07/07/2026
History Issues Opini Politics & Society

Kita Berutang Lebih dari Sekadar Sanggul pada Kartini 

Perayaan Hari Kartini sering diisi simbol budaya seperti kebaya dan lomba domestik. Sebagai perempuan Jawa, saya tegas menolak ritual macam itu.

  • March 11, 2026
  • 4 min read
  • 758 Views
Kita Berutang Lebih dari Sekadar Sanggul pada Kartini 

Saat ini memang masih Maret, tetapi April sudah di depan mata. Seperti setiap tahun, berbagai organisasi dan komunitas perempuan biasanya mulai bersiap mengadakan lomba untuk memperingati Hari Kartini

Sebagai perempuan Jawa, sorry to say, saya merasa perlu mengatakan satu hal: Bentuk perayaan seperti itu seharusnya mulai dipertanyakan. Saya bahkan sering membayangkan, jika Kartini masih hidup hari ini, mungkin ia akan sedih melihat perjuangannya ditafsirkan sedemikian dangkal. 

Hari Kartini kerap membuat perempuan mendadak menjadi perempuan Jawa. Mendadak berkebaya putih dan berkain. Dalam praktiknya saya juga sering mendengar keluhan tentang kain yang terasa ribet dan menghambat aktivitas sehari-hari. 

Di banyak tempat, peringatan ini juga berubah menjadi ajang lomba memasak di halaman. Kompor portable dikeluarkan, lalu diadakan lomba tumpeng atau berbagai kompetisi lain yang seolah menegaskan kegiatan “khusus perempuan”. 

Simbol-simbol ini sebenarnya tidak sepenuhnya keliru. Kartini memang lahir sebagai perempuan Jawa, tumbuh dalam lingkungan priyayi Jawa, dan hidup dalam tradisi yang sangat kuat mengatur perilaku perempuan. Namun ketika perayaan hanya berhenti pada kebaya, kain, dan lomba domestik, pemikiran Kartini sendiri justru sering terlewat dari pembicaraan. 

Baca juga: #HariKartini2025: Mengepal Mawar Berduri, Menjadi Kartini di Era Digital

Perempuan Jawa yang Berpikir Merdeka 

Dalam surat kepada Mevrouw Ovink-Soer, Agustus 1900, Kartini bercerita tentang kunjungannya pada Juni kepada Tuan Piet Sijthoff, Residen Semarang. Ia secara konsisten menentang rencana Kartini untuk belajar di Eropa dan mendukung proposal Abendanon agar Kartini menjadi guru. 

Mereka (Kartini dan adik-adiknya, pent) seharusnya dilahirkan sebagai anak laki-laki; mereka bisa berkembang menjadi anak laki-laki yang baik’ — kami mendengarnya sampai ad nauseam (sampai muak, pent). Jika memang benar bahwa kita memiliki karakteristik dalam diri kita yang menjadikan diri kita seorang pemuda baik, mengapa kita tidak mendapatkan keuntungan dari itu untuk berkembang menjadi PEREMPUAN KUAT yang baik? … Dan bukankah perempuan muda yang baik akan berguna bagi masyarakat?” 

Dari kutipan ini terlihat bagaimana pemikiran Kartini dianggap lebih cocok dimiliki laki-laki. Namun Kartini justru menegaskan perempuan juga berhak berpikir seperti laki-laki. 

Kartini tidak menonjolkan keanggunan berkebaya sebagai inti perjuangannya. Ia bahkan tidak setuju jika perempuan harus menunduk dan tidak boleh menatap lawan bicara. Dalam tradisi feodal Jawa pada masa itu, sikap seperti ini dianggap tidak pantas bagi perempuan. 

Di titik inilah identitas Kartini sebagai perempuan Jawa menjadi menarik. Ia tidak menolak dirinya sebagai orang Jawa. Ia tetap hidup di dalam budaya itu. Namun ia juga mempertanyakan aturan-aturan yang membuat perempuan tidak memiliki ruang berpikir dan belajar. 

Pertanyaan yang kemudian muncul sederhana: Kenapa pada Hari Kartini kita justru jarang banget mengeksplorasi pola pikirnya? 

Sudahkah cara berpikir kita selaras dengan apa yang diperjuangkan Kartini? Sudahkah kita memahami pendidikan sebagai hak setiap orang? 

Pertanyaan lain juga muncul: Sudahkah kita membersihkan “debu-debu feodal” dalam diri kita? Sudahkah kita membersihkan rasa “saya lebih unggul daripada perempuan lain”? 

Saya menulis kalimat terakhir itu karena merasa prihatin dengan tren TikTok yang dimulai dengan “Aku pakai abczyz ini aja kamu sudah kalah” dengan konteks merendahkan perempuan lain. Untuk apa semua itu? 

Baca juga: #HariKartini2025: Tubuh Perempuan dan Hak yang Tak Pernah Diajarkan

Lalu Bagaimana Seharusnya? 

Kartini tidak sempat melihat sekolahnya berkembang besar. Ia juga tidak sempat menjejakkan kaki di sekolah medis yang diimpikannya. Namun hari ini kita memiliki kesempatan tersebut. Kita memiliki akses informasi yang sangat luas, sesuatu yang dulu ia perjuangkan melalui surat-suratnya. 

Edukasi bukan sekadar gelar di belakang nama. Edukasi juga tentang bagaimana seseorang menggunakan akal budi untuk memanusiakan manusia lain. 

Karena itu terasa ironis jika kita memakai identitas Kartini tetapi masih menggunakan lisan untuk saling menjatuhkan di media sosial. 

Saya menulis ini sebagai perempuan yang mencintai literasi, yang mengabdikan diri di dunia medis dan edukasi. Bagi saya, pilihan berkebaya putih setiap hari bukan soal janji batin yang heroik. 

Kain dan kebaya adalah pengingat sederhana bahwa kita tidak membutuhkan banyak pakaian untuk menghargai diri sendiri dan orang lain. 

Sebagai perempuan Jawa, saya tidak merasa sulit menemukan identitas. Saya hanya memilih pulang kembali ke akar saya. 

Jangan biarkan perjuangan Kartini berakhir menjadi sekadar parade busana musiman. Jadilah perempuan yang kuat, yang berdaulat atas pikirannya sendiri, dan yang paling penting menjadi perempuan yang tahu cara mendukung perempuan lain untuk bangkit. 

Sudah siapkah kita menjadi Kartini yang sesungguhnya? 

Ratna Hermawati adalah dokter dan praktisi edukasi yang menaruh minat besar pada isu literasi dan sejarah pemikiran perempuan. 

About Author

Ratna Hermawati