untuk berpura-pura di akun pertama. Pikiran itu membuat saya bertanya apakah masalahnya benar-benar terletak pada tidak adanya akun kedua. Atau justru pada ruang digital yang membuat banyak orang merasa harus menyaring dirinya sendiri sebelum tampil di hadapan publik.
Hari ini kita memang hidup di zaman yang membuat kita bisa terhubung dengan ratusan orang hanya lewat satu layar kecil. Namun pada saat yang sama, kita juga hidup di zaman yang membuat banyak orang takut menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Tidak semua hal terasa aman untuk dibagikan ketika begitu banyak mata ikut mengawasi.
Yang muncul akhirnya bukan kehidupan yang utuh, melainkan bagian-bagian yang sudah dipilih dengan hati-hati. Kita menunjukkan momen bahagia, tetapi menyimpan kegagalan. Kita membagikan pencapaian, tetapi menyembunyikan kelelahan.
Mungkin itu sebabnya akun-akun kedua terus bermunculan. Bahkan mungkin bukan hanya akun kedua, melainkan akun ketiga, keempat, dan seterusnya. Sebab yang sedang kita lihat bukan sekadar bertambahnya jumlah akun, melainkan semakin banyaknya ruang yang diciptakan untuk menyimpan bagian-bagian diri yang berbeda.
Pada akhirnya, mungkin masalahnya bukan pada akun kedua. Masalahnya, semakin banyak orang merasa harus menyembunyikan sebagian dirinya agar tetap diterima oleh orang lain. Kejujuran tidak hilang, tetapi perlahan berpindah ke ruang yang lebih tersembunyi.
Selama perasaan itu masih ada, akun kedua akan terus menjadi tempat berlindung. Tempat orang bisa sedikit lebih jujur ketika akun utamanya terasa terlalu ramai untuk menerima kejujuran tersebut. Dan mungkin, pertanyaan yang lebih penting bukan mengapa orang memiliki banyak akun, melainkan mengapa satu akun saja tidak lagi terasa cukup untuk menjadi diri sendiri.
Artikel ini diproduksi atau disusun dengan bantuan teknologi kecerdasan buatan (AI) untuk membantu mencari referensi. Ide tulisan, fakta, data, dan informasi di dalamnya telah melalui proses verifikasi dan penyuntingan redaksi.




















