03/06/2026
Culture Korean Wave Opini

Menikmati K-pop dengan ‘Queer-Coded’: Keberanian ‘Idol’ vs Keheningan Fans

Saat ‘idol’ mulai bicara identitas dan inklusi, kenapa banyak fans tetap diam atau malah kecewa? Membaca paradoks “queer-coded” di K-pop.

  • February 26, 2026
  • 6 min read
  • 1891 Views
Menikmati K-pop dengan ‘Queer-Coded’: Keberanian ‘Idol’ vs Keheningan Fans

Pada 6 Desember 2025, salah satu anggota grup Jepang XG, Cocona, mengumumkan bahwa dirinya telah menjalani operasi tubuh bagian atas (top surgery) dan mengidentifikasi diri sebagai transmasculine non-binary. Dalam pengumuman di akun Instagram resmi @xgofficial, Cocona juga membagikan perjalanan yang tidak mudah dalam menerima diri. Ia menyebutnya sebagai “pintu baru” dalam hidup serta berterima kasih atas dukungan orang-orang terdekat.

Respons pun datang cepat. Komunitas LGBTQIA+ dan sebagian fans memberi dukungan. Namun karena XG juga punya pasar besar di ekosistem K-pop, warganet Korean (Knetz) menunjukkan reaksi beragam. Berita ini meledak, memicu ribuan komentar yang terbelah. Ada yang menyebutnya berani, mengingat industri hiburan, terutama K-pop, masih konservatif. Ada juga yang bereaksi negatif. Di Indonesia, ketika pengumuman ini diangkat media lokal, kolom komentar justru dipenuhi kekecewaan dan cibiran.

Korea Selatan sebelumnya juga punya idol yang berani melela, yaitu Holland, yang bahkan pernah mengalami serangan oleh seorang laki-laki memanggilnya “dirty gay”. Hal ini mengingatkan kita bahwa penerimaan publik masih jauh dari stabil. Dan ini bukan cuma soal Korea. Di Indonesia, respons publik terhadap isu LGBTQIA+ juga kerap terbelah antara dukungan, rasa ingin tahu yang setengah hati, sampai penolakan terang-terangan.

Padahal, melela atau coming out bukan hanya pengumuman personal, tetapi sikap tegas dalam menyatakan identitas diri. Ini tentang bagaimana seseorang merasa nyaman dengan identitasnya sekaligus meningkatkan kesadaran akan hak-hak LGBTQIA+.

Baca juga: Lara KATSEYE Sampai Cocona XG: Di Balik Idol Coming Out dan Industri K-Pop yang Queerfobia

“Mono” dan langkah setengah maju industri

Tak lama setelah pengumuman Cocona, girl group favorit saya, i-dle (dulu (G)-Idle), merilis single “Mono” pada 27 Januari 2026, berkolaborasi dengan skaiwater. Dari liriknya, “Mono” bicara tentang dunia yang sering memaksa kita melihat segalanya secara hitam-putih. Tapi di tengah dunia yang “mono”, lagu ini menegaskan bahwa pada akhirnya cintalah yang seharusnya menang melampaui label, kategori, dan batas identitas.

Salah satu bagian yang paling ramai dibahas adalah penyisipan kata “gay”:

“You’re from the right
Or from the left
Whether East or West
Whether straight or gay
Every day and night
Dance to your real vibe
Turn the effects down
Let it all fade out, play the whole world in Mono.”

Para penggemar global menilai ini langkah yang cukup berani, karena penyebutan orientasi seksual secara eksplisit masih jarang muncul di rilisan idol arus utama. Tapi menariknya, pada versi fanchant alias seruan di kala konser, kata tersebut tidak ikut disebutkan. Seolah ada pesan tak tertulis bahwa bahkan ketika lirik mulai membuka ruang, menyebutnya lantang di ruang publik tetap dianggap sensitif.

Dan memang, lirik “whether straight or gay” sendiri masih sederhana, bahkan cenderung dikotomis, seolah hanya ada dua kategori yang saling berseberangan, padahal spektrum identitas queer jauh lebih luas. Tapi mungkin justru di situlah kita bisa membaca peta industrinya. K-pop sedang bergerak, tapi sering baru berani setengah langkah dengan memberi kode, memberi sinyal, tapi belum sepenuhnya lepas dari rem.

Di bagian setelah bridge yang dinyanyikan Shuhua, Minnie, dan Miyeon (sekitar menit 2.09), video musik yang semula hitam-putih berubah menjadi berwarna setelah muncul dialog:

“So, how do you identify?”
“I identify as she/her.”
“I identify as he/him.”
“Cool. I don’t personally know any theys but, I mean,
I think it’s important to just be yourself.”
“For sure. When you love yourself, you can love everyone”

Bagian ini menyentuh banyak pendengar, terutama kelompok queer, karena secara halus menunjukkan posisi penulis lagu sebagai ally atau sekutu yang mengakui keberagaman identitas, sambil menegaskan pentingnya menerima diri sendiri. Bahasanya masih “aman” dan mudah dipahami publik luas, tapi tetap terasa sebagai pernyataan bahwa identitas bukan lelucon, bukan tren, dan bukan sesuatu yang harus disembunyikan.

Baca juga: Artis Barat Mulai Diternak Jadi Bintang K-Pop

Queer-coded, “tomboy”, dan pertanyaan untuk fandom

Sebenarnya, i-dle sudah lama menyentuh tema serupa. Jeon Soyeon—penulis lirik, produser, sekaligus leader i-dle—berulang kali bermain di wilayah identitas, ambiguitas gender, dan kritik norma. Pada 2020, i-dle merilis “Oh My God” dengan konsep goddess yang kuat dan lirik yang queer-coded:

“Oh my God
She took me to the sky
Oh my God
She showed me all the stars”

Pada 2022, Tomboy, yang juga diproduseri Soyeon, melejit dengan pesan tentang perempuan yang bebas menjadi apa pun tanpa harus tunduk pada standar feminin yang sempit. Saya sendiri baru benar-benar menyadari maknanya ketika seorang teman menyebut saya “tomboy” hanya karena saya bersikap cuek, tidak jaim, dan tidak berusaha tampil manis di depan laki-laki. 

Belakangan saya sadar, label “tomboy” sering kali bukan sekadar soal penampilan. Ia juga cara halus untuk menertibkan perempuan yang dianggap tidak patuh pada standar “perempuan baik” ala patriarki. Di outro “Tomboy”, i-dle bahkan menegaskan:

“It’s neither man nor woman
Man nor woman
It’s neither man nor woman
Just me, I-DLE”

Kalau dibaca sebagai konteks budaya pop, ini bukan cuma “gimmick”. Ini sinyal keberanian atau minimal upaya untuk mendorong batas. Dan di industri K-pop yang sangat dikurasi, langkah seperti ini tidak pernah benar-benar tanpa risiko. Agensi bisa saja menahan, menyesuaikan, atau menghindari hal-hal yang dianggap bisa mengganggu pasar.

Baca juga: K-Pop dan Ekonomi Global: Idola Baru, Harapan Baru

Di sini pertanyaan yang mengganggu saya muncul. Kalau idol sudah berani (meski kadang lewat estetika atau bahasa yang masih aman), kenapa banyak dari kita sebagai penikmat justru memilih diam? Kenapa kita nyaman menikmati “queer-coded”—menikmati ambiguitas, shipping, dan fan service—tapi gagap ketika ada pernyataan yang lebih jelas, atau ketika ada idol yang benar-benar menyatakan identitasnya?

Karena faktanya, sebagian besar masyarakat masih homofobik. Dan itu terasa di mana-mana, dari Korea Selatan hingga Indonesia. Kita sering melihat orang menikmati dinamika antar anggota boy group atau girl group, bahkan ikut merayakan narasi “dekat banget”, “chemistry”, “soulmate”. Namun ketika idol benar-benar berpihak, atau coming out, yang muncul justru kekecewaan. Tak jarang publik malah lega ketika idol menegaskan dirinya straight, seolah itu kabar baik yang menutup semua kemungkinan.

Buat saya, ini terasa munafik. Karyanya dinikmati, bahkan dijadikan identitas fandom, tapi identitas manusianya ditolak. Seolah-olah idol hanyalah karakter fiksi, sekadar tontonan, bukan manusia nyata dengan tubuh, rasa takut, keluarga, kontrak kerja, dan risiko sosial.

Mengapresiasi karya seharusnya tidak berhenti pada streamingvoting, atau membeli album. Kalau pesan yang kita nikmati adalah kebebasan menjadi diri sendiri, maka apresiasi juga menuntut sikap dengan berdiri di sisi nilai yang sama dengan yang kita tepuki di lagu. Minimal, tidak ikut menambah beban lewat komentar merendahkan. Minimal, tidak ikut merayakan “queer-coded” sambil menolak orang queer yang nyata.

About Author

Ais Fahira