13/06/2026
Issues Politics & Society

Upaya Pembunuhan Mahasiswi UIN Suska Riau: Ada Masalah Lebih Besar di Balik Narasi “Cinta Ditolak”

Seorang mahasiswi UIN Suska Riau dibacok di kampus oleh mahasiswa lain. Narasi “cinta ditolak” menutupi masalah lebih besar dari tragedi ini.

  • February 27, 2026
  • 2 min read
  • 3729 Views
Upaya Pembunuhan Mahasiswi UIN Suska Riau: Ada Masalah Lebih Besar di Balik Narasi “Cinta Ditolak”

Peringan pemicu: Berita ini mengandung cerita kekerasan, upaya pembunuhan, dan dugaan upaya femisida

Seorang mahasiswi Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Kasim Riau berinisial FAP dibacok oleh seorang mahasiswa lain di lingkungan kampusnya sendiri pada Kamis, 26 Februari. Peristiwa itu terjadi saat korban tengah menjalani sidang tugas akhir. Pelaku, RM, kini telah ditetapkan sebagai tersangka.

Penyerangan dilakukan di area kampus UIN Suska Riau, Pekanbaru. Korban mengalami luka di bagian punggung, lengan, dan kepala, dan harus menjalani serangkaian operasi di RSUD Arifin Ahmad. Sementara itu, tersangka diamankan dan menjalani proses hukum, termasuk pemeriksaan kejiwaan sebagai bagian dari penyidikan.

“Dini hari tadi korban telah melakukan sejumlah rangkaian operasi karena luka punggung, lengan, dan kepala di RSUD Arifin Ahmad,” ujar Kepala Bidang Humas Polda Kepulauan Riau Zahwani Pandra Arsyad, saat dihubungi Magdalene (27/2).

Baca juga: Yang Tak Terlihat dari Kematian Terapis Anak di Panti Pijat Laki-Laki Dewasa

Berdasarkan keterangan kepolisian, pelaku diduga telah merencanakan aksi tersebut sejak dari rumah dengan membawa senjata tajam berupa parang dan kapak. Keduanya diketahui saling mengenal sejak mengikuti program Kuliah Kerja Nyata (KKN) dalam kelompok yang sama. Hubungan keduanya sempat berlanjut sebelum akhirnya korban memutuskan hubungan, diduga karena ingin fokus menyelesaikan studi. Polisi menyebut pelaku tidak terima atas keputusan tersebut dan merasa diabaikan.

Namun, penyederhanaan kasus ini sebagai persoalan “cinta ditolak” menuai kritik. Aktivis perempuan Tyas Widuri menilai narasi tersebut berisiko menutupi persoalan yang lebih mendasar, yakni relasi kuasa yang timpang dan normalisasi agresi laki-laki terhadap perempuan dalam budaya patriarki.

Menurut Tyas, framing seperti “emosi sesaat” atau “masalah pribadi” mengaburkan fakta bahwa kekerasan terjadi ketika seorang perempuan menggunakan haknya untuk menolak. Ia menegaskan bahwa kekerasan terhadap perempuan bukan sekadar konflik interpersonal, melainkan pelanggaran hak asasi manusia yang berakar pada kegagalan sistem dalam membangun kesetaraan dan menjamin keamanan perempuan di ruang pendidikan.

Baca juga: Femisida Mojokerto: Mengapa Tak Bisa Disebut Sekadar Kriminalitas

Tyas juga mendesak pihak kampus segera mengimplementasikan Permendikbud Ristek No. 55 Tahun 2024 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan di Perguruan Tinggi. Ia menilai langkah tersebut penting untuk memastikan tragedi serupa tidak terulang.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana ruang pendidikan yang seharusnya aman justru dapat menjadi lokasi kekerasan. Lebih dari sekadar kisah hubungan yang berakhir, peristiwa ini menyoroti kerentanan perempuan ketika menyatakan penolakan—sebuah situasi yang dalam konteks budaya patriarki kerap berujung pada kekerasan, bahkan femisida.

Ilustrasi oleh Karina Tungari

About Author

Ahmad Khudori

Ahmad Khudori adalah seorang anak muda penyuka kelucuan orang lain, biar terpapar lucu.